Independence day


In less than an hour, aircraft from here will join others from around the world. And, you will be launching the largest aerial battle in the history of mankind. “Mankind,” that word should have new meaning for all of us today. We can’t be consumed by our petty differences anymore. We will be united in our common interest. Perhaps, it’s fate that today is the Fourth of July, and you will once again be fighting for our freedom–not from tyranny, oppression, or persecution, but from annihilation. We’re fighting for our right to live–to exist. And, should we win the day, the Fourth of July will no longer be known as an American holiday, but as the day when the world declared in one voice: “We will not go quietly into the night. We will not vanish, without a fight. We’re going to live on. We’re going to survive. Today, we celebrate our Independence Day!”

In the [not very far] past

Sudah cukup lama foto ini ingin saya pampang di sini. Apa daya, penyakit lupa masih saja sampai kini saya derita. Jangankan foto, ujian akhir saja bisa lupa 🙂 Foto ini adalah kondisi yang belum terlalu lama terjadi. Tepatnya tahun 1995, dua belas tahun yang lalu ketika saya datang dari Jakarta dan beberapa kota lain di Jawa dalam rangka study tour. Yang menarik mungkin bukan pose atau kapan terjadinya, tetapi latar belakang fotonya. Banyak kawan, ketika saya tunjukkan foto aslinya, menyangka itu tiruan atau diambil di studio 🙂 Bukan, ini bukan studio. Ini asli sli sli sli (ber-echo seperti kata Padyangan Project). Beginilah hidup saya in the [not very far] past 🙂 Tinggal di tempat yang tidak ada listriknya, berdinding gedeg dan saya harus sekolah di salah satu SMA terbaik di Bali. Ini adalah kisah lain dari hidup yang tidak mudah untuk dilupakan. Bukan karena di sana ada penderitaan tetapi karena di sana ada pembelajaran. I miss the past.

Raden Gaul Kartini

Ada kabar dari kampus, dua orang alumni muda mendapat predikat cum laude dalam periode wisuda yang lalu. Yang menarik, keduanya adalah alumni perempuan. Kabar lain datang dari sebuah bank besar di negeri ini, sangat banyak kepala cabangnya adalah perempuan. Demikian seterusnya, berbagai kabar tentang keberhasilan prempuan sering kita dengar. Apakah ini pertanda cita-cita Kartini perihal emansipasi telah tercapai? Benarkah sesungguhnya perempuan kini mencapai kedudukan yang sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki?

Saya justru punya pertanyaan lain. Apakah benar lelaki itu pernah lebih hebat dari perempuan dan menjadi penguasa yang seutuhnya? Benarkah dalam sebuah jaman, lelaki memang pernah dengan leluasa menindas perempuan dalam hidupnya? Apa arti penindasan sebenarnya?

Apakah isu bahwa perempuan Bali rajin bekerja dan bekerja lebih lama dibandingkan pria Bali adalah bentuk penindasan laki-laki atas perempuan? Bisa jadi ya. Tetapi lelaki mana yang dimaksud? Saya? Nanti dulu kalau yang dimaksud adalah saya. Bisa jadi saya tidak hanya menindas tetapi juga menindih perempuan Bali. Ini [mungkin] adalah keniscayaan.

Apakah kenyataan bahwa perempuan muslim tidak boleh menjadi imam dalam persembahyangan adalah bentuk diskriminasi terhadap perempuan? Nanti dulu. Coba tanyakan kepada Hj. Komariah yang sedemikian sayangnya terhadap suami dan anaknya, apakah beliau merasa terdiskriminasi karena tidak boleh jadi imam. Saya pernah bertanya dan beliau menjawab dengan tersenyum. Saya baru menyadari pertanyaan bodoh itu.

Lalu kapan sebenarnya perempuan pernah tertindas oleh laki-laki? Apakah saat perempuan tidak punya pilihan harus menjadi pemuas nafsu prajurit pria pada zaman perang? Atau saat ribuan selir dipersembahkan kepada raja dan dinikmati hanya sesaat kemudian ditinggalkan? Atau saat Men Koplar di Desa Baliaga yang harus bangun lebih pagi dan tidur jauh lebih malam dari suaminya? Itukah pertanda penindasan? Barangkali Anda dan saya benar telah menduga ini sebagai penindasan. Tetapi bisa jadi ini adalah lambang kekuatan, ketabahan, dan kegigihan. Perempuan, dalam konteks ini mungkin tidak pernah tertindas. Merekalah yang ,jangan-jangan, justru telah memenangkan dirinya atas kesombongan laki-laki.

Yang terang, penindasan terjadi saat ada kesadaran. Penindasan terjadi saat ada pembanding kejadian. Penindasan terjadi saat ada perjuangan. Penindasan terjadi saat ada keinginan dari luar. Saat itulah penindasan itu ada, setidaknya dirasakan.

Mungkin saya tidak perlu mendukung perjuangan Kartini karena kenyataannya Kartono seperti saya pun masih sering malu, kalah dan bertekuk lutut pada perempuan. Bukan hanya Kartini, Kartono pun masih perlu dibela, saya kira.

Kekhawatiran yang sirna

Seorang kawan baik selalu menasihatkan “jangan khawatir!” kepada saya ketika, karena sesuatu, saya panik. Seperti tidak ada yang meragukan kebijaksanaan dan ketulusannya, nasihat itu dinobatkan sebagai wejangan nomor satu di jagat persahabatan. Ucapan “jangan khawatir” sering menjadi tanda kepedulian seorang kawan.

Tetapi, dalam perjalanan yang dipenuhi tantangan dan keterdesakan, saya sering kali merindukan kekhawatiran. Kehilangan kekhawatiran berarti kehilangan energi untuk menyelesaikan sesuatu. Sirnanya kekhawatiran berarti hilangnya ketakutan dan hilangnya rasa bersalah atas perbuatan dosa. Hilangnya kekhawatiran bisa juga berarti kaburnya nilai-nilai mulia karena penindasan terhadapnya sama saja dengan sikat gigi. Tanpa kekhawatiran, seorang peneliti lupa menyelesaikan laporannya, tanpa kekhawatiran, seorang mahasiswa lupa belajar untuk ujiannya. Tanpa kekhawatiran, seorang ibu muda berselingkuh dengan sahabat suaminya. Tanpa kekhawatiran, anak seorang dokter bisa saja kekurangan gizi.

Saya ingin tetap memelihara kekhawatiran ini, setidaknya agar agar ada orang yang terhibur dengan kepanikan saya.

Jalan Kaki

Di Kerajaan antah berantah yang bernama Kemalasan, jalan kaki bukan pilihan yang hebat. Jalan kaki identik dengan rakyat yang jauh dari makmur, miskin dan menderita. Menunggang kuda dan burung besi adalah ciri peradaban dan kemajuan, begitu identitas kehormatan disandang.

Berbeda dengan itu, di kerajaan tetangga yang bernama Kesadaraan, jalan kaki menjadi pilihan biasa. Dia bahkan mencirikan kebijaksanaan dan kecendikiaan. Jalan kaki, setidaknya, adalah pilihan sehat.

Seorang umat bernama saya, yang baru saja beralih dari Kerajaan Kemalasan menuju Kerajaan Kesadaran, belum lama menyadari makna jalan kaki. Kakinya yang terbiasa nyaman harus menggaruk aspal dan tetap berpura-pura tak terganngu. Sang saya berjalan jauh, sejauh keinginannya.

Kepastian yang kutunggu – Gigi

CHORD GUITAR : kepastian yang kutunggu
[dari: gigi-kita.blogspot.com]

Kepastian yang Kutunggu
Song : Armand, Budjana, Hendy, Thomas
Lyrics : Armand Maulana

Intro(Am-F-C-G)

Am F C
DI BAWAH SINAR BULAN PURNAMA
G
KU MERENUNG
Am F C
SATU KISAH YANG KU JALANI
G
BERSAMAMU

Am F C
* KEINDAHAN DALAM BERCINTA
G
TIDAKLAH MUDAH
Am F C
CINTA MEMBUTUHKAN KETULUSAN
G
DAN PENGORBANAN

F
# SATU KEAGUNGAN CINTA
Dm
T’LAH TERPADAMKAN
F
MENGAPA SEMUA INI
G
HARUS TERJADI

Chorus :

Am
TANYA HATIMU
F
BENARKAH DIRIMU
C
MASIH MENCINTAI AKU
G
BUKANKAH DAHULU
Am
KAULAH YANG MENUNGGU
F
PERNYATAAN CINTA DARIKU
C
TANYA HASRATMU
G
BENARKAH DIRIMU
Am
MASIH MEMBUTUHKAN AKU
F
BILA T’LAH BERUBAH
C
BICARA PADAKU
G Am
KEPASTIANLAH YANG KUTUNGGU

Back to : *, # & Chorus

Interlude

Chorus

Kebebasan Finansial

https://i0.wp.com/www.detrick.army.mil/wellbeing/familyReadiness/images/financial_freedom_guy.gifJika Anda bertanya apa arti kebebasan finansial kepada Robert Kiyosaki, jawabannya bisa jadi satu buku. Kalau Anda bertanya pada saya, jawabannya mungkin sederhana.

Ketika seorang PNS seperi saya tidak punya uang di tengah bulan untuk mengunjungi anak istri di Jakarta (saya tinggal di Jogja), saya mungkin akan merenung sebentar, menulis dan mengirimkannya ke Jakarta Post. Dua hari kemudian dimuat dan honornya cukup untuk tiket pesawat PP Jogja-Jakarta, airport tax dan oleh-oleh kecil untuk Lita. Itu kebebasan finansial. Mengapa bebas? Karena setelah itu memang saya “bebas” alias “tidak punya” finansial 🙂

Prof. Koesnadi: Sebuah Obituari

Ampunkan….

Alam sepertinya menggariskan aku untuk menjadi anak yang lalai pagi ini. Tidak sempat kusaksikan perjalananmu kali ini, yang ternyata untuk yang terakhir kali. Maafkan aku Ayah. Matahari seperti tidak ingin mempertemukan kita, pun hingga hari ini saat engkau tidak akan kembali. Kemalasan terlalu lama bercokol di sini hingga tak kusempatkan menyapa ketika engkau masih punya waktu. Kini terlambat sudah. Terlambat sudah dan habis sudah waktuku yang tidak pernah kugunakan dengan bijaksana. Engkau telah pergi dan tidak akan kembali seperti diharapkan anak cucumu. Haruskan aku marah pada pesawat yang menerbangkan dan menghempaskanmu dengan semena-semena? Haruskan aku
menghujat mereka yang memberitakanmu baik-baik saja tetapi ternyata engkau meregang nyawa? Haruskan aku sumpah serapahi teknologi yang serba cepat dan menbarkan virus kebohongan tentang keberadaanmu? Aku tidak tahu Ayah. Apapun yang aku lakukan, tidak satupun dari itu akan membawamu kembali padaku. Aku memilih untuk diam. Diam sambil meluapkan tangis yang kupendam jauh di dasar hati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ayah,
Cerita tentangmu terlalu banyak dan tidak bisa kuingat satu persatu. Aku pernah berhasrat akan menuliskan satu saja yang terbaik untuk mengantarkan kepergianmu. Ternyata aku gagal. Tidak ada cerita terbaik yang engkau punya. Semua sama. Sama dalam dan sama luas hingga aku tak sanggup memilih satu untuk kepergianmu hari ini. Barangkali tidak akan pernah cukup kata dan waktu jika harus kutuliskan semua, aku memilih untuk tidak menceritakannya. Kenangan orang-orang bersamamu dan cerita tentangmu telah menjadi akar dan urat serta darah dan daging bagi generasimu. Engkau bukanlah untuk dikenang, engkau untuk diteladani. Biarlah hati saja yang menilai dan kembali mewujudkannya menjadi nilai. Bagimu, alasan untuk dikenang bukanlan segalanya untuk melangkah jauh ke depan. Aku tahu itu.

Aku tahu, kepergianmu tidak akan sanggup memisahkanmu dariku karena di antara kita ada ikatan. Ada cinta yang kekuatannya abadi dan bahkan tidak sirna karena kematian. Engkau akan selalu hadir lewat ceramah-ceramah orang suci, juga lewat sapa sederhana pedagang jajan pasar di dudut jalan. Lewat teriak mahasiswa yang haus keadilan, lewat tangan-tangan yang direlakan kotor untuk menanam paru-paru alam. Kehadiranmu senantiasa niscaya, tidak saja lewat sesuatu yang besar tetapi juga yang kecil.

Pergilah ayah. Pergilah jauh menuju titik tertinggi, dari mana akan kaurestui perjalanan dan kaucermati perilaku kami. Tungganglah kuda sembrani itu yang dikhususkan bagi seorang pahlawan sepertimu. Helalah kencangnya menuju puncak tertinggi. Terima kasih telah mininggalkan panah dan busur untuk kami berburu. Karangan bunga ini adalah sayap untukmu mendekap orang-orang yang dikasihi dan meneteskan air mata melepas kepergianmu. Doa tulus generasimu adalah kekuatan untukmu
menuju sisi terbaik-NYA. Selamat jalan Ayah.

Seorang putra yang bangga.

The Lord of the Rings: Sebuah Alegori PhD?

Diterjemahkan bebas dari karya Dave Pritchard oleh I Made Andi Arsana

Kisah ini bermula dari cerita tentang Frodo: hobit muda yang cukup cerdas dan merasa sedikit kurang puas dengan apa yang telah dipelajarinya selama ini, termasuk atas pilihan teman-temannya di kampung halaman yang mementingkan bekerja dan bersenang-senang dengan minur bir. Dia juga merasa berhutang dengan mentor sekaligus gurunya,
Professor Gandalf yang sudah sedemikian senior. Maka ketika Gandalf menyarankannya untuk menangani sebuah proyek kecil (membawa cincin ke Rivendell), dia pun menyetujuinya.

Dalam waktu singkat, Frodo telah memasuki nuansa ketakutan dan depresi yang suram dan akhirnya menghantuinya di sepanjang perjalanan. Semua itu menyisakan bekas luka permanen di alam kesadarannya tetapi dia juga mendapatkan teman-teman baik dalam perjalanannya. Yang penting dicatat, dia sempat melewatkan suatu malam di sebua pub besama Aragorn, yang selama ini telah menjelajah dunia selama bertahun-tahun sebagai postdoc-nya Gandalf. Aragorn akhirnya menjadi pembimbing Frodo selama Gandaft tidak di tempat. Setelah Frodo berhasil menyelesaikan proyek pertamanya, Gandalf (bersama ketua jurusan, Elrond) menganjurkan agar proyek tersebut dikembangkan. Gandaf membentuk kelompok penelitian, yang terdiri dari mahasiswa tamu Gimli dan Legolas, postdoc asing Boromir, dan beberapa kawan S1 Frodo. Frodo pun setuju untuk menangani proyek yang lebih besar, meskipun sesungguhnya perasaannya tidak menentu (“‘Aku akan membawa cincin itu’, katanya, ‘meskipun aku tidak tahu jalannya.'”) Dalam waktu yang amat singkat, berbagai hal berjalan tidak sesuai rencana. Pertama, Gandalf menghilang dan tidak pernah lagi berinteraksi dengan Frodo bahkan sampai semuanya berakhir. (Frodo menganggap pembimbingnya telah mati: kenyataannya, Frodo kemudian menemukan topik lain yang lebih menarik dan akhirnya lebih memilih mengerjakan topik tersebut, bukan topik utama yang disepakatinya dengan Gandalf). Pada waktu Frodo menghadiri konperensi internasionalnya yang pertama di Lorien, Frodo mendapat pertanyaan kritis yang sangat menggentarkan hati dari Galadriel. Dia juga dikhianati oleh Boromir, yang sangat bernafsu untuk memperoleh penghargaan atas karya tersebut seorang diri. Frodo akhirnya memilih untuk memisahkan diri dari kelompok penelitiannya. Sejak saat itu, dia hanya mendiskusikan penelitiannya dengan Sam, seorang sahabat lama yang sesungguhnya tidak terlalu paham penelitian tersebut, tetapi dalam beberapa hal selalu memuji Frodo karena sedikit lebih pintar dari dirinya. Kemudian dia bergerak menuju Mordor.

Saat-saat terakhir yang paling suram dalam perjalanan Frodo adalah ketika dia menghadapi masa penulisan. Dia terseok-seok menuju Mount Doom (deadline penyerahan disertasi), menyadari bahwa bebannya bertambah berat seakan telah menjadi bagian dari dirinya; semakin dihantui oleh kegagalan; terbebani oleh adanya figur Gollum, mahasiswa yang membawa cincin sebelum dia dan terbukti tidak pernah berhasil menyelesaikan penulisan dan akhirnya tetap saja berkeliaran sebagai bayangan yang sudah usang dan penuh rasa iri. Frodo semakin sedikit berbicara, bahkan kepada Sam, sahabatnya. Ketika dia memasukkan cincin tersebut ke dalam api (menyerahkan disertasi), Frodo sesungguhnya tengah ada dalam kebingungan yang menjadi, bukan dalam keyakinan penuh. Dalam beberapa saat setelah itu, dunia terasa kosong.

Akhirnya selesai sudah: Cincin telah hilang, semua orang menyelamatinya, dan dalam beberapa hari dia berhasil meyakinkan dirinya bahwa berbagai persoalan telah selesai. Akan tetapi ada satu halangan lagi yang harus diselesaikannya: beberapa bulan kemudian, di Shire, dia harus mempertahankan karyanya di depan Saruman sebagai penguji eksternal (external examiner), musuh bebuyutan Gandalf, yang berusaha keras untuk menampik, menghina dan merusak bimbingan rivalnya. Dengan bantuan kawan dan koleganya, Frodo berhasil lolos dari ujian berat itu, tetai menyadari bahwa pada akhirnya keberhasilan dan kemenangan ini tidak menyisakan makna untuknya. Ketika kawan-kawannya kembali untuk hidup tenang dan mulai mencari pekerjaan termasuk menjalani kehidupan berumah tangga, Frodo tetap saja dalam persimpangan; akhirnya, bersama Gandalf, Elrond dan banyak rekan lainnya, dia memutuskan untuk bergabung dengan brain drain menyeberangi Samudera Barat menuju tanah baru yang entah di mana.

Sang Veteran itu Telah Berpulang

Malam sudah sangat larut ketika tubuh itu terbaring tenang setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Malam yang sepi dan dingin yang menyelimuti desa seaakan juga mendekap hati semua yang melepaskan. Adalah istri, anak, menantu, cucu dan buyut yang menjadi saksi kepergiannya. Pahlawan tua itu telah pergi. Sang Veteran itu akhirnya menutup mata untuk selamanya. Dia yang melewatkan hidup dengan nafas revolusi, kini terbujur kaku. Kepergiannya adalah apa yang berhasil ditundanya puluhan tahun yang lalu di medan laga.

Tidak terdengar isak tangis yang berlebihan, pun tidak ada jeritan pilu yang menghantarkan kepergiannya. Jelas bukan karena kepergiannya diharapkan. Bukan pula karena kehidupannya tidak diinginkan. Adalah karena perjuangannya sudah paripurna dan pengabdiannya yang sudah sampai pada titik terakhir yang wajar dicapai seorang pejuang. Kepergiannya yang tanpa tangis bukanlah karena dia tidak dicintai generasinya tetapi karena pengabdiannya yang memang telah usai. Generasi mengantarkan kepergiannya dengan kebanggaan yang tersimpan di dalam hati. Bahkan jauh di dalam ketertundukan mereka, ada senyum kemenangan yang dikulum. Senyum kebanggaan karena masih sempat mewarisi darah Sang Pemberani.

Pahlawan kami,
Tungganglah kuda sembrani itu. Terbanglah menuju langit yang terbentang luas, tempat dari mana akan kaulihat dan kaujaga generasimu. Keberanianmu yang bersahaja dan kepahlawananmu yang kautunjukkan dengan sederhana akan terwarisi oleh generasi ksatriamu. Kami tahu, kepergianmu tak akan sanggup memisahkanmu dari kami karena di antara kita ada cinta. Cinta yang bahkan tidak terhapuskan oleh kematian. Semangatmu akan hadir dan tetap ada bersama semangat para penggembala sapi yang mewarisi kegigihanmu. Keteladannmu akan hadir melalui semangat orang-orang tua yang tidak berhenti bekerja meskipun sakit dan terjepit. Akan terasa pelajaran darimu lewat matahari yang terbit setiap pagi, lewat lenguhan sapi yang hidup karena jasa orang-orang sepertimu dan lewat canda itik bercengkrama menikmati biah-biah buah tangan tetua-tetua bersahaja sepertimu.

Canang sari ini adalah bekal perjalananmu melewati lorong yang panjang. Sampian dan ceniga ini adalah sayap untukmu terbang menuju tempat tertinggi dari mana akan kauhidupi kami dengan cinta abadimu. Terbanglah tinggi wahai pahlawanku, kelak akan kami susul langkahmu dengan kebanggaan yang mungkin belum berhasil kauraih. Seandainya masih tersisa sedikit waktu untukku, akan kucium telapak kakimu dan lirih berucap maaf. Selamat jalan pahlawanku.

Bekasi, 24 Februari 2007- 23:53 WIB
Seorang Cucu yang bangga dan kini terbang tinggi