Cinta ditolak Google Bergerak

Pengunjung yang budiman,
Kalau Anda cukup rajin berkunjung ke sini dan merupakan pengunjung sejak lama, pasti Anda masih ingat dengan beberapa posting saya tentang Pak Google. Tahun 2004, misalnya saya menulis Tanyakan kepada Pak Google, kemudian Satu lagi dari Pak Googleada juga Biarkan Pak google menemukan Anda, selanjutnya ada Define: Google, dan sebagainya.

Saya mendapat banyak komentar tentang beberapa tulisan tersebut dari mereka yang terbantu dengan informasi fitur-fitur Google yang ternyata belum begitu populer. Dalam berinteraksi dengan banyak orang, baik itu sesama dosen, mahasiswa maupun profesional, saya juga melihat banyak pengguna internet belum memanfaatkan Pak Google dengan maksimal. Oleh karena itu, saya mencoba mendokumentasikan pengetahuan saya tentang Google dan menjadikannya sebuah buku. Bersama Atriyon Julzarika, waktu itu mahasiswa saya, buku tentang Google pun berhasil kami wujudkan.

Senang sekali ketika Elexmedia menyatakan bersedia menerbitkannya. Buku itu kini sudah bisa dinikmati di pasar sejak 10 Mei 2007. Saya yakin, pembaca sekalian sudah tahu banyak tentang Google tetapi percayalah, banyak hal yang akan menambah pemahaman Anda. Buku ini layak dimiliki. Maaf ada nada promosi di sini. Jangan salah sangka, ini memang promosi he.he..he..
Silahkan lihat juga review dan daftar isi-nya. Selamat membaca!

Orang biasa

Sudah cukup lama saya percaya bahwa tidak ada orang yang sempurna. Sudah cukup lama juga saya tahu bahwa kesalahan bisa dilakukan oleh siapa saja dan dalam bentuk apa saja. Kewibawaan, nama baik dan identitas khusus yang dimiliki seseorang tidak akan pernah bisa sepenuhnya menyelamatkannya dari kekhilafan. Singkat kata, kekhilafan milik siapa saja karena seperti kata orang bijak, manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

TETAPI…
Seperti yang lalu-lalu, keterkejutan adalah juga milik semua orang. Betapapun saya telah memuati diri dengan kesadaran bahwa kekhilafan adalah milik semua orang, keterkejutan ketika mengetahui seorang teladan melakukan kesalahan adalah juga keniscayaan. Saya masih terkejut ketika seorang pertapa ulung melakukan kenakalan dalam hidupnya.

Mudah-mudahan ini pertanda saya masih normal dan saya tetap dalah orang biasa.

Independence day


In less than an hour, aircraft from here will join others from around the world. And, you will be launching the largest aerial battle in the history of mankind. “Mankind,” that word should have new meaning for all of us today. We can’t be consumed by our petty differences anymore. We will be united in our common interest. Perhaps, it’s fate that today is the Fourth of July, and you will once again be fighting for our freedom–not from tyranny, oppression, or persecution, but from annihilation. We’re fighting for our right to live–to exist. And, should we win the day, the Fourth of July will no longer be known as an American holiday, but as the day when the world declared in one voice: “We will not go quietly into the night. We will not vanish, without a fight. We’re going to live on. We’re going to survive. Today, we celebrate our Independence Day!”

In the [not very far] past

Sudah cukup lama foto ini ingin saya pampang di sini. Apa daya, penyakit lupa masih saja sampai kini saya derita. Jangankan foto, ujian akhir saja bisa lupa 🙂 Foto ini adalah kondisi yang belum terlalu lama terjadi. Tepatnya tahun 1995, dua belas tahun yang lalu ketika saya datang dari Jakarta dan beberapa kota lain di Jawa dalam rangka study tour. Yang menarik mungkin bukan pose atau kapan terjadinya, tetapi latar belakang fotonya. Banyak kawan, ketika saya tunjukkan foto aslinya, menyangka itu tiruan atau diambil di studio 🙂 Bukan, ini bukan studio. Ini asli sli sli sli (ber-echo seperti kata Padyangan Project). Beginilah hidup saya in the [not very far] past 🙂 Tinggal di tempat yang tidak ada listriknya, berdinding gedeg dan saya harus sekolah di salah satu SMA terbaik di Bali. Ini adalah kisah lain dari hidup yang tidak mudah untuk dilupakan. Bukan karena di sana ada penderitaan tetapi karena di sana ada pembelajaran. I miss the past.

Raden Gaul Kartini

Ada kabar dari kampus, dua orang alumni muda mendapat predikat cum laude dalam periode wisuda yang lalu. Yang menarik, keduanya adalah alumni perempuan. Kabar lain datang dari sebuah bank besar di negeri ini, sangat banyak kepala cabangnya adalah perempuan. Demikian seterusnya, berbagai kabar tentang keberhasilan prempuan sering kita dengar. Apakah ini pertanda cita-cita Kartini perihal emansipasi telah tercapai? Benarkah sesungguhnya perempuan kini mencapai kedudukan yang sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki?

Saya justru punya pertanyaan lain. Apakah benar lelaki itu pernah lebih hebat dari perempuan dan menjadi penguasa yang seutuhnya? Benarkah dalam sebuah jaman, lelaki memang pernah dengan leluasa menindas perempuan dalam hidupnya? Apa arti penindasan sebenarnya?

Apakah isu bahwa perempuan Bali rajin bekerja dan bekerja lebih lama dibandingkan pria Bali adalah bentuk penindasan laki-laki atas perempuan? Bisa jadi ya. Tetapi lelaki mana yang dimaksud? Saya? Nanti dulu kalau yang dimaksud adalah saya. Bisa jadi saya tidak hanya menindas tetapi juga menindih perempuan Bali. Ini [mungkin] adalah keniscayaan.

Apakah kenyataan bahwa perempuan muslim tidak boleh menjadi imam dalam persembahyangan adalah bentuk diskriminasi terhadap perempuan? Nanti dulu. Coba tanyakan kepada Hj. Komariah yang sedemikian sayangnya terhadap suami dan anaknya, apakah beliau merasa terdiskriminasi karena tidak boleh jadi imam. Saya pernah bertanya dan beliau menjawab dengan tersenyum. Saya baru menyadari pertanyaan bodoh itu.

Lalu kapan sebenarnya perempuan pernah tertindas oleh laki-laki? Apakah saat perempuan tidak punya pilihan harus menjadi pemuas nafsu prajurit pria pada zaman perang? Atau saat ribuan selir dipersembahkan kepada raja dan dinikmati hanya sesaat kemudian ditinggalkan? Atau saat Men Koplar di Desa Baliaga yang harus bangun lebih pagi dan tidur jauh lebih malam dari suaminya? Itukah pertanda penindasan? Barangkali Anda dan saya benar telah menduga ini sebagai penindasan. Tetapi bisa jadi ini adalah lambang kekuatan, ketabahan, dan kegigihan. Perempuan, dalam konteks ini mungkin tidak pernah tertindas. Merekalah yang ,jangan-jangan, justru telah memenangkan dirinya atas kesombongan laki-laki.

Yang terang, penindasan terjadi saat ada kesadaran. Penindasan terjadi saat ada pembanding kejadian. Penindasan terjadi saat ada perjuangan. Penindasan terjadi saat ada keinginan dari luar. Saat itulah penindasan itu ada, setidaknya dirasakan.

Mungkin saya tidak perlu mendukung perjuangan Kartini karena kenyataannya Kartono seperti saya pun masih sering malu, kalah dan bertekuk lutut pada perempuan. Bukan hanya Kartini, Kartono pun masih perlu dibela, saya kira.

Kekhawatiran yang sirna

Seorang kawan baik selalu menasihatkan “jangan khawatir!” kepada saya ketika, karena sesuatu, saya panik. Seperti tidak ada yang meragukan kebijaksanaan dan ketulusannya, nasihat itu dinobatkan sebagai wejangan nomor satu di jagat persahabatan. Ucapan “jangan khawatir” sering menjadi tanda kepedulian seorang kawan.

Tetapi, dalam perjalanan yang dipenuhi tantangan dan keterdesakan, saya sering kali merindukan kekhawatiran. Kehilangan kekhawatiran berarti kehilangan energi untuk menyelesaikan sesuatu. Sirnanya kekhawatiran berarti hilangnya ketakutan dan hilangnya rasa bersalah atas perbuatan dosa. Hilangnya kekhawatiran bisa juga berarti kaburnya nilai-nilai mulia karena penindasan terhadapnya sama saja dengan sikat gigi. Tanpa kekhawatiran, seorang peneliti lupa menyelesaikan laporannya, tanpa kekhawatiran, seorang mahasiswa lupa belajar untuk ujiannya. Tanpa kekhawatiran, seorang ibu muda berselingkuh dengan sahabat suaminya. Tanpa kekhawatiran, anak seorang dokter bisa saja kekurangan gizi.

Saya ingin tetap memelihara kekhawatiran ini, setidaknya agar agar ada orang yang terhibur dengan kepanikan saya.

Jalan Kaki

Di Kerajaan antah berantah yang bernama Kemalasan, jalan kaki bukan pilihan yang hebat. Jalan kaki identik dengan rakyat yang jauh dari makmur, miskin dan menderita. Menunggang kuda dan burung besi adalah ciri peradaban dan kemajuan, begitu identitas kehormatan disandang.

Berbeda dengan itu, di kerajaan tetangga yang bernama Kesadaraan, jalan kaki menjadi pilihan biasa. Dia bahkan mencirikan kebijaksanaan dan kecendikiaan. Jalan kaki, setidaknya, adalah pilihan sehat.

Seorang umat bernama saya, yang baru saja beralih dari Kerajaan Kemalasan menuju Kerajaan Kesadaran, belum lama menyadari makna jalan kaki. Kakinya yang terbiasa nyaman harus menggaruk aspal dan tetap berpura-pura tak terganngu. Sang saya berjalan jauh, sejauh keinginannya.

Kepastian yang kutunggu – Gigi

CHORD GUITAR : kepastian yang kutunggu
[dari: gigi-kita.blogspot.com]

Kepastian yang Kutunggu
Song : Armand, Budjana, Hendy, Thomas
Lyrics : Armand Maulana

Intro(Am-F-C-G)

Am F C
DI BAWAH SINAR BULAN PURNAMA
G
KU MERENUNG
Am F C
SATU KISAH YANG KU JALANI
G
BERSAMAMU

Am F C
* KEINDAHAN DALAM BERCINTA
G
TIDAKLAH MUDAH
Am F C
CINTA MEMBUTUHKAN KETULUSAN
G
DAN PENGORBANAN

F
# SATU KEAGUNGAN CINTA
Dm
T’LAH TERPADAMKAN
F
MENGAPA SEMUA INI
G
HARUS TERJADI

Chorus :

Am
TANYA HATIMU
F
BENARKAH DIRIMU
C
MASIH MENCINTAI AKU
G
BUKANKAH DAHULU
Am
KAULAH YANG MENUNGGU
F
PERNYATAAN CINTA DARIKU
C
TANYA HASRATMU
G
BENARKAH DIRIMU
Am
MASIH MEMBUTUHKAN AKU
F
BILA T’LAH BERUBAH
C
BICARA PADAKU
G Am
KEPASTIANLAH YANG KUTUNGGU

Back to : *, # & Chorus

Interlude

Chorus

Kebebasan Finansial

https://i0.wp.com/www.detrick.army.mil/wellbeing/familyReadiness/images/financial_freedom_guy.gifJika Anda bertanya apa arti kebebasan finansial kepada Robert Kiyosaki, jawabannya bisa jadi satu buku. Kalau Anda bertanya pada saya, jawabannya mungkin sederhana.

Ketika seorang PNS seperi saya tidak punya uang di tengah bulan untuk mengunjungi anak istri di Jakarta (saya tinggal di Jogja), saya mungkin akan merenung sebentar, menulis dan mengirimkannya ke Jakarta Post. Dua hari kemudian dimuat dan honornya cukup untuk tiket pesawat PP Jogja-Jakarta, airport tax dan oleh-oleh kecil untuk Lita. Itu kebebasan finansial. Mengapa bebas? Karena setelah itu memang saya “bebas” alias “tidak punya” finansial 🙂

Prof. Koesnadi: Sebuah Obituari

Ampunkan….

Alam sepertinya menggariskan aku untuk menjadi anak yang lalai pagi ini. Tidak sempat kusaksikan perjalananmu kali ini, yang ternyata untuk yang terakhir kali. Maafkan aku Ayah. Matahari seperti tidak ingin mempertemukan kita, pun hingga hari ini saat engkau tidak akan kembali. Kemalasan terlalu lama bercokol di sini hingga tak kusempatkan menyapa ketika engkau masih punya waktu. Kini terlambat sudah. Terlambat sudah dan habis sudah waktuku yang tidak pernah kugunakan dengan bijaksana. Engkau telah pergi dan tidak akan kembali seperti diharapkan anak cucumu. Haruskan aku marah pada pesawat yang menerbangkan dan menghempaskanmu dengan semena-semena? Haruskan aku
menghujat mereka yang memberitakanmu baik-baik saja tetapi ternyata engkau meregang nyawa? Haruskan aku sumpah serapahi teknologi yang serba cepat dan menbarkan virus kebohongan tentang keberadaanmu? Aku tidak tahu Ayah. Apapun yang aku lakukan, tidak satupun dari itu akan membawamu kembali padaku. Aku memilih untuk diam. Diam sambil meluapkan tangis yang kupendam jauh di dasar hati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ayah,
Cerita tentangmu terlalu banyak dan tidak bisa kuingat satu persatu. Aku pernah berhasrat akan menuliskan satu saja yang terbaik untuk mengantarkan kepergianmu. Ternyata aku gagal. Tidak ada cerita terbaik yang engkau punya. Semua sama. Sama dalam dan sama luas hingga aku tak sanggup memilih satu untuk kepergianmu hari ini. Barangkali tidak akan pernah cukup kata dan waktu jika harus kutuliskan semua, aku memilih untuk tidak menceritakannya. Kenangan orang-orang bersamamu dan cerita tentangmu telah menjadi akar dan urat serta darah dan daging bagi generasimu. Engkau bukanlah untuk dikenang, engkau untuk diteladani. Biarlah hati saja yang menilai dan kembali mewujudkannya menjadi nilai. Bagimu, alasan untuk dikenang bukanlan segalanya untuk melangkah jauh ke depan. Aku tahu itu.

Aku tahu, kepergianmu tidak akan sanggup memisahkanmu dariku karena di antara kita ada ikatan. Ada cinta yang kekuatannya abadi dan bahkan tidak sirna karena kematian. Engkau akan selalu hadir lewat ceramah-ceramah orang suci, juga lewat sapa sederhana pedagang jajan pasar di dudut jalan. Lewat teriak mahasiswa yang haus keadilan, lewat tangan-tangan yang direlakan kotor untuk menanam paru-paru alam. Kehadiranmu senantiasa niscaya, tidak saja lewat sesuatu yang besar tetapi juga yang kecil.

Pergilah ayah. Pergilah jauh menuju titik tertinggi, dari mana akan kaurestui perjalanan dan kaucermati perilaku kami. Tungganglah kuda sembrani itu yang dikhususkan bagi seorang pahlawan sepertimu. Helalah kencangnya menuju puncak tertinggi. Terima kasih telah mininggalkan panah dan busur untuk kami berburu. Karangan bunga ini adalah sayap untukmu mendekap orang-orang yang dikasihi dan meneteskan air mata melepas kepergianmu. Doa tulus generasimu adalah kekuatan untukmu
menuju sisi terbaik-NYA. Selamat jalan Ayah.

Seorang putra yang bangga.