Many Good Men

[thanks to garry]

Judul tulisan ini bukan sebuah propaganda kelas bulu, bukan pula cerita nina bobo yang mungkin hanya terjadi di negeri dongeng. Ini benar-benar terjadi dan sayalah yang mengalaminya.

Anda ingin tahu? “Begini ceritanya” (Kismis, RCTI):

Senin, 1 November 2004 Pk. 5 pm plus

Saya menyadari hp saya tidak di tempatnya. Nokia kesayangan saya telah raib. Saya tidak terlalu panik karena hal semacam ini biasa terjadi. Cerita hp ketinggalan di rumah, nyelip di tas, ketinggalan di kampus, nangkring di jok mobil teman hingga ketinggal di tempat kerja bukan sesuatu yang baru. Saya masih berharap salah satu alternatif itu terjadi saat ini.

Selasa, 2 November 2004

Berbagai usaha dilakukan dan hasilnya: confirmed, Hp saya hilang!. Ada rasa sedih menghampiri. Bukan saja karena informasi yang tersimpan dalam di dalamnya, tapi karena hp itu bagi kami (saya dan Asti) sangat bersejarah. Bukan saja karena hp itu adalah barang pertama termahal yang saya hadiahkan untuk Asti [pada awalnya hp tersebut dipegang Asti], tapi yang lebih penting karena hp itu sangat mahal harganya. Anda bisa bayangkan, hp itu saya beli dengan gaji 2 bulan lebih!

Jangan terkejut dulu, ketika itu, sebagai dosen honorer, gaji saya lima ratus ribu lebih sedikit. Saya ulangi, Rp 500.000,- lebih sedikit setiap bulannya. Tapi walau demikian, jangan sangka saya menyesal apalagi cengeng dengan penghasilan segitu. Saya tetap meyakini, where there is a will there is a way! Artinya berakit-rakit dahulu berenang renang ke tepian 🙂 [ini namanya jaka sembung bawa gitar]

Maaf jadi ngelantur, kita kembali ke masalah hp yang hilang.

Rabu, 3 November 2004

Pk. 06.51 saya mencoba menghubungi hp dengan hp three. Surprisingly, connected. Berarti hp saya masih hidup, namun tidak ada yang menjawab. Saya menduga hp ini masih tergeletak di suatu tempat dan belum ada yang menemukan. Analisa saya, kalau ada yang menemukan dan bermaksud jelek (“jelek” dalam presepektif saya yang kehilangan), pasti hp tidak akan dibiarkan hidup. Kalau ada yang menemukan dan bermaksud baik, pasti panggilan saya dia jawab. Begitulah, saya sibuk menganalisa sendiri.

Pk. 07.37: Saya mengirim sms ke hp tersebut, sekerdar untuk berjaga-jaga kalau hp tersebut ditemukan orang. SMS saya berbunyi “hi there, the mobile in ur hand is mine. Please bi kind to return it to me 2/10 houston rd kensington. Ur kindness will be vr much appreciated.” Saya mengirimkan sms ini dengan pikiran nothing to lose. Kali-kali aja orang yang menemukan baik hati dan mau mengembalikan. Yang penting saya sudah berusaha.

Lama menunggu, tidak ada jawaban. Saya kembali putus harapan. Mungkin memang benar seperti dugaan saya, tidak ada yang menemukan hp tersebut.

Pk. 08.58: Terjadi keajaiban. Saya mendapat sms dari hp saya yang hilang dan bunyinya “Ok”. Sebuah pesan yang sangat singkat tapi menghadirkan harapan teramat besar. Saya bersemangat kembali. Mulai detik itu, saya meyakini ada orang yang menemukan hp saya dan dia adalah orang baik yang berniat mengembalikannya.

Beberapa lama setelah sms “ajaib” itu, saya mencoba menelpon. Anehnya, tidak ada jawaban. Hp saya bahkan mati. Mungkin sengaja dimatikan. Kembali, harapan saya menurun. Sepanjang siang, saya melupakan hp itu karena harus bekerja

Pk 4 pm plus saya menyedari kalau ada seseorang berusaha menghubungi saya melalui hp three. Dari nomornya, bukan hp, tapi telepon rumah (atau mungkin kantor). Karena saya sedang focus pada hp yang hilang, saya mencurigai orang yang mencoba menghubungi saya adalah orang yang menemukan hp saya yang hilang. Tanpa berpikir panjang, saya menelpon nomor yang tertera pada “missed call list”. “Hello, this is Toner Express, can I help you?” begitu suara di seberang. Saya kembali ragu-ragu. “I’ve got some calls from this number” saya mencoba berkomunikasi sekedarnya karena sudah terlanjur menelpon. Dengan mantap suara perempuan di seberang menjawab “I think one of our marketing staffs called you to offer you our products. It happens all the time” katanya menjelaskan. Lagi-lagi saya patah arang. Kembalinya si hp hilang kian menipis kemungkinannya. Untuk sekedar mengusir keputus asaan saya kembali mengirim sms dengan bunyi “thx for ur rply. if you don’t mind pls return the moile ASAP or if you can’t, pls let me know where to pick it up. Big thanks!”. Sebuah sms yang ‘percuma’, tidak mendapat respon sama sekali.

Kamis, 4 November 2004 Pk 08.42 am

Nomor yang kemaren menghubungi saya, menelpon lagi. Saya tidak sabar menjawab. “Hi, mate ‘ow ya goin?” suara khas logat OZ terdengar di seberang sana. “good mate, yourself?” saya mencoba menjawab walaupun tidak begitu yakin siapa yang menelpon. “Good. Did you lose your mobile?” sebuah pertanyaan yang melegakan terlontar dari lelaki di seberang. Maka demikianlah, saya baru saja ditelpon oleh orang yang menemukan hp saya. Setalah berbasa basi sejenak, kami mengatur pertemuan, saya akan mengambil hp itu di kantor Garry, orang yang menemukan hp saya, hari Senin 8 November 2004.

Tak terkatakan senangnya perasaan saya ketika itu. Yang terpenting, saya benar-benar terharu, masih ada orang sebaik Garry yang “bersusah payah” mengembalikan sebuah hp yang ditemukannya tak bertuan di pinggir jalan. Belakangan saya tahu kalau hp itu ternyata jatuh pada saat turun dari bus menuju tempat kerja yang kebetulan tidak jauh dari tempat kerja Garry di daerah Alexandria, Gardeners Road, NSW.

Saya bertanya kepada beberapa orang, imbalan apa yang patut saya berikan untuk Garry. Ada yang mengatakan tidak perlu, ada yang bilang uang, ada yang mengatakan ajak makan malam di rumah dll. Akhirnya saya memutuskan tidak memberi uang karena saya kira itu justru mengurangi nilai ketulusannya. Semoga saya tidak salah.

Senin 8 November 2004 Pk 2.20 pm

Saya bertemu dengan Garry untuk mengambil hp. Garry seorang Oz yang bersahaja. Seperti halnya orang Oz umumnya, sangat straight forward dan tidak banyak basa-basi. Saya berjanji dalam hati, dalam waktu dekat saya akan berikan sesuatu untuk dia. Pasti! Anda mau tahu?

Garry adalah bukti nyata satu dari [semoga] banyak orang baik di dunia ini. Tiba-tiba saya jadi ingat dengan nasihat Mémé’ (Ibu, bahasa Bali). Kalau kita tulus berbuat baik, suatu saat akan ada yang membalas. Garry is only one of many good men around me.

Tidak Naik Kelas

[menghindar dan menghindar]

Ketika mengenyam pendidikan sekolah dasar di sebuah desa terpencil di Tabanan, saya sering berangan-angan alangkah enaknya jadi siswa SMP. Mereka tidak perlu membawa perkakas yang ruwet untuk kerja bakti dan tidak perlu membawa tanaman untuk dijadikan pagar sekolah. Maklumlah, saat itu sekolah kami cukup memprihatinkan, pagarnya alami dan adalah tugas para siswa untuk menyediakan tanaman untuk dan bambu penjepitnya. ‘Turus’ dan ‘apes’ (bahasa Bali), begitu kami menyebutnya ketika itu.

Satu hal lain yang sangat membuat saya iri dengan siswa SMP ketika itu adalah karena mereka sering mendapat ‘jam bebas’. Ini artinya ada pelajaran yang ditiadakan karena suatu alasan tertentu yang (di)masuk akal(kan) dan akibatnya mereka pulang jauh lebih awal dari seharusnya. Pendek kata, saya tidak puas dengan keadaan ini dan yakin akan jauh lebih puas jika sudah masuk SMP.

Ketika menjalani hari-hari di SMP, saya berubah. Tidak banyak lagi kegiatan kejar-kejaran seperti waktu SD yang melelahkan. Tidak ada lagi kegiatan kerja bakti membawa ‘turus’ dan ‘apes’, tepat seperti yang saya idam-idamkan dulu. Saya merasa lebih dewasa dan mulai mencibir masa SD yang tiba-tiba saja terasa sedikit memalukan dengan kegiatan-kegiatan yang ‘nggak mutu’. Namun masa ini tidak berlangsung lama. Mulai ada keirian yang sama dengan siswa SMA. Mereka justru lebih ‘keren’ lagi karena sama sekali tidak perlu kerja bakti membawa sapu atau cangkul ke sekolah. Cukup satu buku tulis yang dimasukkan saku celana, naik sepeda motor ke sekolah alangkah enaknya. Anak SMA bisa gaya, bahkan bisa pacaran, siapa yang tidak mau?!

Memasuki sebuah SMA yang terbilang favorit di Bali, saya merasa bangga luar biasa. Sekolah bagus, terkenal, disiplinnya tinggi dan berprestasi. Hari-hari dilewati dengan banyak kegiatan, namun seperti yang Anda duga saya pun kembali berangan-angan. Masa SMA ternyata tidak merdeka. Terlalu banyak aturan dan tidak demokratis. Siswa tidak boleh demo dan tidak boleh mendebat guru. Saya piker enak sekali jadi mahasiswa, bisa demo, bisa berorasi menentang pemerintah, bisa menurunkan dekan dan sebagainya. Saya ingin sekali jadi mahasiswa ketika itu.

Ketika diberi kesempatan kuliah di sebuah PTN yang cukup bagus di Indonesia, kebanggaanpun berlangsung hanya sebentar. Beban kuliah lebih banyak menghadirkan tekanan daripada kebebasan yang saya idamkan sebelumnya. Tiba-tiba saja saya merasa menjadi siswa SMA gampang dan menyenangkan. Saya pikir, seandainya sekarang menjadi siswa SMA saya pasti “the best”. Gampang banget SMA, tinggal ngafal rumus doang, apa susahnya.

Saat diterima di sebuah kantor untuk mulai bekerja saya merasakan kemerdekaan finansial. Bebas membelanjakan uang tanpa khawatir dimarahi dan ditanyai. Namun, sekali lagi ini hanya sementara. Ketika pekerjaan menuntut konsentrasi dan tanggung jawab penuh, saya kembali mengeluh. Saya baru menyadari kalau kuliah itu enak, tidak perlu mikir ruwet. Tugas tinggal nyontek teman, tidak ada yang mengejar-ngejar karena deadline yang ketat. Kalau sekarang kuliah pasti enjoy banget.

Kini, ketika belajar di negeri orang untuk menyelesaikan master, saya merasa beban kuliah luar biasa. Persoalan menjadi sedemikian kompleksnya: ilmu, bahasa, budaya. Saya mulai berpikir nakal lagi. Kalau sekolah di Indonesia past enak sekali. Sekolah di Indonesia jauh lebih mudah, semua menggunakan Bahasa Indonesia, tidak perlu banyak berpikir ketika membaca, presentasi dan juga menulis. Jauh lebih mudah dibandingkan sekolah di luar yang semuanya harus dengan bahasa Inggris.

Saya (saat menulis tulisan ini) sempat merenung. Hidup saya telah dipenuhi kegiatan menghindar dan menghindar. Menghindar dari kenyataan dan menghindar dari kekinian dan kedisinian. Saya seringkali berpikir dan berangan-angan tidak sesuai masa dan tempat yang semestinya.

Saya mencoba bertanya kepada diri sendiri. Semuanya berakhir dengan kebisuan yang mendalam. Ingin rasanya menarik kepala ke dalam hati agar dia mudah saya ajak berdialog dan berkompromi. Saya sadari, ternyata sebenarnya saya tidak perah naik kelas. Selalu berada di tingkat yang sama.

Yening Umpamayang Titiang….

A friend sent me a message:

> Becik2 manten irika? Okannyane sehat?

> Titiang dot sajan metaken, napi rahasianyane

> mangda enceg madue anak alit? Until mangkin

> titiang kari “ngejomblo”……

The following are my answers:

Beh, suwé nénten kecunduk.. ring dija mangkin Bli

Gedé?

Ty iriki wantah kenak-kenak kemanten. Sané mangkin pacang mugalin riset druéné, dumadak nenten akeh alanganipun. Rastitian sareng Bli Gede.

Yen indik ‘anak alit’, sinah merabian sané patut kalaksanayang rumiyin. Yéning durung wenten rabi, mekerab kambé (ngantén) patutne Bli Gde sareng gegélan utawi pacar utawi tunangan druéné. Yéning durung wénten gegélan, nénten wénten tios, ngerereh gegélan rumiyin nyantos ngemolihang sané becik, manut tetujoné.

Ngerereh gegélan, anak bajang punika, wénten sané nguningayang wantah sekadi “ngalap umah tabuan” Sedurung irage presida ‘ngalap tur ngajeng’ pianakné, “matiang” riin inané (bapa memené). Yéning Inané durung padem, sinah iraga lakar kagincer olih inan tabuané punika. Artosipun : Please do elegant approaches toward her parents :).

Sané kaping kalih, wénten sané nguningayang, ngerereh gegélan punika wantah sekadi toya ngetél sane presida molongin batu. Amunapi je cenik ketélan toyané, yéning

sampun pakerengin tur mekelo, sinah i batu pacang bolong. Kénten masé anak istri, yéning sampun iraga plapan, kadasarin antuk pepineh sané rahayu, sinah riwekas, ipun jagi pacang nyerah..

Nah kenten dumun, pebligbagan soréné mangkin, dumadak dumadik kecunduk malih ring

pebligbagan sané lian..

suksma,

andi

Gila,… capek juga nulis Bahasa Bali :))

A Lesson from John Nash

[a beautiful mind]

Watching the movie of “A Beautiful Mind” starred by Russell Crowe as John Forbes Nash Jr., remains giving such a deep impression. It is not only because Russel plays perfectly as Professor Nash and the make up which was nearly perfect, but also because the movie offers such a deep inspiring lesson.

The movie is based on a real story about the life of a math professor at Princeton University. The main figure of the story is a professor, John Forbes Nash Jr., who suffered a mental problem but through an amazing long tiring struggle, finally succeeded to win a Nobel Prize in December 1994.

An Illogical Logic

John Nash is a brilliant mathematician who suffered a mental disorder called schizophrenia. As a mathematician, he always does anything based on a reasonable logic. Unfortunately, the logic he applied was triggered by particular occurrences that only happen in his imagination. Mental disorder he experienced provides him imaginations that he actually never experienced. Every single occurrence challenges him to respond, once again, based on his own logic. It is obvious that what he assumes as something logical is illogical to other normal people. His efforts to protect his family from a crime’s attack, for example, in contrary endanger his wife and son because the baddy never exist, indeed. His action touching the face of a little girl he cares about, of course, was an odd doing and surprises everybody sees it because the little girl was actually not there. It was really silly seeing the great Professor Nash touching an empty space as if he touches a little girl’s face. It was strongly confirmed that he is crazy.

A normal person would never understand that what he has done was actually a “truth” as well, at least according to Nash. Every single movement he did has its own reasons, even though nobody can interact to the reasons he believe.

Far from the case of mental disorder, we might not realize that we, ourselves can experience a similar thing. Lack of empathy to what other people do, often turns us into fool who rush in, easily judge and blame other people. Sometimes, I think it is a good idea to be crazy so I can understand others and be wiser.

Compromise, Compromise and Compromise

Nash’s worse health, once again according to normal people, forces his wife to convince him that a hospital-treatment is necessary. As predicted, Nash refused to be taken to the hospital. His refusal definitely strengthens people’s belief that Nash is indeed crazy. Once again, with his standard logic, he explained the negative impacts of the medication. The medication that gives a soothing effect, according to Nash, unexpectedly kills his creativities and slows his response to any occurrence.

At this stage, his wife fully supports him. With her countless patience she understands what have happened to her husband. She, for once again, gives Nash a chance to stay home, instead of being treated in a hospital. This is also an unbelievable compromise; she has shown the real meaning of trust. Finally, with a big trust given by his wife, Nash tries to deny the imaginations coming to his mind. He tries had to convince himself that the imaginations are not real. In the movie, it was told that there are three people who always come and follow wherever Nash goes. The three people tell him to do or not to do something. Most of the time, Nash follows their instructions. That is why Nash looks like a fool to everybody sees him. From the time on, Nash, for sure, denies every single instruction the three people give. What a very hard struggle, indeed. Nash was forced to kill his existing belief and convince himself that neither instruction nor whisper from the three people he should follow. What an amazing compromise. Having been compromising for long time, Nash looks like a normal people. People around him start to think that he has been cured.

Understanding this, it is clear that John Nash has actually never been cured. Unlike what people expect, he is not cured, only compromise. What he does is denying his own belief and tries hard to do what other people expect him to do. He has been done a wonderful compromise: ignoring the three people in his mind just to fulfil the desire of the ordinary people around him. He has to follow their standards. His strength and seriousness to ignore the imagination, finally, leads Nash to be a “normal” person. Undoubtedly, Nash is a tough struggler.

To me, Nash is a guru of life. I wish I can learn from him. To compromise such a complicated problem might be too hard for me. Even to finish a lecture assignment, sometimes I surrender. Ideally we must not surrender. However, compromise is an important part of a struggle. Temptations will always be there. They will never disappear from our life. Only compromise and strong heart can minimise their influences. Once again, they still exist, but give no bad impact.

When Nash was awarded the Nobel Prize and asked to deliver a speech, he still could see the three people sitting at a particular place in the hall. The three people stared him hopelessly. Once again, the three people never disappear from Nash’s life. With his strength and belief, Nash can only convince himself not to interact with them, not to listen to them and not to follow what they ask him to do. That’s it!

At Last, It is the Power of Love

The movie is also about an admirable love. Nash’s wife is a tough woman and extremely patient in living the life. Her heart is fully filled with loves, the unconditional loves that strengthen her to be able to live with his husband, a man with a mental disorder. Loves are the reason why she finally decided to give Nash a second chance to prove that he can escape from the handicap. It is very difficult, in real life, to make such decision. Giving away all the love we have with no condition and dedicating every single step to the wealthiness of the people we love are the true loves themselves. Love gives us belief to the magic of GOD. The unconditional loves liberate Nash’s wife from disappointments. Nash in his speech said that he has finally come to the real discovery in his entire life: LOVE; a discovery that always be the reason for not to surrender.

Tanyakan Kepada Pak Google

[sebuah fenomena search engine]

Search engine (SE) adalah fenomena yang lumrah di dunia inernet. Keberadaan SE sangat membantu para pengguna internet dalam menemukan hampir semua hal yang ingin diketahui. Cukup dengan mengetikkan kata kunci, berbagai informasi segera bisa diakses dengan leluasa. Dari sekian banyak SE, www.google.com (selanjutnya akan disebut google saja) adalah salah satu SE yang paling populer.

Temukan diri Anda di Internet

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi jarak jauh dengan seorang kawan di Jakarta dan dalam diskusi itu banyak hal yang ingin kami ketahui lebih jauh. Sayapun, seperti biasa, “menanyakan” kepada google dan munculah semua informasi yang kami inginkan. Anehnya, kawan saya ini cukup heran dengan kecepatan saya menemukan informasi tersebut. “Aku menanyakannya pada Pak Google”, begitu saya menjawab dengan berkelakar. Mesikipun penggunaan SE sudah bukan barang baru, ternyata tidak semua pengguna Internet memanfaatkannya secara optimal. Banyak diantara kawan saya yang terheran-heran ketika namanya saya ketikkan di google dan muncul beberapa berita tentang mereka. Mereka terkesima dan seperti takjub nama mereka bisa digoogle. Ya, tentu saja ini terjadi karena tanpa mereka sadarinama kawan saya ini memang ada di beberapa situs baik itu sebagai peneliti, dosen, peserta milis, atau setidaknya di yahoo profiles. Mereka rata-rata tahu kalau google adalah mesin pencai yang canggih, tapi baru benar-benar menyadari kecanggihannya setelah terbukti bisa menemukan nama mereka di internet. Sangat menarik memang!

Google menjadi Verb

Di kalangan masyarakat pengguna internet, menggunakan kata “google” sebagai “kata kerja” semakin sering kita dengar. Kalimat seperti “Saya sedang googling, “Coba digoogle [maksudnya “coba dicari menggunakan google”]”, “You can google it if you want”, “Why don’t you google it?” adalah contoh penggunaan kata “google” sebagai kata kerja. Salah seorang guru bahasa Inggris di IALF Jakarta, bahkan mengatakan the google god, karena dia bisa mencarikan hampir semua hal yang kita inginkan. Suatu saat, di Kamus Besar Bahasa Indonesia akan tertulis: google = cari; usaha penelusuran. Peribahasa kita mungkin akan diganti menjadi “seperti menggoogle jarum dalam jerami”. Seorang pengemis akan mengatakan “demi menggoogle sesuap nasi”. Di koran, sebuah iklan akan menulis “digoogle seorang manager berpengalaman” 🙂

Konsultasikan Masalah Komputer Anda

Suatu ketika, komputer saya terserang spyware yang merusak sebuah file *.dll sehingga internet explorer tidak bekerja. Akibat lain: my computer tidak bisa diaktifkan, control panel tidak jalan dan hampir semua fungsi manajemen mati. Selalu ada error messageiexplorer has caused error in vx2.dll .. dan seterusnya. Saya yang cukup awam dengan komputer sempat dibuat panik. Untunglah, sekali lagi, ada Pak Google. Menggunakan komputer teman saya search di google dengan mengetikkan persis error message-nya dengan tanda petik (“…”). Beberapa detik kemudian saya mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan. Dalam waktu lima menit komputer saya sudah bekerja seperti sedia kala. Untuk pengguna awam seperti saya, google menjadi tempat konsultasi yang tepat.

Kasus: Meyusui ketika Hamil

Apakah Anda pernah dipusingan oleh pertanyaan yang berhubungan dengan medis seperti “Apakah boleh menyusui ketika hamil?” Kalau tidak sempat menanyakan ke dokter atau sungkan menanyakan kepada dokter yang notabene adalah kawan tidur Anda, tanyakan saja pada Pak Google. Ketik “menyusui ketika hamil” atau “menyusui saat hamil” (dengan tanda petik). Kalau mau lebih gaya, ketikkan “breastfeeding while pregnant” pasti jawabannya akan lebih banyak lagi.

Pernah bingung karena tugas membuat paper dikumpulkan besok tapi Anda belum mulai menulis? Ketikkan kata kunci yang sesuai di google dan nikmati limpahan bahan dan referensi yang Anda perlukan. Seorang kawan yang membuat paper tentang proses naturalisasi penduduk Cina di Indonesia era Soeharto telah merasakan hal ini. “Luar biasa!”, Begitu komentarnya. Seorang kawan lain yang sedang mengisi training Global Positioning Systems, ditanyai oleh peserta perbedaan presisi dan akurasi. Apa yang dilakukannya? Mohon petunjuh tuan google. Jawabannya cepat, tepat dan memuaskan.

Tanyakan apa saja!

Singkatnya, tanyakan apa saja kepada google. Manfaatkan fungsi google seoptimal mungkin. Barangkali ada juga diantara kita yang belum tahu kalau google juga punya fungsi untuk menerjemahkan suatu situs ke bahasa lain. Misalnya Anda ingin melihat situs UNSW dalam bahasa Jerman, Anda bisa memanfaatkan fasilitas penerjemah ini. Ya, biarpun tidak untuk hal serius, hal semacam ini cukup menyenangkan untuk sekedar bermain-main. Yang tidak kalah menariknya, Anda juga bisa menyelesaikan persamaan fisika dengan Google. So, apa yang akan Anda tanyakan kepada Pak Google hari ini?

Tulip Festival


Bowral Tulip Festival, NSW, Australia

Snowy Time


Snowy mountain, NSW, Australia with Asti, my lovely wife

Australian Idol dan Fenomena Capres Indonesia

[sebuah analogi]

Tulisan ini tidak ditulis oleh seorang pengamat musik, tidak juga oleh seorang politisi, pun bukan pengamat politik. Tulisan ini ditulis oleh seorang warga negara biasa yang walaupun demikian, kenyataannya menduduki proporsi terbanyak dari keseluruhan negeri. Tulisan ini, seperti yang akan Anda lihat, bukan sebuah analisis tajam tentang musik, bukan pula pembahasan kritis tentang politik. Kalau kebetulan judulnya mengandung kata “idol” dan “capres”, itu hanya untuk memancing Anda untuk membaca. Maaf!

Minggu lalu, publik Australia pecinta reality show “Australian Idol” dikejutkan oleh sebuah kenyataan tak terduga. Ricky Lee, salah satu dari 7 kontestan yang tersisa akhirnya terpaksa harus melepaskan mimpinya menjadi Australian Idol. The nation has voted, she was out! Suasana studio mendadak mencekam, lebih haru dari suasana eviction biasanya. Bukan saja karena Ricky Lee memang salah satu kontestan terbaik dari segi music skill dan penguasaan panggung (menurut judges) tapi juga karena publik, berdasarkan live survey yang dilakukan channel 10, telah mengakui Ricky Lee adalah calon bintang dan diprediksikan akan memenangkan Australian Idol tahun ini.

Judges yang terdiri dari Mark, Marcia dan Dicko tidak dapat berkata apa-apa. Marcia hanya bisa menyayangkan kenyataan ini. Australia, menurutnya, telah melakukan kesalahan dengan tidak mendukung Ricky Lee, seorang gadis dengan talenta musik yang mengagumkan. Hal yang sama terjadi pada salah seorang kontestan tahun lalu, Paulini, seperti yang ditegaskan oleh Marcia.

Melihat hal ini saya teringat dengan fenomena Capres Indonesia. Saya, jujur saja, tidak begitu fanatik dengan salah satu calon. SBY, yang sekarang kebetulan menang, juga memiliki sejarah yang tidak selalu baik. Dia adalah bagian tak terpisahkan dari orde baru. Tapi, sebagai orang biasa, saya hanya bisa sedikit bergarap, semoga lebih baik.

Banyak kalangan mengatakan Amin Rais adalah kandidat yang seharusnya menang dalam pemilihan capres. Pendapat semacam ini datang, terutama, dari kalangan pemilih rasional, pemilih yang lebih banyak menilai capres dari program, gagasan, kejelasannya visi, dll. Hal senada disampaikan David Reeve, seorang Indonesianist dari UNSW ketika berbicara di UTS menjelang pemilu presiden. Namun malang bagi Amin Rais dan pendukungnya. Jangankan menang jadi presiden, untuk masuk putaran kedua saja sang jagoan tidak berhasil. Dengan tragis kalah oleh SBY, Megawati, dan bahkan Wiranto yang telah termasyur sebagai salah satu gembong orde baru dan penjahat militer. Pendukung Amin Rais ramai di milis dan internet, mengungkapkan ketidakpuasan mereka. Tapi semua sudah terjadi.

Amin Rais, jika memang benar bisa dianggap baik secara obyektif, adalah fenomena Ricky Lee di Australian Idol. Orang-orang seperti ini didukung oleh orang-orang rasionalis yang pilihan dan dukungannya sangat bergantung pada performa. Pendukung seperti ini tentu saja sulit diajak “sehidup semati”. Mereka akan mendukung secara penuh ketika kandidat benar-benak baik namun sesaat kemudian bisa mengalihkan pilihannya ketika kandidat melakukan kesalahan. Ketidakberhasilan Amin Rais dan Ricky Lee dalam memelihara pendukung yang militan dan “membabi buta” telah mengakibatkan impian mereka kandas. Berbeda dengan Megawati yang memiliki pendukung militan dan terdoktrin, Amin Rais mungkin sebagian besar tidak pendukung oleh pendukung semacam ini. Sementara pendukung Megawati bisa memilih Mega tanpa sedikitpun perlu tahu apa program kerja Megawati, pendukung Amin Rais mungkin lebih rasional dan benar-benar memilih berdasarkan program kerja dan performa Amin Rais dalam jabatan sebelumnya. Amin Rais memang tidak terlihat signigfikan memberi warna pada lembaga MPR kita selama dia menjadi ketua. Hal ini mungkin juga bisa dijadikan alasan oleh pemilih untuk tidak memilih Amin Rais dalam periode ini.

Amin Rais dan Paulini

Paulini yang pada periode Australian Idol lalu terhempas di pertengahan, kini menjadi seorang bintang sesungguhnya di Australia. Albumnya laku keras dan menjadi salah satu idola baru. Judges berharap roh Paulini akan memberi inspirasi kepada Ricky Lee. “It is not the end, Ricky! But a big start” begitu Mark, salah seorang Judges, menasehati Ricky Lee ketika dinyatakan tereliminasi. Seperti halnya, Paulini, Amin Rais tidak perlu menjadi presiden untuk bisa berbuat baik untuk bangsa ini. Akan sangat bijaksana dan dicatat dalam sejarah jika Amin Rais akhirnya menjadi seorang Paulini yang tegar menghadapi kekalahan dan akhirnya bangkit berbuat yang terbaik untuk menggapai bintang.

The danger of the Democracy

Ternyata nilai sebuah demokrasi kadang-kadang sepadan dengan kegemaran ber-SMS. Untuk menentukan pilihan yang terbaik dan mendukung demokrasi berjalan dengan baik, menggosip dan bercerita atau menulis tentang demokrasi saja tidak cukup. Mengagumi seorang jagoan dari jauh atau dalam mimpi tidak akan mengubah apapun. Jangan berharap mengubah bangsa dengan merenung dan berkeluh kesah. “Kirim SMS Anda hari ini juga”.

Disiplin

[berbeda definisi, tapi…]

Menurut Anda apakah disiplin itu?

Ya, saya tahu Anda memiliki definisi yang mungkin berbeda dengan saya. Dan bisa jadi definisi yang Anda berikan hari ini berbeda dengan yang Anda pikirkan kemarin. Begitulah, hari-hari kita dipenuhi dengan perubahan. Dinamika dalam bahasa kerennya.

Jika seorang research student yang sedang menyelesaikan thesisnya ditanya tentang disiplin, bisa jadi dia mendefinisikannya sebagai kepatuhannya terhadap research schedule yang sudah ditetapkan bersama supervisornya. Disiplin adalah tertib menjalankan segala aktivitas yang telah disepakati dalam research schedule.

Jika seorang Internet Marketer seperti Anne Ahira ditanya tentang displin, mungkin dia akan menjawab bahwa disiplin adalah dengan sungguh-sungguh meluangkan setidaknya satu jam sehari berselancar di internet dan mencari prospek baru.

Cobalah bertanya tentang disiplin kepada seorang petani yang harus berangkat ke sawah jam 5 pagi dan pulang sore hari, atau kepada seorang dosen universitas negeri yang konon gajinya tidak cukup untuk hidup sebulan bersama seorang istri dan dua anak kuliah yang ingin seperti bapaknya. Jawabnya akan berbeda.

Dulu ketika masih berumur sebelas tahun, saya mendapat definisi disiplin yang berbeda dari seorang bapak yang sedernhana. Bagi beliau, disiplin adalah tidak memakai sendal ketika menginjak lantai rumah. Itulah disiplin.

Ketika suatu saat saya diajak ke Denpasar dan harus makan di sebuah rumah makan sederhana, sayapun dengan “disiplin” menanggalkan alas kaki dan melangkah dengan kaki telanjang. Bapak saya memandang dengan senyum dan berkata kepada temannya “Dia anak yang disiplin.”

Bagi saya, disiplin sangatlah sederhana. “Disiplin adalah menjaga air kencing tetap jernih, sehingga saya tetap sehat ketika menyaksikan kucuran air tumpah ke dalam kloset putih bersih di pagi hari.” Bagaimana menjaga air kencing tetap jernih? Sederhana sekali “minum air putih yang banyak”. Apakah menjalankannya semudah terorinya? Itulah inti tulisan ini.

Renungan Katak Kecil di Bulan Ramadhan

[sebuah surat balasan]

Aku adalah seekor katak kecil yang tak memiliki apa-apa kecuali cinta yang seringkali aku artikan semaunya. Aku merasakan cinta yang tiada terkira kepadamu. Ya kepadamu, sahabatku. Cinta yang, sekali lagi, sering aku salah artikan. Cinta yang mungkin karena keegoisanku, banyak melahirkan tuntutan yang sebenarnya tidak perlu. Cinta yang terlalu. Tapi, aku masih tetap percaya, setidaknya ini bentuk cinta… walaupun mungkin tak sepantasnya.

Hari ini aku menerima surat darimu setelah duapuluh purnama lamanya engkau meninggalkan kolam kecil kita. Kolam yang dari dulu kita pelihara indahnya, tempat bermain dan memandang kilau dunia. Sambil sesekali mengagumi bulan, menjaga lumut tetap subur dan memelihara air tetap jernih sampai akhirnya engkau memilih untuk pindah ke kolam lain. Aku sedih ketika itu. Sekali lagi, pastilah ini karena ego berlebih dan kesadaran yang masih sangat rendah. Aku hanya bisa menangis, dengan air mata yang kutarik sebisanya, tumpah ke dalam hati. Semuanya semata-mata karena aku sendiri menyadari air mata ini tidak layak kupamerkan demi kepindahan sahabat menuju kolam idamannya. Dan yang lebih penting, kepindahan ini adalah juga karena CINTA. Aku berharap pastilah di kolam sana juga ada cinta. Cinta yang mudah-mudahan lebih indah, lebih universal dan lebih menyejukkan tidak saja bagi penghuni kolam tapi juga jagat sekitar.

Sahabatku, aku membaca suratmu hari ini dengan senyum sedikit kecut. Ada yang aneh rasanya. Seperti masih tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir mungilmu. Kata-kata yang sangat berbeda dengan yang pernah kita ucapkan dulu ketika kita sama-sama berdoa memuja dan mensyukuri kenyataan bahwa seluruh jagat raya dikaruniai kebahagiaan berlimpah. Kata-katamu kini bebeda. Kata-kata yang dengan tegas mencirikan bahwa engkau telah menjadi bagian dari kolam yang baru. Kata-kata yang tidak saja menunjukkan pengakuan tapi juga keberpihakan.

Meski terasa sangat aneh di telingaku, aku tidak berani menghakimimu. Barangkali seperti itulah saharusnya seekor katak kecil berlaku di kolam baru. Dengan ksatria mengakui keberpihakannya dan dengan lantang menyuarakan kebenaran-kebenaran yang baru saja diperolehnya dari kolam idamannya. Ini adalah tindakan seorang yang percaya dengan kebenaran diri.

Seperti itulah aku berpikir tentangmu saat ini. Aku berusaha menjadikan semuanya tetap jernih, mencoba mengusir ego berlebih yang mungkin tak kan pernah diperlukan.

Namun, aku hanya sedikit berharap. Semoga suratmu hari ini adalah surat universal untuk kebaikan seluruh jagat raya. Bukan surat “picik” yang hanya akan menyukseskan penggolongan dan pengelompokan makhluk di muka bumi. Bukan juga surat yang sibuk membanggakan kolam sendiri yang barangkali menurutmu terlalu indah untuk dibandingkan. Ini adalah harapan sederhana seekor katak kecil yang pernah menjadi sahabatmu dulu.

Aku menerima dengan lapang hati semua kebanggaanmu. Aku menyaksikan dengan dengan seksama bagaimana engkau menjalani transformasi ini. Aku adalah satu dari sekumpulan katak kecil lain yang sesungguhnya merintih menyaksikan kebanggaan yang terasa berlebih ini, tapi syukurlah kami adalah pemuja segala kebaikan yang universal adanya. Dengan itu kami tidak pernah menganggapmu berbeda.