Many Good Men


[thanks to garry]

Judul tulisan ini bukan sebuah propaganda kelas bulu, bukan pula cerita nina bobo yang mungkin hanya terjadi di negeri dongeng. Ini benar-benar terjadi dan sayalah yang mengalaminya.

Anda ingin tahu? “Begini ceritanya” (Kismis, RCTI):

Senin, 1 November 2004 Pk. 5 pm plus

Saya menyadari hp saya tidak di tempatnya. Nokia kesayangan saya telah raib. Saya tidak terlalu panik karena hal semacam ini biasa terjadi. Cerita hp ketinggalan di rumah, nyelip di tas, ketinggalan di kampus, nangkring di jok mobil teman hingga ketinggal di tempat kerja bukan sesuatu yang baru. Saya masih berharap salah satu alternatif itu terjadi saat ini.

Selasa, 2 November 2004

Berbagai usaha dilakukan dan hasilnya: confirmed, Hp saya hilang!. Ada rasa sedih menghampiri. Bukan saja karena informasi yang tersimpan dalam di dalamnya, tapi karena hp itu bagi kami (saya dan Asti) sangat bersejarah. Bukan saja karena hp itu adalah barang pertama termahal yang saya hadiahkan untuk Asti [pada awalnya hp tersebut dipegang Asti], tapi yang lebih penting karena hp itu sangat mahal harganya. Anda bisa bayangkan, hp itu saya beli dengan gaji 2 bulan lebih!

Jangan terkejut dulu, ketika itu, sebagai dosen honorer, gaji saya lima ratus ribu lebih sedikit. Saya ulangi, Rp 500.000,- lebih sedikit setiap bulannya. Tapi walau demikian, jangan sangka saya menyesal apalagi cengeng dengan penghasilan segitu. Saya tetap meyakini, where there is a will there is a way! Artinya berakit-rakit dahulu berenang renang ke tepian 🙂 [ini namanya jaka sembung bawa gitar]

Maaf jadi ngelantur, kita kembali ke masalah hp yang hilang.

Rabu, 3 November 2004

Pk. 06.51 saya mencoba menghubungi hp dengan hp three. Surprisingly, connected. Berarti hp saya masih hidup, namun tidak ada yang menjawab. Saya menduga hp ini masih tergeletak di suatu tempat dan belum ada yang menemukan. Analisa saya, kalau ada yang menemukan dan bermaksud jelek (“jelek” dalam presepektif saya yang kehilangan), pasti hp tidak akan dibiarkan hidup. Kalau ada yang menemukan dan bermaksud baik, pasti panggilan saya dia jawab. Begitulah, saya sibuk menganalisa sendiri.

Pk. 07.37: Saya mengirim sms ke hp tersebut, sekerdar untuk berjaga-jaga kalau hp tersebut ditemukan orang. SMS saya berbunyi “hi there, the mobile in ur hand is mine. Please bi kind to return it to me 2/10 houston rd kensington. Ur kindness will be vr much appreciated.” Saya mengirimkan sms ini dengan pikiran nothing to lose. Kali-kali aja orang yang menemukan baik hati dan mau mengembalikan. Yang penting saya sudah berusaha.

Lama menunggu, tidak ada jawaban. Saya kembali putus harapan. Mungkin memang benar seperti dugaan saya, tidak ada yang menemukan hp tersebut.

Pk. 08.58: Terjadi keajaiban. Saya mendapat sms dari hp saya yang hilang dan bunyinya “Ok”. Sebuah pesan yang sangat singkat tapi menghadirkan harapan teramat besar. Saya bersemangat kembali. Mulai detik itu, saya meyakini ada orang yang menemukan hp saya dan dia adalah orang baik yang berniat mengembalikannya.

Beberapa lama setelah sms “ajaib” itu, saya mencoba menelpon. Anehnya, tidak ada jawaban. Hp saya bahkan mati. Mungkin sengaja dimatikan. Kembali, harapan saya menurun. Sepanjang siang, saya melupakan hp itu karena harus bekerja

Pk 4 pm plus saya menyedari kalau ada seseorang berusaha menghubungi saya melalui hp three. Dari nomornya, bukan hp, tapi telepon rumah (atau mungkin kantor). Karena saya sedang focus pada hp yang hilang, saya mencurigai orang yang mencoba menghubungi saya adalah orang yang menemukan hp saya yang hilang. Tanpa berpikir panjang, saya menelpon nomor yang tertera pada “missed call list”. “Hello, this is Toner Express, can I help you?” begitu suara di seberang. Saya kembali ragu-ragu. “I’ve got some calls from this number” saya mencoba berkomunikasi sekedarnya karena sudah terlanjur menelpon. Dengan mantap suara perempuan di seberang menjawab “I think one of our marketing staffs called you to offer you our products. It happens all the time” katanya menjelaskan. Lagi-lagi saya patah arang. Kembalinya si hp hilang kian menipis kemungkinannya. Untuk sekedar mengusir keputus asaan saya kembali mengirim sms dengan bunyi “thx for ur rply. if you don’t mind pls return the moile ASAP or if you can’t, pls let me know where to pick it up. Big thanks!”. Sebuah sms yang ‘percuma’, tidak mendapat respon sama sekali.

Kamis, 4 November 2004 Pk 08.42 am

Nomor yang kemaren menghubungi saya, menelpon lagi. Saya tidak sabar menjawab. “Hi, mate ‘ow ya goin?” suara khas logat OZ terdengar di seberang sana. “good mate, yourself?” saya mencoba menjawab walaupun tidak begitu yakin siapa yang menelpon. “Good. Did you lose your mobile?” sebuah pertanyaan yang melegakan terlontar dari lelaki di seberang. Maka demikianlah, saya baru saja ditelpon oleh orang yang menemukan hp saya. Setalah berbasa basi sejenak, kami mengatur pertemuan, saya akan mengambil hp itu di kantor Garry, orang yang menemukan hp saya, hari Senin 8 November 2004.

Tak terkatakan senangnya perasaan saya ketika itu. Yang terpenting, saya benar-benar terharu, masih ada orang sebaik Garry yang “bersusah payah” mengembalikan sebuah hp yang ditemukannya tak bertuan di pinggir jalan. Belakangan saya tahu kalau hp itu ternyata jatuh pada saat turun dari bus menuju tempat kerja yang kebetulan tidak jauh dari tempat kerja Garry di daerah Alexandria, Gardeners Road, NSW.

Saya bertanya kepada beberapa orang, imbalan apa yang patut saya berikan untuk Garry. Ada yang mengatakan tidak perlu, ada yang bilang uang, ada yang mengatakan ajak makan malam di rumah dll. Akhirnya saya memutuskan tidak memberi uang karena saya kira itu justru mengurangi nilai ketulusannya. Semoga saya tidak salah.

Senin 8 November 2004 Pk 2.20 pm

Saya bertemu dengan Garry untuk mengambil hp. Garry seorang Oz yang bersahaja. Seperti halnya orang Oz umumnya, sangat straight forward dan tidak banyak basa-basi. Saya berjanji dalam hati, dalam waktu dekat saya akan berikan sesuatu untuk dia. Pasti! Anda mau tahu?

Garry adalah bukti nyata satu dari [semoga] banyak orang baik di dunia ini. Tiba-tiba saya jadi ingat dengan nasihat Mémé’ (Ibu, bahasa Bali). Kalau kita tulus berbuat baik, suatu saat akan ada yang membalas. Garry is only one of many good men around me.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Many Good Men”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s