Tidak Naik Kelas


[menghindar dan menghindar]

Ketika mengenyam pendidikan sekolah dasar di sebuah desa terpencil di Tabanan, saya sering berangan-angan alangkah enaknya jadi siswa SMP. Mereka tidak perlu membawa perkakas yang ruwet untuk kerja bakti dan tidak perlu membawa tanaman untuk dijadikan pagar sekolah. Maklumlah, saat itu sekolah kami cukup memprihatinkan, pagarnya alami dan adalah tugas para siswa untuk menyediakan tanaman untuk dan bambu penjepitnya. ‘Turus’ dan ‘apes’ (bahasa Bali), begitu kami menyebutnya ketika itu.

Satu hal lain yang sangat membuat saya iri dengan siswa SMP ketika itu adalah karena mereka sering mendapat ‘jam bebas’. Ini artinya ada pelajaran yang ditiadakan karena suatu alasan tertentu yang (di)masuk akal(kan) dan akibatnya mereka pulang jauh lebih awal dari seharusnya. Pendek kata, saya tidak puas dengan keadaan ini dan yakin akan jauh lebih puas jika sudah masuk SMP.

Ketika menjalani hari-hari di SMP, saya berubah. Tidak banyak lagi kegiatan kejar-kejaran seperti waktu SD yang melelahkan. Tidak ada lagi kegiatan kerja bakti membawa ‘turus’ dan ‘apes’, tepat seperti yang saya idam-idamkan dulu. Saya merasa lebih dewasa dan mulai mencibir masa SD yang tiba-tiba saja terasa sedikit memalukan dengan kegiatan-kegiatan yang ‘nggak mutu’. Namun masa ini tidak berlangsung lama. Mulai ada keirian yang sama dengan siswa SMA. Mereka justru lebih ‘keren’ lagi karena sama sekali tidak perlu kerja bakti membawa sapu atau cangkul ke sekolah. Cukup satu buku tulis yang dimasukkan saku celana, naik sepeda motor ke sekolah alangkah enaknya. Anak SMA bisa gaya, bahkan bisa pacaran, siapa yang tidak mau?!

Memasuki sebuah SMA yang terbilang favorit di Bali, saya merasa bangga luar biasa. Sekolah bagus, terkenal, disiplinnya tinggi dan berprestasi. Hari-hari dilewati dengan banyak kegiatan, namun seperti yang Anda duga saya pun kembali berangan-angan. Masa SMA ternyata tidak merdeka. Terlalu banyak aturan dan tidak demokratis. Siswa tidak boleh demo dan tidak boleh mendebat guru. Saya piker enak sekali jadi mahasiswa, bisa demo, bisa berorasi menentang pemerintah, bisa menurunkan dekan dan sebagainya. Saya ingin sekali jadi mahasiswa ketika itu.

Ketika diberi kesempatan kuliah di sebuah PTN yang cukup bagus di Indonesia, kebanggaanpun berlangsung hanya sebentar. Beban kuliah lebih banyak menghadirkan tekanan daripada kebebasan yang saya idamkan sebelumnya. Tiba-tiba saja saya merasa menjadi siswa SMA gampang dan menyenangkan. Saya pikir, seandainya sekarang menjadi siswa SMA saya pasti “the best”. Gampang banget SMA, tinggal ngafal rumus doang, apa susahnya.

Saat diterima di sebuah kantor untuk mulai bekerja saya merasakan kemerdekaan finansial. Bebas membelanjakan uang tanpa khawatir dimarahi dan ditanyai. Namun, sekali lagi ini hanya sementara. Ketika pekerjaan menuntut konsentrasi dan tanggung jawab penuh, saya kembali mengeluh. Saya baru menyadari kalau kuliah itu enak, tidak perlu mikir ruwet. Tugas tinggal nyontek teman, tidak ada yang mengejar-ngejar karena deadline yang ketat. Kalau sekarang kuliah pasti enjoy banget.

Kini, ketika belajar di negeri orang untuk menyelesaikan master, saya merasa beban kuliah luar biasa. Persoalan menjadi sedemikian kompleksnya: ilmu, bahasa, budaya. Saya mulai berpikir nakal lagi. Kalau sekolah di Indonesia past enak sekali. Sekolah di Indonesia jauh lebih mudah, semua menggunakan Bahasa Indonesia, tidak perlu banyak berpikir ketika membaca, presentasi dan juga menulis. Jauh lebih mudah dibandingkan sekolah di luar yang semuanya harus dengan bahasa Inggris.

Saya (saat menulis tulisan ini) sempat merenung. Hidup saya telah dipenuhi kegiatan menghindar dan menghindar. Menghindar dari kenyataan dan menghindar dari kekinian dan kedisinian. Saya seringkali berpikir dan berangan-angan tidak sesuai masa dan tempat yang semestinya.

Saya mencoba bertanya kepada diri sendiri. Semuanya berakhir dengan kebisuan yang mendalam. Ingin rasanya menarik kepala ke dalam hati agar dia mudah saya ajak berdialog dan berkompromi. Saya sadari, ternyata sebenarnya saya tidak perah naik kelas. Selalu berada di tingkat yang sama.

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s