Rifky: Cah Jogja Lulusan Oxford dan Harvard.


Usianya jauh lebih muda dari saya. Kehebatannya jauh lebih ‘senior’. Muhammad Rifky Wicaksono baru saja wisuda di Harvard dengan menggondol dua penghargaan Dean’s Scholar Prize karena mendapat nilai tertinggi untuk dua mata kuliah yang diambil. Jika dikonversi ke nilai Indonesia, IPnya di Harvard tak kurang dari 3,9. Betul! Anda tidak salah lihat. Nyaris sempurna!

Untuk bisa akrab dengan seorang alumni Harvard yang cemerlang, saya sudah boleh potong ayam penuh syukur. Rifky lebih dari sekedar itu. Beberapa saat lalu, dia juga lulus dari Oxford dengan predikat yang mentereng. Tak hanya cemerlang di kelas, Rifky juga mumpuni di organisasi. Saat di Oxford dia pernah menjadi semacam ketua kelas. Dalam Bahasa Rifky yang rendah hati, dia menjadi ‘pesuruh’ kelas. Demikianlah Rifky yang saya kenal: santun, artikulatif dan rendah hati namun tak rendah diri.

Kemarin saya ngobrol dengan Rifky lewat IG live. Penyimaknya konsisten di atas 110 orang selama kurang lebih satu setengah jam. Komentar dari penyimak deras mengalir dan saya bisa rasakan energi yang tumpah ruah dari penjuru negeri. Mungkin, ini jadi salah satu Live IG yang paling berenergi yang pernah saya lakukan. Rifky pun menjadi dirinya sendiri. Lepas, bebas dan berbicara dari hatinya kepada kami semua. Sementara saya menyimak takzim, dibaluri curahan inspirasi yang deras menghangatkan.

Tidak setiap hari kita bisa ngobrol dekat dengan orang Indonesia yang lulus dari dua kampus mentereng dunia. Saya merasa istimewa karena kami sama-sama ada di Jogja, berteman baik dan sama-sama dosen di UGM. Rifky tak hanya kolega, dia telah menjadi sahabat. Aisyah, isterinya juga akrab dengan Asti, isteri saya. Sama-sama dokter jebolah Fakultas Kedokteran UGM. Bahasanya sama, mungkin itu sebabnya bisa dekat karena sering curhat.

Tak dinyana, Rifky ternyata sempat tidak lulus Ujian Nasional ketika SMA. Apa pasalnya? Rifky dengan rendah hati menjawab, karena kekurangannya sendiri. Tak ada sedikitpun niat menyalahkan keadaan dan pihak lain. Meski ketika itu, Rifky memang sedang menyiapkan lomba internasional untuk bidang debat, dia tidak menyalahkan itu. “Aku yang salah” demikian dia selalu menegaskan ketika ditanya perihal itu. Dia bahkan tanpa ragu mengakui bahwa ketidak lulusannya saat Ujian Nasional di SMA itu adalah salah satu pengalaman hidup paling berharga. Dia tegaskan, bahwa hidup tak boleh meremehkan apa pun dan siapa pun. Hanya karena seseorang merasa berbakat, berpotensi dan sudah berprestasi, itu bukan alasan untuk lengah dan tak peduli.

Kegagalan saat SMA itulah yang membuat seorang Rifky menjadi bekerja sekian kali lebih keras. Dia masuk Fakultas Hukum UGM lalu memenangkan Beasiswa Jardine Foundation dan terbang ke Oxford tahun 2016. Jika saat SMA ibundanya pernah menangis karena sedih, saat Rifky wisuda di Oxford, ibundanya menangis karena haru dan bahagia. Ayah Ibu Rifky mendampingi putera semata wayangnya menerima penghormatan dari Oxford sebagai alumni yang berprestasi. Sang ‘Ketua Kelas’ lulus dengan gemilang, diiringi tangis bahagia kedua orang tuanya. Gedung tua Oxford dan jiwa-jiwa Harry Potter menjadi saksi.

Rupanya Rifky memang punya semangat belajar yang tak terbendung. Tak hanya soal akademik, Rifky percaya semangat belajar itu bisa untuk apa saja. Dia pemain tenis yang baik, juru masak yang semangat dan pemain gitar yang jauh lebih baik dari saya. Untuk yang terakhir ini, saya mau bersaksi. Semangat yang sama, membawanya pada niat masuk Harvard. S2 lagi. Apa alasannya? Dia haus akan ilmu pengetahuan. Apa yang ingin dikuasainya ada di Harvard. Selain itu, dia ingin menjadi orang yang bisa bercerita dan berbagi kepada mahasiswanya kelak. Jika dia memberi nasihat perihal sekolah yang bener, belajar yang rajin dan bagaimana bisa masuk sekolah tersohor dunia, Rifky akan bisa bicara dengan otoritas utuh yang tak diragukan. He walks the talks.

Ketika saya tanya soal beasiswa, ternyata Rifky punya kisah yang selama ini tak banyak terungkap. Dia mulai dari satu fakta bahwa tidak mudah untuk mencari dana beasiswa untuk S2 jika kita sudah pernah S2. Masuk akal. Ketika ada banyak sekali orang yang harus disekolahkan, wajar jika penyandang dana tidak memprioritaskan kandidat yang sudah pernah sekolah.

Rifky tak tinggal diam. Ditulisnya proposal dan dikirimnya ke berbagai pihak. Sayangnya, hasilnya jauh dari menggembirakan. Ada satu yang berkenan membantu, itupun tak sampai 10 persen dari dana yang diperlukannya. Untuk bisa lulus master di Fakultas Hukum Harvard, SPPnya ada di kisaran 700-800 juta jika dirupiahkan. Rifky sempat patah semangat tapi dia kumpulkan lagi energinya. Dia ingat kembali masa lalu dan kegagalannya. Nampaknya ada dendam positif di situ.

Akhirnya dia bersurat ke Harvard dan mengatakan duduk perkaranya. Entah mantra-mantra apa yang dirafalkan Rifky, Harvard bersedia memberi bantuan lebih dari setengah kebutuhannya. Itu luar biasa meskipun tetap belum cukup. Waktu berlalu Rifky sudah kepalang basah. Dengan diplomasinya dia mencoba lagi. Kali ini Rifky datang sebagai seorang anak manusia yang telah berusaha sangat maksimal. Dia bisa tunjukkan kerja keras dan usahanya serta kegagalannya. Meski begitu, dia tidak menyerah dan tetap ingin belajar di Harvard. Rupanya ini membuat Harvard luluh hatinya dan ditambahlah beasiswanya hingga hampir penuh. Kita memang layak meminta jika sudah waktunya. Jika sudah kita tunjukkan kerja keras yang tak tertandingi.

Rupanya cerita perjuangan ini menyentuh banyak hati. Para alumni FH UGM dan alumni Harvard di Indonesia juga pun kemudian silih berganti memberi dukungan. Maka Rifky pun bisa belajar dengan tenang. Dia belajar karena kegigihannya. Karena keberaniannya menerjemahkan idealismenya menjadi usaha yang sangat pragmatis. Lagi-lagi, bahwa bakat dan potensi itu penting tetapi yang lebih penting adalah usaha nyata untuk mewujudkan bakat dan potensi itu jadi nyata. Jadi, tak semudah yang kita kira. Rifky betul-betul harus berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan apa yang dia mau.

Ketika saya tanya apa sih tantangan terbesar dalam perjuangannya ‘menundukkan’ Oxford dan Harvard, dia sampaikan dengan tegas “mengalahkan diri sendiri”. Rifky mulai dari kisah, betapa ironisnya, Indonesia yang terdiri dari ratusan juta penduduk, kurang terwakili di Oxford dan Harvard. Dia sempat contohkan negara kecil seperti Singapura yang ternyata mengirimkan banyak anak terbaiknya ke Oxford dan Harvard. Semua itu, bagi Rifky, terjadi karena kegagalan kita meyakinkan diri sendiri. Kita rendah diri dan tidak percaya pada kebesaran kita di dalam, demikian Rifky mengandaikan.

Maka nasihatnya sederhana: coba saja. Ketika syaratnya sudah terpenuhi apa alasannya untuk tidak mencoba? Saya setuju dengan prinsip ini. Sering kali kita menghakimi diri sendiri bahkan sebelum bertanding/berlomba. Itulah sebabnya kita lebih sering memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam kompetisi. Kita tidak siap ditolak. Kita tidak percaya diri. Repotnya, kita juga menjadi orang yang pertama kali sewot, menyesal atau bahkan mencibir jika kawan kita, yang kita anggap tidak lebih pintar, ternyata bisa memenangkan sebuah kompetisi. Maka, agar tidak menyesal, mendaftarlah. Saya yakin, cerita ini makjleb bagi banyak orang.

Kini Rifky punya dua gelar S2 dari Universitas terkemuka, beristerikan Aisyah, seorang dokter yang suportif dan seorang putra kecil, Rasyid, yang tampan dan sehat. Cukupkah semua itu? Tentu Rifky bersyukur tapi perjalanannya masih jauh. Dahaganya akan ilmu tak terbendung. Saat ini Rifky telah mengantongi surat penerimaan di program S3 bidang Hukum di Oxford, almamaternya. Tak berlebihan jika kisah hidup Rifky ini membuat banyak orang berdecak kagum atau tercekat tanpa kata-kata. Penyimak kehilangan suara. Bahkan kata-kata pujian tiba-tiba jadi hambar dan tak cukup hebat untuk menandingi kedigdayaan Rifky.

Rifky terbang begitu tinggi. Namun, Rifky adalah juga orang biasa. Dia adalah Cah Jogja yang pernah tidak lulus Ujian Nasional dan membuat ibunya terisak dalam. Kini dia bercahaya karena gigih menggosok dan menempa dirinya. Saya yakin, jika Rifky diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi begitu cemerlang, maka ribuan atau jutaan insan Indonesia semestinya juga bisa merasakan keadilan berkah Tuhan itu. Terima kasih Rifky. Indonesia mendoakanmu. Melesatlah ke Oxford lalu kembalilah pada waktunya. Lahirkanlah lebih banyak Rifky untuk Nusantara kita.

I Made Andi Arsana
Seorang sahabat

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s