Cerita dari Tiongkok


Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada menghubungi saya, namanya Angelo Wijaya. Dia merekomendasikan saya kepada panitia untuk jadi pembicara di Tsinghua University, Tiongkok yang digelar Students Association of Belt and Road. Rupanya interaksi dan dukungan2 kecil yang saya berikan ke Angelo membuat dia mengambil keputusan itu.

Sampai saya tiba di Tiongkok, belum ada tema spesifik dari panitia. Yang saya tahu pokoknya tentang peradaban Asia dan isu terkait dengan bidang saya. Saat dinner sebelum hari H saya diskusi dengan panitia dan memutuskan akan bicara soal batas maritim dr kacamata Indonesia. Secara spesifik saya bicara evolusi laut Indonesia dan interaksinya dengan bangsa2 di kawasan.

Malam hari saya merapikan materi tapi belum kelar hingga jam 2 karena internet yang penuh blokir. Memang Tiongkok punya gaya sendiri di kancah global. Akhirnya saya memilih tidur dan lanjut besoknya. Ada satu gambar Presiden Jokowi dan Xi Jinping yang saya tanbahkan. Jam 8.30 saya sudah dijemput panitia selepas sarapan yang buru-buru.

Ada satu hal lagi. Saya diberitahu untuk pakai batik saja padahal acara dihadiri dubes2 dan semua pakai jas. Sebenarnya saya merasa tidak sopan tapi apa daya, tidak bawa jas. Sudahlah, sendirian berbatik, mungkin terlihat saltum tapi hrs tetap bangga. Indonesia!

Menyimak peserta dan undangan, ada perasaan keder. Ini ngga boleh main2, saya pikir. Akhirnya saya rapikan lagi presentasinya dan buat naskahnya selama acara pembukaan. Dr 27 slide, dua halaman naskah utuh saya selesaikan sebelum makan siang. Selanjutnya latihan serius sampai nyaman.

Sekitar jam 2 tampil bersama prof dari Nepal dan Pakistan. Karena sebelumnya bersiap agak serius, hasilnya cukup lah. Setelah itu banyak peserta dan undangan yang memberi komen baik dan minta slide. Hasil memang tak mengkhianati usaha.

Yang menarik, sorenya diminta jadi mentor diskusi kelompok bagi 40 anak muda cemerlang dr 20 negara. Mereka mengagumkan dan saya banyak belajar dari mereka. Akhirnya mereka presentasi hasil diskusi mereka. Satu per satu maju dg hasil yang sangat bagus.

Menjelang habis presentasi, panitia bilang “nanti kasih komen ya!” Mendapat tugas dadakan untuk komen presentasi dr orang2 cemerlang itu bukan hal mudah. Tapi harus sok tenang dan sok siap. Saya mulai putar otak. Komennya harus singkat, berisi dan inspiratif, saya pikir. Mereka tentu tidak ingin dengerin hal2 yang gitu2 aja, apalagi ngawur dan tidak terarah. Saya terbebani.

Segera saya menulis di note HP. Saat maju saya sampaikan apresiasi bla bla dan saya akhiri:

“It’s about perspective. We know that we all are biased but let us be biased by as many persepectives as possible. As Proust one said ‘the real voyage of discovery consists not in seeking new landscape but in having new eyes’. This leads me to my last point that we are here to learn and to open our mind. As Forbes once said ‘the purpose of education is to replace an empty mind with an open one’.

Thank you!”

Udah gitu aja 🙂

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s