Menikmati Sekitar, Apa Adanya


Hari Minggu kemarin saya duduk saja di gazebo di halaman belakang rumah. Tidak ada agenda khusus, tidak mengerjakan apapun, hanya duduk diam dan menikmati saja. Tiba-tiba saya lihat sepasang burung emprit terbang di sekitar batang markisa yang menjalar di atas jalan setapak. Yang menarik, mereka membawa rumput kering yang kemudian dianyam menjadi sarang. Pada silang lintang pokok markisa yang menjalar, mereka memilih titik yang tepat untuk memulai rumah tangga mereka. Mungkin demikian, entahlah.

Kecerian sejoli itu melambungkan saya ke masa kecil. Di Desa Tegaljadi, saya betah berlama-lama mengamati burung-burung yang membangun sarang. Mereka terbang mencari rumput kering atau dedaunan lain yang layak dipakai. Batang padi kering, ilalang atau rumput berbunga panjang adalah pilihan yang paling sering saya lihat. Kenikmatan masa kecil itu tiba-tiba datang lagi. Sensasinya masih sama. Kebahagian itu memang bisa berasal dari hal-hal sederhana.

Di pojok lainnya ada tawon yang bergerombol mendekam di sarangnya. Sarang itu mungkin sudah berusia sebulan lebih tapi saya jarang memperhatikannya. Sarang itu terikat alami pada pojok Padmasana, pura keluarga. Saya perhatikan tawon itu bergerak-gerak sibuk tapi tidak terbang. Mereka berpindah dari satu lubang sarang ke lubang lainnya seakan melakukan inspeksi atau pekerjaan lain yang saya tidak paham. Yang pasti, pada setiap lubang itu ada larva, anak-anak mereka yang perlu perhatian.

Induk-induk tawon ini sebenarnya bisa galak dan menyengat jika merasa terganggu. Untunglah saya tidak senakal dulu, ketika masih kecil. Saya tidak menganggu mereka sehingga merekapun tidak merasa perlu untuk melindungi diri dengan menyengat. Belakangan, saya juga tahu bahwa tawon tidak menyengat karena hobi apalagi iseng. Sama sekali tidak. Menyengat, bagi tawon, adalah usaha bertahan dan menyengat bisa mengantarkan mereka pada ajal. Tentu saja mereka tidak sembarangan menyengat. Hanya jika terpaksa. Maka saya tidak risau. Jika saya tidak menggangu, mereka pasti juga akan ramah.

Sekelompok tawon yang lain juga membangun sarang di sehelai daun perdu pisang-pisangan di tepi jalan setapak. Memang ini bisa berbahaya jika kita lewat di sana dan mereka merasa terganggu. Namun seisi rumah sudah saya briefing, tidak boleh ada kegiatan ‘mencurigakan’ di sekitar sarang itu agar tawon tidak merasa terancam.

Saya juga mendengar cericit burung yang tak henti-hentinya keluar masuk lubang genteng. Mereka sudah lama akrab dengan rumah kami dan entah sudah berapa keturunan dihasilkan selama hampir tiga tahun ini. Saya mengamati saja mereka yang keluar masuk lubang genteng sambil bercengkerama satu sama lain. Entahlah, apakah betul mereka bercengkerama atau diskusi dan berdebat tentang kehidupan yang menantang. Manusia tak pernah paham dan mungkin kita terlalu sederhana memaknai celoteh mereka hanya sebagai hiburan. Bisa saja celoteh itu adalah keluhan atau makian. Siapa tahu?!

Di pojok lainnya ada ayam yang berjemur di rumput. Matanya redup malas menikmati siraman sinar matahari pada tubuh mereka. Yang betina mengambangkan sayap sehingga sinar matahari lebih leluasa menghangatkan tubuhnya. Sementara itu, yang jantan tak henti-hentinya menarik perhatian. Sekali waktu dia memanggil karena menemukan makanan, sekali waktu lainnya dia mepet betina untuk menunjukkan ketertarikannya. Sementara itu, yang betina kadang tak peduli, asyik menikmati tikaman sinar matahari yang akrab menghangatkan. Apapun percakapan mereka, yang pasti suara mereka menenangkan.

Ketika melihat agak ke atas, nampak bunga anggrek warna ungu yang masih kuncup muda. Bulatan-bulatan itu menjanjikan keindahan, yang mungkin mulai nampak beberapa hari lagi. Usianya sudah tiga tahun dan ini adalah kali kedua dia berbunga di taman kami. Akarnya erat memeluk batang pohon kamboja, berbagi ruang dengan anggrek lain yang jauh lebih rajin berbunga. Di sisi lainnya, nampak anggrek jenis sama yang juga baru belajar berbunga. Batang bunganya jauh lebih kecil dan pendek dan belum nampak bulatan-bulatan bunga. Masih misterius. Saya lihat, batang kamboja itu seperti belantara anggrek yang berbagi ruang bersama lumut dan simbar menjangan yang menjuntai. Tak jauh di sebelahnya ada kenanga kecil yang rajin berbunga, menebarkan aroma harum yang jinak dan khas.

Kian lama diperhatikan, taman ini adalah rumah bagi banyak makhluk. Di pojok rumah, saya baru perhatikan ada sekumpulan Lebah Trigona atau yang di masa kecil saya kenal dengan nama kekela. Jenis lebah ini berbeda dengan lebah kebanyakan. Setahu saya, mereka juga tidak menyengat namun sama-sama menghasilkan madu layaknya lebah lain. Ratusan Lebah Trigona terbang di sekitar lubang dan menghasilkan suara dengungan yang khas. Satu per satu mereka masuk ke dalam lubang di tembok di balik keramik bata merah yang memang menyisakan celah saat dipasang. Ruang itu kini menjadi rumah bagi Lebah Trigona. Entah disengaja entah tidak, alam menemukan sendiri keseimbangan peran dan fungsinya.

Saya menikmati saja semua itu. Tak risau tentang apapun. Kalau orang sering berseloroh bahwa bahagia itu sederhana, memang demikian lah sejatinya. Masalahnya kadang saya lupa menikmati kenyataan di sekitar itu. Maka ketika ada orang yang melontarkan kelakar yang lain “jangan lupa bahagia” nampaknya kelakar itu menemukan kebenarannya di hari Minggu ini. Kebahagiaan kadang tidak jauh tempatnya dan dia memang bisa sederhana. Sangat sederhana bahkan.

Maka tak harus bersikeras mencari inspirasi dari kisah dan pemandangan yang hebat. Angin yang berhembus, ayam yang bercengkerama, tawon yang beringsut mendekap sarang, burung emprit yang membangun rumah, anggrek yang mulai berbunga, simbar menjangan yang berayun malas dan kekela yang bergegas memasuki liang adalah keajaiban itu sendiri. Maka, jangan lupa bahagia dengan menikmati sekitar, apa adanya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Menikmati Sekitar, Apa Adanya”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s