Cinta Mamah yang Menelan Korban?


Di depan saya duduk seorang mahasiswi. Dia memulai pembicaraannya dengan sedu sedan yang tak bisa ditahan. Dia menangis sejadinya dan saya masih berusaha memahami apa yang terjadi. Seorang staf Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM yang ada di situ buru-buru mengambilkan tisu. Si mahasiswi menyeka air matanya sambil tak kuasa menahan sesenggukan yang mengguncang tubuhnya. Sejujurnya, saya tidak pernah menyiapkan diri sebagai kepala KUI untuk menghadapi situasi yang berurai air mata seperti ini.

Pasalnya kemudian jelas. Mahasiswi ini mendapat kesempatan untuk melakukan pertukaran ke sebuah universitas terkemuka di Jepang. Masalahnya satu, dia belum berhasil mendapatkan beasiswa. Konon dia memilih durasi pertukaran selama enam bulan dan beasiswa yang ada adalah untuk program satu tahun. Dia tidak memenuhi syarat, beasiswanya tidak ada dan artinya dia mungkin tidak bisa berangkat ke Jepang.

Mengapa nangis bombay seperti itu? Urusannya ternyata bukan soal gagal dan soal Jepang. “Mamah saya kayanya tidak bisa menerima hal ini Pak” katanya memulai ‘curhatnya’ sambil melepas sedu sedan yang kian menjadi. Saya mulai paham duduk perkaranya. “Mamah saya sangat keras dan punya target yang tinggi untuk saya” katanya menambahkan. “Sepertinya mamah tidak bisa menerima kalau saya gagal berangkat ke Jepang. Mamah juga menyalahkan saya, karena saya mengambil program yang satu semenster. Kata Mamah, seandainya saja saya ambil program yang setahun tentu saya bisa dapat beasiswa.” Saya simak dengan mengangguk saja, tak melepaskan pandangan dari wajahnya. Masih diam, tanpa komentar apapun kecuali pandangan simpati.

“Kami bertengkar karena hal ini Pak. Padahal saya sendiri kan punya target sendiri dalam hidup saya. Saya memilih durasi satu semester karena saya punya target lulus cepat. Saya juga ingin menunjukkan saya bisa lulus cepat. Saya juga mau membanggakan orang tua saya. Tapi mamah saya memang seorang Tiger Mom Pak. Dia keras banget.” Demikian kalimat demi kalimat mengalir deras dari mulutnya, beradu dengan sedu sedan yang penuh emosi. Saya masih memandangnya, menyimak dengan seksama. Terbawa emosi yang dalam. Saya bisa merasakan cinta mamanya tetapi saya juga sedang melihat korban cinta itu. Tepat di depan saya. Tumpah ruah sedih, marah dan kecewanya.

“Maaf Pak. Saya emosional” katanya suatu ketika saat hampir semua kegalauan telah tumpah. Suaranya lirih. “Tidak apa-apa” kata saya singkat sambil memberi ‘izin’ padanya untuk tetap bercerita dan menangis. Saya tahu, dia sedang membutuhkannya. Di kepala saya berkecamuk berbagai perihal. Ingat peran sebagai bapak, ingat fungsi sebagai guru, ingat juga posisi sebagai anak. Bercampur jadi satu, semua hadir menyerang secara tiba-tiba. Ingatan akan perpaduan peran dan posisi itu membuat saya tak mudah menasihati. Saya tahu ini tidak mudah.

“Saya mengerti perasaanmu” begitu saya memulai. “Saya tahu, kamu sangat gigih memperjuangkan kesempatan ini. Saya mengagumi itu.” Dia tertunduk dalam, isak tangis terdengar lagi. Kini dengan emosi yang berbeda. Lirih tapi dalam, dia seperti melepaskan kebencian dan kekecewaan yang bercokol di dadanya. Saya biarkan saja. Suasana ruangan itu hening. Dua staf KUI yang menemani saya juga tenggelam dalam kecamuk pemikiran sendiri. Mereka diam.

“Saya juga punya seorang anak remaja perempuan. Di sisi lain, saya memahami sikap mamah kamu. Setiap orang memiliki gaya parenting yang berbeda. Saya tidak pernah meragukan sedikitpun tujuan dan niat baik mamah kamu. Saya yakin itu. Seorang Tiger Mom juga punya tujuan yang sama dengan orang tua lainnya. Mereka ingin anaknya berhasil.” Saya tahu kalimat saya klise tapi kebenaran memang klise. “Ada satu hal yang selalu sama pada semua orang tua. Mereka ingin anaknya kelak bisa hidup sendiri ketika mereka sudah tidak ada di dunia. Cara mereka memastikan inilah yang berbeda-beda. Ada yang keras tegas dengan disiplin yang ketat, ada yang dengan ekspresi lemah lembut seakan memberi kebebasan. Apapun itu, keduanya dihantui rasa khawatir yang hanya bisa dipahami oleh mereka. Saat malam menjelang tidur, ketegasan atau kelemahlembutan itu akan lebur menjadi doa yang khusuk. Seorang anak mungkin tidak pernah tahu itu.”

Perlahan-lahan suasana menjadi tenang positif. Mulai ada pandangan nanar di wajah mahasiswi ini. “Ya Pak, saya tahu mamah saya sangat peduli pada saya. Mereka mendidik kami dengan keras untuk kebaikan. Sebagai anak perempuan pertama, mamah ingin saya jadi contoh yang baik bagi adik-adik saya.” Dia menyadari dengan baik apa yang dilakukan orang tuanya. “Kamu nonton film 3 Idiots, kan?” tanya saya sebagai referensi andalan ilmu parenting saya. Saya orang Teknik yang tidak paham banyak teori. Saya belajar dari film dan 3 Idiots adalah salah satunya. “Ya Pak, saya nonton” katanya semangat.

“Di awal film, penonton seakan diajak untuk sama-sama membenci orang tua Farhan karena mereka memaksakan kehendak agar Farhan menjadi insinyur. Kita semua tahu, passion Farhan adalah di fotografi dan dia menjalani studi di fakultas teknik dengan setengah hati. Akibatnya, dia tidak berpretasi tinggi. Kita marah pada orang tua Farhan karena egois. Tapi ingat apa yang terjadi di akhir cerita?” Mahasiswi itu nampak mengingat dengan baik akhir cerita film itu. “’Berapa harga sebuah kamera?’ demikian bapaknya bertanya. Dia memutuskan untuk membelikan kamera karena menyadari passion anaknya. Yang terpenting, bukan saja dia telah menyadari passion itu, ayahnya juga punya harapan dan keyakinan bahwa passion itu akan membuat Farhan mampu menjalani hidup. Ayahnya mendapat satu titik harapan bahwa Farhan akan bisa bertahan hidup di masa depan, ketika dia sudah tidak ada.”

“Interaksi dengan orang tua bukan semata soal baik-buruk, keras-lembut atau jahat-baik hati. Ini adalah soal mengikis rasa khawatir mereka akan masa depan kita. Jika kamu adalah anak saya, maka tugasmu bukan untuk membuktikan saya salah atau kamu benar tetapi untuk membuat saya teryakinkan bahwa suatu saat nanti saya bisa meninggalkan dunia dengan tenang.” Mahasiswi ini mengangguk dalam dalam diamnya. “Kamu mungkin masih muda dan merasa belum melakukan hal-hal besar dalam hidup. Tapi meyakinkan orang tua itu bisa lewat hal-hal kecil. Mereka mengamati hidup kita dari caramu bangun pagi, dari rapi tidaknya kamar tidurmu, dari susunan buku, gelas dan piring di atas meja belajarmu. Pertanyaan untuk seorang anak mungkin sangat sederhana ‘kapan terakhir kali kamu cuci piring dengan kesadaran sendiri?’” Tiba-tiba ada isak tangis lirih yang terdengar. Saya sepertinya tahu apa yang terjadi.

Di penggal percakapan kami dia berkata “mungkin saya salah mengkomunikasikan maksud saya ke mamah Pak.” Bagi saya ini kesadaran yang sangat baik dan itu jadi pengingat bagi saya juga. “Anak saya umur 12 tahun dan suka sekali dengan K-Pok” kata saya memecah suasana. Ruangan tiba-tiba diwarnai tawa kecil. “Saya tadinya tidak suka dan tidak habis pikir kenapa anak saya suka K-Pok yang menurut saya ‘tidak mutu’. Ada banyak sekali hal yang tida saya mengerti dan saya tidak mau mengerti. Tidak jarang terjadi adu argumentasi hanya gara-gara saya tidak paham sesuatu yang menurut anak saya sudah sangat umum. Saya tentu saja tidak tahu ARMY yang ternyata adalah sebutan untuk penggemar BTS dan bagi anak saya itu sulit dimengerti.” Staf KUI yang ada di situ tersenyum-senyum. Ada berbagai hal yang berlalu lalang di kepala mereka. Saya bisa duga.

“Akhirnya sekarang saya menikmati K-Pop” kata saya mantap. “Saya mulai ikut belajar tarian K-Pop bersama anak saya. Sesuatu yang tadinya saya pikir tidak keren sama sekali itu, ternyata bisa menyenangkan. Menyenangkan karena saya melakukannya bersama anak saya. Jika kehilangan wibawa dan nampak memalukan memang diperlukan untuk menjaga tali komunikasi dengan anak kita, saya relakan.”

Saya melanjutkan dengan refleksi sendiri sebagai orang tua. “Perbedaan generasi terlalu lebar. Kedua pihak harus berusa keras memperkecil celah itu. Orang tua seperti kami kadang perlu menanggalkan wibawa dan kebanggan atas pengalaman hidup yang pahit dan heroik untuk bisa memahami dan satu frekuensi dengan seorang ABG yang lahir ketika Facebook sudah lumrah. Kami adalah generasi migran di dunia digital. Kami perlu belajar berkomunikasi dengan ‘penduduk asli’ yakni generasi millennial yang jadi tuan rumah. Maklumilah kami para pendatang ini. Kami generasi asing. Kami perlu waktu memahami dunia kalian. Ajari kami dengan sabar.” Saya sedikit emosional.

Suasana ruangan jadi hening. Saya lihat mata mahasiswi ini berbinar-binar. Ada senyum di wajahnya. Saya lanjutkan, “mudah bagi kita untuk menuduh bahwa cinta orang tua itu bisa mengorbankan anaknya. Mungkin tidak selalu demikian ceritanya. Cinta yang menelan korban mungkin karena hal sederhana: kegagalan berkomunikasi.” “Terima kasih ya Pak” katanya tulus. “Saya yang berterima kasih juga. Ini momen untuk sama-sama belajar.” Salah satu staf kami yang juga punya anak remaja nampak tersenyum mengamini. “Jika mamah kamu mau, saya dengan senang hati ngobrol dengan beliau. Silakan berikan nomor HP saya” kata saya menutup pertemuan itu. Hari ini saya mengafirmasi satu pelajaran lama: cinta bisa saja menelan korban jika tidak hati-hati.

PS. Dialog yang dituliskan mungkin tidak persis sama dengan kejadian karena keterbatasan ingatan tetapi maknanya sama. Sampai detik terakhir percakapan itu, tidak sekalipun muncul pikiran buruk terhadap orang tua maupun anak itu. Bagi saya, itu semua cermin jernih yang penuh pelajaran.

PSS. Gambar ilustrasi dipinjam dari http://media.namx.org/

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

12 thoughts on “Cinta Mamah yang Menelan Korban?”

  1. Bagus banget tulisannya pak, sama kayak ibu saya. Dia ingin yg terbaik buat anaknya biar anak-anaknya ga mengalami hal yang sama seperti beliau yg putus sekolah. Tapi beda lagi dengan bapak yang cenderung pasrah “Yo ga kuliah juga gapapa, syukuri yang ada, cari duit susah,” . Setidaknya ada dua pelajaran yg saya dapat, untuk tetap berusaha sekuat tenaga dan tetap legowo kalau kegagalan sedang menghampiri.
    Salam kenal pak

  2. Menurut saya,mohon Maaf Pak Andi..Mahasiswa yg mengadu ke Bapak itu manja & orang tuanya jg perlu belajar menerima kenyataan..Tidak semua keinginan kita itu harus terwujud.Tuhan punya cara & rencana yg tak pernah bisa kita duga.Siapa tahu Mahasiswa itu skrg gagal dapat beasiswa 6 bulan ke Jepang,mungkin ada peluang lain yg lebih hebat yg Tuhan sediakan untuknya….Itu orang tuanya pemikirannya sgt sempit.
    Mohon Maaf jika kalimat saya keras,Pak..

  3. Suatu saat kalau diberikan kesempatan, saya punya cita-cita bisa menjadi dosen seperti pak andi.. Sejak di bangku kuliah, saya selalu mencari role model dosen yang menurut saya bisa dijadikan contoh. Tulisan pak andi selalu memberikan sudut pandang lain tentang kehidupan. Semoga selalu bisa menginspirasi banyak orang yaa pak dan semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan bersama keluarga..

  4. Selamat Siang Pak Andi,
    Terima kasih telah memberikan gambaran melalui ilustrasi di atas, perlu diketahui bahwa setiap orang tua tentu berupaya mengupayakan yang terbaik bagi anaknya. Namun demikian, melalui pembelajaran di atas semoga baik anak dan orang tua dapat saling menurunkan egonya masing-masing dan berbicara hati ke hati, dan pelajaran berharga untuk saya apabila di suatu waktu saya dan orang tua memiliki perbedaan pendapat khususnya di bidang pendidikan. Oh iya Pak Andi, alhamdulillah tahun ini saya lulus tahap ke dua AAS Intake 2018 dan akan tes IELTS (12 & 15 Juli 2017) dan JST (1 Agustus 2017) di Jakarta. , dan hampir sebagian besar blog Bapak saya baca bahkan saat saya baru lulus S1 tahun 2012 yang lalu di Samarinda, Kaltim. Semoga suatu saat saya bisa bertemu Bapak dan ngobrol ringan ya Pak. (Mohon doanya ya Pak semoga tahun ini lulus 🙂 🙂
    Salam,
    Alza

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s