What you look for is what you get


Brooklyn Bridge, NYC
Brooklyn Bridge, NYC

Dalam sebuah loka karya di Yogyakarta pertengahan November 2008, saya bertemu dengan banyak orang-orang hebat. Mereka umumnya adalah peneliti yang karya-karyanya sudah bertebaran di berbagai media, ilmiah maupun populer. Dalam sebuah sesi tentang sengketa kedaulatan dan batas wilayah, seseorang peneliti mengungkapkan bahwa pemerintah tidak menyediakan cukup informasi tentang berbagai kasus yang terjadi. Penjelasan tentang kasus Sipadan dan Ligitan, misalnya tidak bisa didapatkan dari sumber resmi. Perkembangan Undang-undangan tentang wilayah negara juga tidak mudah dibaca di situs-situs pemerintah. Perkembangan penyelesaian perbatasan dengan negara tetangga secara umum juga tidak mudah diketahui informasinya. Singkat kata, peneliti ini mengalami kesulitan mendapatkan informasi dan menyalahkan pemerintah karena tidak menyediakannya.

Menariknya di saat yang sama, saya mengetahui semua informasi yang dikeluhkan kelangkaannya oleh peneliti ini. Jangankan persoalan batas wilayah di tanah air, saya bahkan mendapat berita isu batas wilayah di negara antah berantah dalam beberapa jam saja setelah isu itu menjadi berita di internet. Setiap hari saya akan mendapat tidak kurang dari 10 berita terkait batas wilayah atau kedaulatan serta hak berdaulat yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Setelah diselidiki, rupanya peneliti yang saya maksud tadi memang bukan penekun isu batas wilayah. Beliau mungkin baru beberapa kali saja atau mungkin baru pertama kali menulis tentang isu batas wilayah. Tidak mengherankan kalau beliau tidak menemukan banyak hal tentang batas wilayah karena memang bukan seorang “pencari” di bidang ini. Demikianlah kenyataannya, jika kita tidak mengabdikan tenaga dan waktu untuk mencari sesuatu, maka sesuatu itu tidak akan ketemu.

Berbeda dengan peneliti ini, saya menghabiskan separuh lebih waktu saya untuk bergelut dengan batas wilayah, walaupun itu tidak serta merta menjadikan saya sebagai ahli. Karena passion terhadap isu ini begitu besar, saya membuat email alert agar google mengirimi saya isu seputar batas wilayah setiap hari. Saya juga membuat blog khusus untuk bidang ini dan memutahirkannya secara berkala. Ketika bermain-main dengan Google Earth dan Google Maps, saya membuat aplikasi yang tidak jauh-jauh dari isu batas wilayah, kedaulatan, yurisdiksi, sengketa teritori dan sejenisnya. Saya juga menulis untuk media massa tentang isu ini. Saya adalah seorang pencari, maka saya dapatkan.

Saking tenggelamnya saya di bidang ini, saya bahkan sering merasa bahwa dunia ini hanya tentang batas wilayah, lain tidak. Saya bisa tenang-tenag saja tidak mengetahui kasus Ryang yang menghebohkan tanah air atau tentang Kiki Fatmala yang diraba bagian pribadinya oleh Syaiful Jamil. Sering kali semua itu berlalu begitu saja tertumpuk di balik ambisi saya tentang dunia batas wilayah dan rekanannya. Bahayanya, saya bisa menjadi orang yang kuper dan berada di dunia sempit yang dalam bernama batas wilayah.

Ketika saya punya ambisi tentang Obama, saya bahkan rela berjam-jam menonton pidatonya di YouTube dan mengikuti hampir semua perjalanan kampanyenya. Saya membaca sejarahnya, membaca bukunya, mengunduh pidatonya dan menghafalkan kutipan-kutipan yang menggugah. Karena demam Obama, tanpa sadar saya mengikuti gayanya dalam menulis dan berbicara. Dalam kelakar atau memberi kuliah, saya seringkali mengutip kalimat Obama. Saat mahasiswa saya diam tidak aktif, di kelas saya mendorong mereka untuk bersuara karena suara bisa mengubah dunia đŸ™‚

Pertemuan dengan peneliti ini mengingatkan saya satu hal yang dinasihatkan tetua Bali di jaman dulu “apa alih keto bakat“, kamu akan mendapatkan apa yang kamu cari. Hal ini ternyata berlaku pada hampir semua hal. Secara universal saya menyimpulkan bahwa jika kita mencari kebaikan maka kebaikan yang akan didapat. Sebaliknya jika berusaha mengungkap kelemahan, di manapun akan kita temukan kekurangan.

Saat membaca buku, saat mendengarkan orang lain, saat melihat website, saat menikmati makanan dan seterusnya dan seterusnya, saat itulah kita akan mendapatkan apa yang kita cari. Jika berfokus pada kejelekan, maka kejelekan akan ditemui di hampir semua hal. Sebaliknya, jika berkonsetrasi pada kebaikan, semua hal mengandung pencerahan. Berbahagialah mereka yang selalu positif dan berusaha melihat kebaikan dari setiap hal. What you look for is what you get.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “What you look for is what you get”

  1. mas..saya ngutip yah paragraph terakhir di status FB saya..karna sy merasa paragraph itu harus dibagi pada semua teman2 sy di FB..sungguh mencerahkan…terima kasih

  2. Pak andi, izinkan sy mengutip 2 paragraph terakhir di tulisan anda ini. Sya sanagt terinspirasi dan ingin menyebarkannya pada teamn teman saya. saya menulis sebuah note di facebook, dengan judul Memajang rasa sedih. 2 pragraph terakhir anda adalah penutup note saya itu. Terima kasih

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s