Sang aku boleh saja bersikeras tentang kebisaannya, tentang kepiawaiannya dalam berkarya dan menebarkan asa. Sang ego boleh saja berbusa bibirnya ketika meyakinkan kesendiriannya untuk tetap berpesona. Ada yang tidak bisa dikesampingkan. Adalah kekuasaan sang waktu yang terbagi tepat adil kepada setiap yang sering membuat sang aku menyerah. Luluh lantaklah sang ego ketika harus menghadapi masa. Duapuluh empat masa, mohon ampun, tidak bisa ditambahkan kepada siapapun. Pun tidak untuk mereka yang bercita-cita menjadikan sang dewa sebagai karibnya. Ada kalanya kita harus menyerah, tunduk dan mengaku kalah kepada sang waktu.