Belajar Menulis Panjang

Saya paling semangat mengatakan bahwa menulis itu penting. Dampaknya bisa begitu hebat, nyata dan kadang instan. Cepat sekali. Oleh karena itulah saya selalu menyarankan mahasiswa saya untuk menulis. Tidak saja menyarankan, saya juga mewajibkan mereka. Agak berbeda dengan teman teman dosen lain, saya mewajibkan mahasiswa saya membuat blog dan menulis satu post setiap minggu setelah … Continue reading

Pahami Ambalat

Untuk merespon gonjang ganjing terkait kasus Ambalat belakangan ini, tadi saya melakukan kultwit. Untuk mendokumentasikan lebih baik, twit itu saya posting kembali di blog ini. Semoga bermanfaat. Masyarakat umumnya memahami bahwa Ambalat adalah semua kawasan laut di sebelah timur Borneo dan jadi sengketa Indonesia-Malaysia. Bayangkan peta, borneo dibagi dua: selatan (Kalimantan) untuk Indonesia, utara (Sabah, … Continue reading

Pulang ke Tegaljadi

Ibu aku pulang menemuimu. Seperti yang kaurafalkan dalam mantra sederhanamu saat mengantarku menemui Hyang Widhi dalam ritual otonanku, aku pulang menyangkil menyuwun. Memikul di pundakku sebentuk tanggung jawab dan menjunjung di kepalaku selapis pengetahuan yang semoga tidak bereinkarnasi menjadi kesombongan. Temani aku untuk berbicara dengan sebatang pohon kamboja merah darah yang kini berdiri sabar di … Continue reading

Sebuah hari biasa

Sore masih muda, jalanan Jogja mulai memadat. Jika Kisanak ke Jogja di pertengahan tahun 90an dan datang lagi di tahun-tahun sekarang, Kisanak akan tahu bedanya. Kemacetan sudah bukan hanya milik Jakarta saja. Kami melaju mengendarai motor. Seperti banyak hari lainnya, Asti menjemput saya di kantor dan kami berkendara meliuk-liuk di antara mobil yang berderet dan … Continue reading

Ilmuwan Penari

Ada janji bertemu dengan seorang kawan di Jakarta. Ana, namanya. sebenarnya sudah cukup lama direncanakan tetapi selalu ada alasan untuk membuat rencana tinggal rencana. Suatu hari saya menghubunginya, mengatakan saya ada di Jakarta dan kami bersepakat bertemu. “Aku latihan nari dulu” katanya membalas pesan di Whatsapp. Kawan saya ini seorang ilmuwan handal. Dia satu dari … Continue reading

Memberi Jalan

Saat turun dari pesawat, saya sering mengamati penumpang lain. Umumnya -sekali lagi umumnya dan artinya tidak semua dan tidak selalu- penumpang tidak sabar untuk segera turun. Biasanya mereka berdiri di gang atau di kursi mereka dan menunggu dengan wajah tidak sabar. Faktanya, entah apa penyebabnya, waktu tunggu sampai akhirnya pintu pesawat dibuka memang selalu terasa … Continue reading

Rusak Semua

Transit di Doha, Qatar selama lebih dari tujuh jam membuat saya harus bersiasat. Pasalnya, airline tidak menyediakan hotel transit untuk istirahat. Alasannya memiriskan hati: tiket saya kategori promo. Sebenarnya perjalanan ini didanai sponsor dan saya tidak harus memesan tiket promo karena memang tidak ada plafon. Tapi sudahlah, memang sudah kebiasaan memilih tiket murah. Murah bukan … Continue reading

Spaghetti tahun 1995

Kuta Bali, tahun 1995 “Ini to Ketua OSISnya? Kok Kecil?” kata lelaki usia empat puluhan tahun itu berkelakar. Dua kawanku tersenyum saja. Aku tidak menjawab, hanya menyalami dengan senyum sopan. Lelaki itu, kalau tidak salah, adalah seorang manajer di hotel ini. Hotel besar yang terkenal di Bali. Aku hanya bisa kagum. Betapa hebatnya lelaki ini, … Continue reading

Takut

Di negeri Belanda, di misim gugur yang mulai menggigil, seorang kawan Indonesia bertanya perihal Amerika. Kawan ini ingin sekali berkunjung ke Amerika dan bahkan tertarik untuk melanjutkan pendidikan. “Di Amerika serem ya Bro?” tanyanya penuh selidik. Aku hanya melihatnya tanpa menjawab. Menyadari kebingunganku, dia menambahkan “Ya, di sana sepertinya serem banget ya. Hidup tidak aman, … Continue reading

Harvard

Mejanya terlihat biasa saja. Di atas meja itu tergeletak sebuah piring kertas yang padanya terkapar pisau dan sendok plastik berlumuran saos. Kotor, tidak rapi dan mengenaskan. Di sebelahnya terhampar selembar kertas tisu, melambai-lambai terpapar desiran angin yang halus. Aku memandanginya dengan tatapan penuh selidit. Barang-barang itu tentu tidak istimewa. Mataku menerawang, melihat lelaki dan perempuan … Continue reading