Ambalat, Cinta dan Ambalita

Ambalita adalah nama anak saya. Lita panggilannya. Di peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, dia mengikuti upacara bendera di Negeri Belanda. Memperingati kemerdekaan di tanah penjajah tentu bukan peristiwa biasa. Lita sedang mengikuti aktivitas pertukaran mahasiswa selama satu semester di Erasmus University. Saya selalu mengatakan, Lita satu almamater dengan Bung Hatta, proklamator kita.

Kata Ambalita diinspirasi oleh istilah Ambalat. Bagi yang mengikuti hiruk pikuk relasi Indonesia dengan Malaysia, istilah ini tentu tak asing di telinga. Ambalat adalah blok dasar laut di Laut Sulawesi yang di tahun 2005 menjadi alasan bagi dua bangsa, Indonesia dan Malaysia untuk berseteru. Banyak yang mengatakan, itu adalah salah satu titik terendah dalam relasi kakak beradik Nusantara. Dua bangsa serumpun ini memang tak selalu rukun.

Continue reading “Ambalat, Cinta dan Ambalita”

Jumbo

Saya sudah menonton film animasi Jumbo karya Ryan Adriandhy. Saya nonton bersama keluarga: Asti, Lita, dan Wulan. Pendapat saya: luar biasa! Menonton Jumbo membuat saya mengingat diri sebagai anak sekaligus sebagai ayah. Mengutip apa yang disampaikan Pandji Pragiwaksono, Jumbo dengan sempurna telah memeluk jiwa kanak-kanak, sekaligus menguatkan naluri orang tua dalam diri penontonnya.

Setiap orang biasanya ingin dikejutkan sekaligus dibenarkan ketika menonton film. Dikejutkan, artinya, kita ingin sesuatu yang baru atau sulit ditebak. Disisi lain, kita ingin juga diberi ruang kesempatan untuk benar dalam menduga dan menebak. Untuk hal kedua ini, kita ingin sesuatu yang cukup familier dalam jangkauan imajinasi. Jumbo dengan sangat apik menyajikan keduanya.

Continue reading “Jumbo”