Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme

Kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor, maka makin sedikit alasan dosen Indonesia untuk tidak jadi profesor. Ini tentu saja berita buruk bagi banyak orang, terutama kami yang lebih tekun mencari alasan dibandingkan untuk mengusahakan pencapaian. Prof Zainal Arifin Mochtar  alias Uceng baru saja menetapkan sebuah standar baru tentang menjadi seorang profesor.

Pernyataan “kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor […]” dalam tulisan ini tentu saja tidak terkait dengan kualitas akademik dan kepakaran. Ini sama sekali bukan tanda meragukan kepiawaian dan kepantasan seorang Uceng untuk menyandang takhta guru besar. Kalau soal itu, mungkin tak ada yang bisa membantah. Mas Uceng sangat layak!

Continue reading “Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme”

Menjadi Konsultan FAO

Saya masuk sebuah kamar kos sederhana di Jakarta. Bukan hotel. Ukurannya cukup kecil. Suasanya sederhana. Maklum saja, harganya tidak sampai IDR 300K per malam. Saya hanya perlu istirahat sejenak.

Esok harinya saya berjalan kaki menelusuri gang perumahan menuju sebuah gedung megah: Hotel St. Regis Jakarta. Agak jomplang memang wibawanya dengan kamar kos saya yang tersembunyi di dalam gang.

Ini adalah hari pertama saya menyumbangkan pemikiran sebagai Konsultan FAO terkait implementasi BBNJ Agreement oleh Pemerintah Indonesia. Ya, terdengar agak serem nama jabatannya. Sebenarnya sih tidak seserem itu.

Continue reading “Menjadi Konsultan FAO”

MENJALIN CERITA, MENGENDAPKAN MAKNA: Sebuah Catatan Dua Hari Dua Malam di UMSU Medan

Akhirnya ke Medan lagi. Saya melawat ke Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) selama dua hari dua malam untuk berbagi cerita. Kali ini, saya diminta berbicara tentang konsep dan pengelolaan kelas internasional. UMSU mendapatkan hibah untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola Pendidikan internasional dan saya terhormat menjadi salah satu yang didaulat berbagi.

Selalu senang berkunjung ke UMSU. Selalu terkesan dengan keramahtamahan penghuninya. Hal itu sudah terasa sejak di bandara. Bang Muja, dosen UMSU, menjemput dengan cekatan dan membawa saya ke restoran padang untuk santap malam. Rendang jengkolnya tak mudah dilupakan. Ayam pop-nya nempel di lidah dalam waktu yang lama. Ada autentisitas rasa yang tak mudah ditemui di tanah Jawa.

Continue reading “MENJALIN CERITA, MENGENDAPKAN MAKNA: Sebuah Catatan Dua Hari Dua Malam di UMSU Medan”

Menyambut Mas Anies Baswedan di Teknik UGM

“Terima kasih atas kegigihannya mengusahakan” ucap Mas Anies ketika kami berangkulan sesaat ketika beliau baru saja tiba di Fakultas Teknik UGM. “Saya yang berterima kasih, Mas” kata saya menjawab. Saya yang memang mengawali komunikasi dengan Mas Anies terkait kedatangan beliau ke Fakultas Teknik UGM kali ini.

Selalu tidak mudah mendatangkan seorang Anies Baswedan. Tentu saja. Di tengah proses, sempat terjadi keraguan apakah beliau bisa hadir atau tidak karena perihal kesehatan Mbak Fery, istri beliau. Untunglah, setelah melewati berbagai ketidakpastian, Mas Anies menyatakan kesediaannya untuk hadir. Keputusan itu terjadi sepuluh hari sebelum hari H. Kami semua lega. Tak heran kalau Mas Anies menyebut keberhasilan rencana itu sebagai hasil dari kegigihan.

Continue reading “Menyambut Mas Anies Baswedan di Teknik UGM”

Pesan Whatsapp Presiden

Saya memberanikan diri untuk mengirimkan pesan Whatsapp kepada bapak presiden. Saya sampaikan ucapan selamat datang di UGM. Pada pesan itu saya tulis bahwa saya siap-siap belajar dari beliau. Tidak lama kemudian, beliau membalas dan mengatakan bahwa sepertinya saya tidak akan belajar banyak hal dari beliau. Jawaban yang begitu rendah hati.

Saya bertemu beliau untuk pertama kalinya tahun 2004 ketika saya kuliah di UNSW, Sydney, Australia. Saat itu beliau diundang dalam sebuah acara diskusi. Tentu saja beliau belum menjadi presiden ketika itu. Saya sudah terkesima dengan kemampuannya dalam bercerita. Lelaki ini dikarunia kemampuan bernarasi yang mengagumkan.

Continue reading “Pesan Whatsapp Presiden”

Meneruskan Kebaikan

Kemarin saya menghubungi seorang alumni Teknik Geodesi UGM. Made Sapta, Namanya. Dia adalah murid saya di tahun 2012 hingga 2016. Sapta Istimewa. Dia memberi banyak bantuan kepada saya selama kuliah. Sepertinya dia juga menikmati dan banyak belajar dari interaksi kami.

Kemarin saya mengenalkan seorang mahasiswa kepada Sapta. Mahasiswa yang perlu diberi kesempatan. Tak berpikir panjang, Sapta bilang “Oke siap,  siap membantu apa yg bisa saya bantu”. Dia lanjutkan “[j]adi teringat dulu saya dikenalkan ke mas Denni waktu masih kuliah, sekarang berganti peran, semoga bisa membantu 😁” Jawaban ini menghangatkan.

Continue reading “Meneruskan Kebaikan”