Kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor, maka makin sedikit alasan dosen Indonesia untuk tidak jadi profesor. Ini tentu saja berita buruk bagi banyak orang, terutama kami yang lebih tekun mencari alasan dibandingkan untuk mengusahakan pencapaian. Prof Zainal Arifin Mochtar alias Uceng baru saja menetapkan sebuah standar baru tentang menjadi seorang profesor.
Pernyataan “kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor […]” dalam tulisan ini tentu saja tidak terkait dengan kualitas akademik dan kepakaran. Ini sama sekali bukan tanda meragukan kepiawaian dan kepantasan seorang Uceng untuk menyandang takhta guru besar. Kalau soal itu, mungkin tak ada yang bisa membantah. Mas Uceng sangat layak!
Continue reading “Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme”
