[I Made Andi Arsana]
Indonesia adalah negeri dongeng yang tiada habis ceritanya. Setiap hari, setiap saat negeri ini menjadi bulan-bulanan para pengumbar cerita yang dengan bernafsu menggali hingga titik terdalam kenyataan-kenyataan yang mengundang cibir. Indonesiaku runtuh dalam kesia-siaan teriak, tangis dan bahkan tawa yang menghina dina.
Pulang kembali ke Indonesia adalah kembali ke pangkuan kenistaan yang aromanya tidak saja membunuh tapi juga menghentikan kelahiran. Kecurangan, kedengkian dan tidak pembodohan menjadi budaya yang tak lagi bisa dipisahkan dari pribadi. Akal dan etika tak lagi mampu membedakan mana yang terang dan gelap. Yang ada hanyalah yang nikmat di sisi lain dan dan getir di muka lainnya. Kecerdasan tak lagi diasah untuk membedakan mana yang baik dan buruk tetapi mana yang mudah dan yang sulit. Pulang kembali ke Indonesia adalah perjalanan memasuki neraka dunia yang tak kan habis kekacauan dan kegundahannya.
Jangan, jangan berharap kepada presiden karena dia adalah presiden Indonesia yang dijadikan pemimpin oleh orang-orang Indonesia juga. Jangan pula percaya kepada menteri karena mereka adalah menteri Indonesia yang diangkat oleh presiden Indonesia melalui wawancara dengan sistem yang dibuat dan direstui di Indonesia. Tidak perlu melaporkan kejahatan dan segala kebusukan ini kepada hakim dan penegak hukum karena mereka ternyata adalah orang Indonesia yang menjadi hakim atau penegak hukum dengan cara Indonesia juga. Mereka telah menjual sawah dan pekarangan Indonesia untuk menyuap panitia seleksi yang juga orang Indonesia.
Jangan mendengarkan gertak sambal polisi karena polisi justru akan menjerumuskan Anda menjadi semakin jauh dari keadilan. Ini karena polisi telah mengkorupsi nurani sejak ia menjadi calon polisi. Ia dengan kesadarannya telah menyuap seorang polisi tua yang malas dan terbiasa menghisap rokok di sudut kantor, agar bisa diterima menjadi polisi. Oh, jangan! Jangan sok menasihati si polisi tua karena rokok yang dihisapnya pun adalah hasil memeras rakyat. Tapi jangan salah, rakyat yang mereka peras adalah rakyat Indonesia. Rakyat yang lebih senang diperas dibandingkan mengikuti kaidah karena dengan begitu mereka bisa berteriak lantang bahwa hari ini telah diperlakukan tidak adil. Berita semacam ini menjadi suguhan empuk koran-koran yang juga adalah koran Indonesia. Koran yang diciptakan dengan semangat uang dan tidak mendidik.
Jangan terlalu kasihan kepada mereka yang kelaparan karena mereka adalah sekumpulan orang malas yang meninggalkan peluang di desa dan mengejar ketidakpastian di ibukota. Mereka juga adalah komoditi para calo keadilan untuk mendapatkan uang. Mereka, sekali lagi adalah orang Indonesia. Ketika Tuhan mengirim bencana, banyak yang kehilangan dan banyak pula yang berjasa. Saya sarankan jangan terlalu kagum, karena sebentar lagi yang berjasa akan muncul di TV Indonesia seperti keinginannya berbicara tentang kebaikan. Jangan pula membanggakan orang-orang kondang yang membantu si korban karena ternyata mereka diam-diam telah melubangi karung dan menikmati kucuran beras jatah bantuan. Apa yang mereka nikmati bahkan lebih besar dari apa yang seharusnya dinikmati oleh korban.
Lalu siapa yang salah? Tidak tahu! Kita tidak sedang mencarinya. Yang jelas jangan berharap banyak kepada kaum pendidik karena saat ini mereka sedang sibuk menulis proposal proyek penelitian yang hasilnya nanti akan digunakan untuk membeli susu untuk anaknya. Jangan pernah tanyakan kepada mereka tentang kualitas. Kualitas, menurut mereka, adalah keajaiban alam yang dicapai dengan semedi. Intinya, jangan berharap banyak karena mereka adalah para pendidik Indonesia. Mahasiswa? Jangan tambahi beban mereka yang terlanjur sibuk bermain-main. Ingatlah mereka juga orang Indonesia yang dilahirkan tahun 1980-an dan sulit mengerti makna sebuah perjuangan seperti halnya Bung Karno dan Hatta dahulu. Mereka tidak lagi bisa peka dan ideal karena SPP mereka terlalu mahal. Tidak cukup lagi waktu mendewasakan diri dengan berdemo, waktu terlalu mahal untuk digunakan sia-sia membahas karakter. Mereka lebih tertarik membuat VCD aktivitas pacaran mereka yang serba terlalu. Mereka telah tertindas dan akhirnya kerdil, terbiasa menempuh cara singkat.
Apakah tidak ada yang baik di Indonesia? Oh, banyak! Belajarlah cara berorganisasi kepada sekumpulan pencopet yang telah bisa berkoordinasi tanpa kata tanpa cacat dan mempecundangi seorang korban yang kebetulan juga adalah orang Indonesia yang sok kaya di satu sore. Belajarlah merencanakan sesuatu dari mereka. Mereka ahli dalam berstrategi, dinamis dalam mengubah cara operasi dan radikal dalam melakukan perubahan terhadap sebuah pendekatan. Sore ini, untuk keseratus ribu kalinya mereka telah menelanjangi sang malang tanpa sedikitpun disentuh hukum karena lihainya.
Di negeri ini, belajarlah kepada para pembajak hak cipta yang dengan lihai telah menguasai bisnis dan dengan tanpa syarat menundukkan mereka yang bergerak di garis bisnis yang legal. Para pebisnis pembajak ini dengan sukses telah menumbangkan pengusaha besar yang memiliki segepok persyaratan administrasi. Pebisnis gelap ini juga yang membuat saya, yang tidak punya uang ini, bisa menikmati film, musik dan segala hiburan dengan harga yang terjangkau. Jangan heran kalau pembajak ini sering kali Anda jumpai di sebuah ruang kuliah, mengenakan dasi dan berceramah tentang kebaikan dan idealisme.
Oh, jangan! Jangan kasihan kepada para seniman yang terbajak karena mereka sendiri tidak sempat berpikir tentang itu semua. Mereka sedang sibuk mengurus perceraian dan hak pengasuhan anak di depan kamera infotainment. Beberapa dari mereka juga sedang sibuk ikut kampanye untuk memperebutkan kursi wakil rakyat yang akhirnya akan mereka duduki dengan semena-mena, lupa dengan perjuangan hak cipta. Saya tidak heran, mereka adalah seniman Indonesia!
Tidak perlu mengadu kepada para pemuka agama karena mereka adalah calo-calo Tuhan. Mereka juga sedang sibuk membuat proposal-proposal religius, menjual ajaran kebaikan kepada BUMN dan mengobral kavling-kavling sorga dengan murahnya. Mereka kini mendirikan agen komunikasi dengan diskon besar-besaran menjanjikan kepada umat bahwa mereka bisa menelpon Tuhan dari tempat tidurnya. Jangan sangka hal seperti ini tidak laku. Produk mereka laris manis di mana-mana. Tidak mengherankan karena umat juga adalah umat Indonesia.
Beberapa dari calo Tuhan ini bahkan telah mempertontonkan kesakralan di TV. Mereka mempertontonkan bidadari dan memburu hantu dengan ligitimasi ayat-ayat kitab suci yang dipuja segenap umat.
Kaum papa, hina, miskin, kaya, terhormat bahkan bermartabat di negeri ini tidak begitu berbeda karena mereka adalah orang Indonesia. Lalu kepada siapa kita mengadu? Tulisan yang penuh hujatan dan tidak bertanggungjawab ini tidaklah hendak mencari solusi. Ini adalah gumaman kecil seseorang yang tidak tahu malu dan tidak tahu diuntung oleh sistem yang penuh kenikmatan semu ini.
Jangan! Jangan meminta pertanggungjawaban terhadap isinya karena saya adalah seorang penulis amatir yang sayang sekali juga adalah orang Indonesia. Dan dengan arogan, saya pun tidak ijinkan Anda untuk protes atau teriak karena Anda hanyalah seorang pembaca Indonesia yang emosional dan lebih mencintai sensasi dibandingkan informasi. Sekali lagi, jangan! Selanjutnya, saya akan diam saja menikmati caci, maki dan hinaan yang kian hari kian akrab karena saya sadari saya adalah orang Indonesia.







