Jika dikatakan “biasa“, tahun baru 2005 ini, hampir di seluruh belahan dunia, memang biasa, tidak ubahnya dengan tahun baru sebelumnya. Pertambahan waktu dan akhirnya pertambahan usia. Pesta, kembang api, begadang, jalan-jalan, refleksi, merenung, kontemplasi dan sebangsanya. Semuanya masih tetap sama.
Jika [mau] diistimewakan, jangankan tahun baru, setiap hari pun istimewa. Setiap saat adalah berkah dan saat untuk bersyukur. Hari Senin bersyukur karena masih diberi waktu untuk menghadapi hari kerja yang artinya masih memiliki harapan untuk masuknya sejumlah uang ke rekening di akhir bulan. Hari Selasa menjadi istimewa karena beberapa acara di televisi menyuguhkan keceriaan dan pelajaran yang berarti. Hari Rabu juga tidak kalah istimewanya karena kebetulan Bulan Purnama sehingga bisa menikmati indahnya malam sambil bersujud menghadap Hyang Widhi. Hari Kamis patut bersuka cita karena proyek yang ditugaskan oleh atasan dapat terselesaikan dengan baik. Hari Jumat sangat berkesan karena hari kerja yang pendek dan waktunya sholat bersama, mendengarkan lantunan puja dan puji terhadap Allah. Hari Sabtu adalah hari yang panjang dan menyenangkan karena saatnya melewatkan malam dengan orang-orang yang dicintai. Hari Minggu saat yang tepat untuk merecharge kembali sanubari dengan berkunjung ke Gereja mendengarkan senandung yang mengagungkan Tuhan. Begitu seterusnya, setiap saat adalah istimewa, setiap detik adalah berkah yang harus disyukuri. Sungguh malam tahun baru tiada lebih istimewa dari hari lain yang kita lalui.
Di Indonesia khususnya, akhir tahun 2004 ditandai dengan sebuah tragedi alam yang sedemikian dahsyatnya. Tidak kurang dari 90 ribu orang menjadi korban bencana gempa berpusat di Aceh yang disusul tsunami. Di seluruh dunia, dilaporkan tidak kurang dari 150 ribu orang meninggal. Sungguh sebuah tragedi alam yang luar biasa. Kejadian ini membuat tahun baru menjadi berbeda di Indonesia. Tidak ada lagi kembang api yang megah menandai pergantian tahun. Tidak ada teriakan suka cita mengiringi terompet menyambut fajar 2005. Yang ada hanyalah tangis duka dari wajah-wajah yang menunduk dalam. Tidak ada yang patut disalahkan dari kejadian ini. Tidak ada kaitannya dengan kegagalan pemerintahan atau derasnya korupsi yang konon masih saja bercokol dengan angkuh di bumi pertiwi. Ini adalah kejadian yang nampaknya memang harus terjadi sebagai pelajaran yang berat untuk kita semua.
Berbeda dengan tahun lalu ketika “Selamat Tahun Baru” diucapkan dengan senyum ceria penuh suka cita. Tahun ini, “Selamat Tahun Baru” nampaknya harus diucapkan dengan perasaan sedikit luka. Tentu saja bukan luka pesimis, tapi luka sedih dan prihatin atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh ribuan saudara kita di Aceh dan sekitarnya. Semoga tahun 2005 menjadi tahun yang membawa harapan. Selamat Tahun Baru.