This is what happen when you at the first time using computer after using Type writer for ages 🙂
[You are supposed to see a woman typing. Still seeing windows and boxes flying? please be patient. Can’t see anything? Please let me know]
Welcome to Sydney: Continuing the Tradition of “Pay Forward”
Some are coming while some others are leaving. The new comers turn up with millions of hope and optimism while those who leaving disappear with thousands of memories and expectations. This is the rhythm of life where the comings and the leavings are tight together as two interdependent phenomena. Never can someone stop a farewell by crying, neither to be too happy for a unity. They are both there to be enjoyed and accepted as they are.
We sometimes may only expect and pray for a “forever unity” but it is just as ridiculous as stopping the sun from rising up in the morning and setting down in the afternoon. They are both destinies nobody can deny, can you?
This month, as a part of long tradition, here come to Sydney seven of the best Indonesians, funded by AusAID, to study in one of the Australian best universities, UNSW. They, like others, come with questions, uncertainties and hopes at the same time. None of them could really hide their curiosity about the new environment they’ve just faced. Cross culture studies they’ve taken in Indonesia, undoubtedly, could not really cover every single phenomenon about this new place. They, simply, face new things. Some might be too simple, much simpler that what they anticipated, but more even complex, much more complicated than what they’ve prepared for. These are, once again, also part of the traditions: curiosity, underestimations, and overestimations. It is our unity that will put most of the things into their proportions.
Meanwhile, the former Indonesian students, again as part of tradition, continue the chain of regeneration. This is the day some of them become seniors, exactly as some new comers arrive. They, instantly, turn into people who “know everything” about Sydney and about being a student in UNSW. They know how to deal with academic matters, they know where to buy cheap winter shoes, they know how to manage fortnightly stipend and they know how to deal with collecting dumped households from the streets. They know everything, once again to say.
I smile to myself in front of a mirror, staring my face, a face of a senior student. It was not so long ago when for the first time I arrived in Sydney Airport and knew nothing. I owed so much to senior students who have dedicated their time and energy to comfort us and made us feel home in Sydney. Now, I think, is a perfect time for Pay Back. But wait! No, not back but forward! Yes, what I’ve just done to the new comers was a Pay Forward, instead of a Pay Back. It might worth nothing to do a Pay Back as none of senior students need to listen to my preach about Sydney Opera House, The Red Center, Calling Card and sort of things. On the other hand, my little mumbles about the place where to buy a sachet of Indonesian “Jamu” will mean really big to those who visiting Sydney for the first time. This is why we call it Pay Forward, assisting the new generation who need the most.
Floating thousands of kilometers from home, I feel like a little tiny dust in a universe that worth nothing. A friend is the biggest thing I have. However, I try NOT to FIND a friend but TO BE A FRIEND. I expect nothing but everybody does the “Pay Forward”! Welcome to Sydney!
Pejantan itu Tersungkur
Pejantan itu tersungkur tak berkutik. Terjerembab di bawah tumpukan puing kesombongan yang diusungnya sekian lama. Bukit keangkuhan itu baru saja tumbang lantak mengenaskan dan runtuh menimpa dinding hatinya yang ternyata rapuh.
Pejantan itu tergeletak tak berdaya, lemah tak mampu bangkit karena beban yang dibuatnya sendiri membebani kepala dan hatinya. Jadilah dia seorang makhluk pucat yang rapuh oleh hembusan angin senja.
Terlalu lama Sang Pejantan terbuai di singgasana yang membuatnya lupa belajar. Terlalu lama dihabiskannya waktu dengan menuai kesejahteraan tanpa banyak berikhtiar. Dia telah dimanjakan oleh waktu yang menjadikannya kehilangan kepekaan. Tangis, ratap dan penyesalan tiba-tiba tidak terdengar dan semuanya justru mempekeruh suasana. Akhirnya dia memilih untuk diam, mengamati setiap tarikan nafas dan aliran darah dalam pembuluhnya. Semua itu mengingatkan dia tentang semangat yang semestinya tidak pernah berhenti. Biarlah tubuh ini menikmati kesunyian seraya mengumpulkan sisa kesombongan untuk sesuatu yang tidak saja lebih besar tetapi juga lebih tangguh dan lebih bijaksana di saat kelak.
Peta Cuaca Australia Interaktif
Berikut ini adalah file FLASH yang menunjukkan Peta Cuaca Australia. Ini adalah peta interaktif yang bisa diubah tampilannya sesuai dengan keinginan Anda. Silahkan Klik “Next” untuk memulai. Klik icon lingkaran di setiap layer yang tersedia di kolom paling kanan untuk menampilkan atau menyembunyikan layer tertentu. Misalnya jika Anda ingin melihat citra satelit, silahkan klik icon lingkaran di sebelah “Satellite Image”. Untuk mendapat penjelasan yang lebih detail tentang citra satelit ini, silahkan klik icon “?” di sebelah “Satellite Image”
Selamat menikmati!
http://www.bom.gov.au/info/ftweather/resources/weather_map.swf
Tentang sebuah Dendam
[akhirnya kompas]
Ya ini adalah perihal sebuah dendam yang berkepanjangan. Dendam kepada sebuah harian nasional yang bernama KOMPAS. Yan, Anda benar, KOMPAS yang itu, bukan KOMPAS yang lain. KOMPAS yang pastinya akrab Anda baca sejak jaman bahula mungkin dari nenek moyang Anda 🙂
Pada pertengahan Juni 2003, ntuk pertama kalinya saya mengirimkan artikel ke harian KOMPAS tentang sesuatu yang saya kira sangat menarik. Pada tanggal 2 Juli 2003 pukul 12:27:18 +0700 saya menerima email dari redaktur opini yang isinya “maaf, artikel Anda yang berjudul “…” tidak dapat dimuat karena topik kurang aktual. Sedih dan kecewa. Inilah cikal bakal dendam itu.
Dua tahun berjalan, tidak ada kesempatan membalas dendam yang semakin menjadi hingga akhirnya sebuah artikel dikirim lagi. Kali ini tentang isu yang sangat hot di negeri Indonesia. Lagi-lagi ada balasan penolakan, walaupun kali ini lebih memacu semangat karena diikuti dengan nasihat harapan “tetaplah menulis dan meningkatkan kualitas”. Kecewa lagi dan bertambah lagi dendamnya. Email pertama kali 2 tahun yang lalu belum dihapus hingga hari ini, sebagai pertanda seriusnya dendam ini 🙂
Perasaan dendam menjadi semakin memuncak tatkala ada harian lain yang konon tidak kalah bergengsinya (kalau tidak boleh dibilang lebih bergengsi) telah memuat tulisanku. KOMPAS memang jual mahal!!!
Hari ini, 23 Juni 2005 akhirnya dendam itu terobati sudah. Sebuah artikel tentang Pilkada dan penetapan kewenangan daerah di wilayah laut telah dimuat. Dendam ini telah melahirkan energi postif yang luar biasa untuk terus berkarya dan akhirnya membuahkan hasil. Jika ada perasaan bangga, barangkali tidak ada kebanggaan yang melebihi kebanggaan yang sekaligus bisa mengobati dendam.
Terima kasih KOMPAS yang terlah mengajarkan cara mengelola dendam menjadi energi pencapaian.
Sea Territory an Agenda Item for Regional Elections
I Made Andi Arsana [The Jakarta Post] The local leadership elections currently taking place are one of the most important current issues in Indonesia.
This article will not dwell on the politics behind the elections or issues of democratization, but instead look at the powers of local governments as regards maritime territory.
A candidate standing in a local election needs to fully understand the rules governing maritime territory, aside from other important matters, as two-thirds of the country consists of ocean. [read….]
Sang Penjawab
Nampaknya Pak Google kini punya saingan yang cukup berarti. Setelah malang melintang sebagai sang penjawab utama di dunia maya, Google kini dibayang-bayangi setidaknya oleh dua rival yang tidak kalah canggihnya dalam hal menjawab kesulitan di dunia maya.
Sebut saja twingine, bukan nama sebenarnya [kayak koran lampu merah aja], adalah sebuah mesin pencari yang memadukan potensi google dengan yahoo sekaligus. Jika Anda menggunakan twingine.com untuk melakukan searching, secara otomatis pencarian akan dilakukan oleh yahoo dan google. Jadi akan ada dua hasil, satu dari google dan satu dari yahoo. Pada awalnya twingine mengidentifikasi dirinya dengan YAGOOHOOGLE sebagai gabungan dari yahoo dan google. Nama yang lucu 🙂 Namun karena alasan tertentu, akhirnya diganti menjadi TWINGINE yang kira-kira berasal dari TWIN ENGINE, dua engine yang bekerja sekaligus. Bagaimanapun juga, twingine tidak akan pernah lebih canggih dari google karena pada prinsipnya menggunakan potensi google (dan yahoo) untuk melakukan pencarian. Dengan kata lain, tidak ada fitur baru yang istimewa.
Sang pencajawab yang juga canggih adalah answers. Answers, berbeda dengan google, tidak hanya sekedar mencari URL yang mengandung sesuatu yang kita cari, tapi langsung memberi penjelasan. Misalnya ketika kita mengetikkan nama orang yang populer, secara otomatis answers akan menampilkan biografi orang tersebut. Lihat saja Soekarno, misalnya. Saya pun telah mencoba mencari Gandhi dan nama lain. Sekarang saatnya mencoba sesuatu yang akrab dengan Anda. Tapi kali ini jangan diklik langsung di sini. Silahkan coba nama Anda sendiri?
Pencarian juga disertai gambar dan ilustrasi sehingga menjadi lebih jelas. Misalnya Anda bisa mencoba mengetikkan tae kwon do untuk mendapatkan penjelasan dan gambar tentang olah raga bela diri tae kwon do. Tapi kalau Anda belum 18 tahun plus, jangan mencoba-coba mengetikkan “sex posititons“. Mulai saja dari hal-hal ringan seperti cara membuat pizza misalnya dengan mengetikkan pizza atau hal-hal ringan lainnya.
Kini semakin banyak sang penjawab bertebaran di dunia maya, siap 24 jam untuk menjadi teman curhat maupun supervisor riset. Semakin sedikit alasan untuk telat mengerjakan tugas dan laporan karena kekurangan resources 🙂
Jakarta Post lagi
Senang sekali, tulisan kedua dimuat di Jakarta Post. Kali ini, tulisan dibuat berdua sama Clive. Not bad lah, walaupun honornya gak terlalu tinggi 🙂
Silahkan lihat screen capture-nya atau baca di Jakarta Post
Apakah ini Pembajakan?
Hari ini saya melihat tulisan saya dipampang di situs Menkopolkam. Sekilas ada rasa bangga, karena bagaimanapun juga ini artinya tulisan saya layak dimuat oleh sebuah situs kementrian di Indonesia.
Setelah saya perhatikan ternyata ada hal yang kurang memuaskan:
- Tulisan ini, walaupun mengkopi secara keseluruhan tulisan saya, tidak sama sekali menyebut nama saya sebagai penulis. Padahal dalam tulisan asli yang ada di blog ini, jelas saya menulis nama saya.
- Di situs menkopolkam, alamat tulisan dibuat madeandi.blogspot.com sebagai sumber tulisan. Ini saya pikir sangat baik, walaupun penulisan URL inipun tidak lengkap karena tidak mengacu kepada URL tulisan yang dimaksud tetapi URL umum. Tetap saja, saya belum menemukan alasan mengapa nama penulis tidak dicantumkan.
- Tulisan ini dikutip bahkan hingga footnote-nya di mana footnote itu merupakan identitas saya sebagai penulis yang digunakan untuk menjelaskan nama saya sebagai penulis. Aneh sekali kelihatannya karena identitas saya (profesi dan institusi) sebagai penulis ada di sana tetapa nama saya tidak terkopi. Akhirnya saya berharap ini sebuah keteledoran biasa, lupa mengkopi, walaupun sesungguhnya hampir tidak mungkin.
- Sayapun berniat untuk memberikan komentar dan kritik atas kejadian ini. Bukan apa-apa, hanya sekedar mengingatkan agar kekeliruan kecil seperti ini tidak terjadi lagi. Bagaimanapun juga menurut saya ini adalah sebuah pelanggaran kode etik ilmiah.
- Seperti halnya anekdot yang berkembang saat ini, bahwa semua situs pemerintah memiliki link untuk “kritik dan saran” tetapi link tersebut tidak aktif. Demikian pula halnya dengan situ Menkopolkam ini, sayang sekali.
- Saya telah meng-capture semua tampilan situs Menkopolkam yang terkait dengan tulisan ini
Saya yang bangga menjadi orang Indonesia, menjadi sedikit kecewa dan akhirnya terpaksa menuliskan ini di sini. Semoga menjadi pelajaran buat kita semua. Jika kebetulan Anda memiliki akses ke Menkopolkam, ada baiknya hal ini diingatkan. Saya tentu saja tidak semangat memperpanjang perkara “kecil” ini namun setidaknya kita saling menghargai hasil karya masing-masing. Ada pendapat?
She can sing for you!
Disclaimer
This is taken from http://www.yonkis.com/mediaflash/timida.htm just for fun. However, you might not find it funny nor interesting because it may SURPRISE you. Never ever PLAY unless you really are ready for the surprise!
This beatiful girl can sing for you with astonishing voice. Have you got speaker ready? Turn it loud to get the best effect! Click play button to enjoy! It is not a good idea to click somewhere on the picture as it is linked to a site you might not like.
Did you find it interesting or shocking? Tell your friends; give them a break from their boring day 🙂