Kemarin saya menghubungi seorang alumni Teknik Geodesi UGM. Made Sapta, Namanya. Dia adalah murid saya di tahun 2012 hingga 2016. Sapta Istimewa. Dia memberi banyak bantuan kepada saya selama kuliah. Sepertinya dia juga menikmati dan banyak belajar dari interaksi kami.
Kemarin saya mengenalkan seorang mahasiswa kepada Sapta. Mahasiswa yang perlu diberi kesempatan. Tak berpikir panjang, Sapta bilang βOke siap, siap membantu apa yg bisa saya bantuβ. Dia lanjutkan β[j]adi teringat dulu saya dikenalkan ke mas Denni waktu masih kuliah, sekarang berganti peran, semoga bisa membantu πβ Jawaban ini menghangatkan.
Tanggal 11 Juni 2025 pagi, seorang kawan mengirim berita tentang empat pulau yang disengketakan Aceh dan Sumatra Utara. Itulah kali pertama saya mengikuti kisah sengketa itu dengan serius. Sebagai orang yang belajar hukum laut dan batas maritim, kisah itu menarik untuk mengasah dan menguji ketajaman pisau analisis saya.
Dari sebuah berita, saya akhirnya berselancar di internet dan melahap banyak berita lainnya. Saya paham, ada empat pulau yang sedang menjadi topik pembicaraan. Kini menjadi heboh karena konon pulau itu dialihkan kepemilikannya dari Aceh ke Sumatra Utara. Isunya menghadirkan daya ledak luar biasa.
Dilan Janiyar sedang viral. Dilan kini makin tenar. Sayangnya, kisah yang membuatnya tenar mungkin bukan kisah yang bersinar. Hatinya diiris sembilu yang pasti membuat hidupnya pilu. Saya berdoa dengan tulus untuk perjalanannya melewati kekalutan dengan mulus.
Dilan adalah mahasiswa saya ketika dia menjalani pendidikan di Teknik Geodesi UGM. Dilan masuk tahun 2018 dan menamatkan kuliahnya tahun 2023. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Dilan wisuda di tengah kehamilannya. Meski penuh drama, Dilan memastikan dirinya menjadi alumni Universitas Gadjah Mada. Alumni dengan ijazah.
Saya sudah menonton film animasi Jumbo karya Ryan Adriandhy. Saya nonton bersama keluarga: Asti, Lita, dan Wulan. Pendapat saya: luar biasa! Menonton Jumbo membuat saya mengingat diri sebagai anak sekaligus sebagai ayah. Mengutip apa yang disampaikan Pandji Pragiwaksono, Jumbo dengan sempurna telah memeluk jiwa kanak-kanak, sekaligus menguatkan naluri orang tua dalam diri penontonnya.
Setiap orang biasanya ingin dikejutkan sekaligus dibenarkan ketika menonton film. Dikejutkan, artinya, kita ingin sesuatu yang baru atau sulit ditebak. Disisi lain, kita ingin juga diberi ruang kesempatan untuk benar dalam menduga dan menebak. Untuk hal kedua ini, kita ingin sesuatu yang cukup familier dalam jangkauan imajinasi. Jumbo dengan sangat apik menyajikan keduanya.
Saya tidak setuju bahwa lulusan LPDP dibebaskan untuk tidak pulang ke tanah air tapi kalau belum membaca semua tulisan ini sebaiknya tidak meneruskan dan tidak berkomentar terlebih dulu.
Pak Menteri Satryo Soemantri Brodjonegoro baru saja membuat pernyataan yang mengundang perhatian dan berpotensi kontroversial. Beliau mengatakan penerima beasiswa LPDP yang sekolah di luar negeri tidak harus pulang ke tanah air. Ada yang setuju, banyak yang tidak.
Ya, saya mendapatkan penghargaan dari Menteri luar Negeri, Ibu Retno Marsudi. Bagi saya ini istimewa. Mendapatkan apresiasi dari Menteri Luar Negeri bukan sesuatu yang saya bayangkan ketika mulai menekuni isu perbatasan. Waktu bekerja dengan cepat. Semesta bersekongkol mewujudkan semua itu dengan sigapnya. Bagi orang lain, bisa jadi, penghargaan ini tidak Istimewa tetapi bagi saya, beda ceritanya. Bagi saya, keluarga, dan terutama Ibu dan Bapak saya, cerita ini akan mewarnai obrolan mereka di warung-warung kopi, di balai banjar, di arisan komunitas, di pertemuan lansia dan di acara yoga masal yang akan menjadi kian meriah.
Saya diminta menjadi anggota Tim Pakar Tim Teknis Penetapan Batas Maritim RI sejak tahun 2015, setahun sejak pulang dari Australia untuk menyelesaikan S3. Bidang yang saya tekuni sejak S2 di University of New South Wales (UNSW) dan S3 di University of Wollongong (UoW) memang batas maritim. Saya mempelajari bidang ini dari segi teknis dan hukum, terutama geospasial, bidang yang saya pelajari di Teknik Geodesi UGM. Ini rupanya yang membuat saya diberi tugas ini.
Tugas saya sebagai tim pakar tim teknis adalah memberikan masukan kepada tim delegasi perundingan Indonesia sebelum melakukan negosiasi dengan negara tetangga. Tugas ini saya emban berdasarkan Keputusan Menteri Luar Negeri. Prosesnya sederhana saja. Saya kerap diundang rapat untuk membahas suatu isu terkait batas maritim. Pihak Kementerian Luar Negeri sebagai lembaga utama dalam perundingan batas maritim biasanya memaparkan padangan dan posisinya terkait suatu kasus. Sebagai anggota Tim Pakar, saya diminta memberi tanggapan dan masukan. Di kesempatan lain, kami diminta untuk melakukan kajian tertentu untuk dijadikan dasar bagi masukan untuk tim perunding batas maritim.
Selama bertugas, saya sepertinya lebih banyak mengambil peran untuk menjelaskan perihal teknis terkait batas maritim. Susunan orang dalam tim penetapan batas maritim ini berganti dengan cepat maka selalu diperlukan proses edukasi. Tak jarang saya memainkan peran itu. Maklum, dosen, tugasnya memang menjelaskan. Artinya, tugas saya kadang tidak untuk memberi nasihat agar delegasi Indonesia mengambil posisi khusus dalam menghadapi negara tertentu.
Saya kian yakin bahwa batas maritim adalah perkara multidisipliner. Tidak cukup hanya paham geodesi. Tidak cukup hanya mengerti hukum. Batas maritim adalah kombinasi dari banyak hal. Maka dari itu, tim pakar terdiri dari akademisi dan praktisi dengan latar belakang yang berbeda. Selain saya, ada Almarhumah Prof. Melda Kamil (FH UI), Dr. A. Gusman Siswandi (FH Unpad), Dr. Kresno Buntoro (TNI-AL), Dr. Trismadi (purnawirawan TNI AL), serta Dr. Benyamin Sapiie (Geologi ITB). Selain tim pakar, ada juga penasihat yaitu Dr. Hassan Wirajuda, Prof. Edy Pratomo (Duta Besar), Prof Sobar Sutisna, dan Prof. Himahanto Juwana. Secara kolaboratif, kami memberikan masukan untuk dipertimbangkan. Yang pasti, saya banyak belajar dari para pakar ini. Dalam kelompok itu, saya memang yang paling muda secara usia.
Sebenarnya, anggota Tim Pakar seperti Saya tidak terlibat dalam perundingan. Meski demikian, saya juga pernah menjadi pengamat dalam sebuah perundingan dengan Timor Leste. Dari situ saya jadi tahu suasana perundingan yang sebenarnya. Saya tahu bagaimana seseorang mengajukan pendapat, bagaimana menyanggah, dan bagaimana menyetujui. Sebagai seorang surveyor, saya belajar berkomunikasi dengan kata-kata, tidak lagi hanya dengan titik, garis, dan luasan yang tertuang dalam muka peta.
Berada di lingkungan yang multidisipliner membuat saya belajar menyampaikan gagasan secara sistematis dan sederhana. Itu juga yang memotivasi saya membuat banyak animasi untuk menjelaskan perihal hukum laut. Tugas-tugas dari Kementerian Luar Negeri ini memaksa saya melatih otot-otot kreativitas saya dalam menyajikan perkara hukum yang rumit dalam sajian audio visual yang lebih βramahβ. Saya menikmati peran ini. Semoga teman-teman lain yang menyimak saya juga demikian adanya.
Pengalaman hampir satu dekade ini begitu berharga. Selama sepuluh tahun ini, ada tiga perbatasan yang berhasil disepakati dengan negara tetangga. Ini pencapaian yang baik mengingat penetapan batas maritim bukan perihal yang mudah. Saya merasa senang menjadi bagian kecil dari pencapaian ini. Merasa bangga karena apa yang sering saya dongengkan di kelas memang ternyata bermakna bagi kehidupan nyata. Bahwa apa yang saya ajarkan adalah perihal yang relevan dan tengah dihadapi oleh bangsa ini. Sebagai guru, ini menabalkan rasa percaya diri dalam berbagi di ruang-ruang kelas.
Ibu Menlu Retno Marsudi telah dicukupkan tugasnya sebagai Menlu. Beliau segera akan mengambil peran yang lebih besar, menjadi Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air Dunia. Pemberian apresiasi kepada kami, para Tim Pakar, Tim Penasihat, dan Tim Teknis Penetapan Batas Maritim sekaligus adalah acara perpisahan beliau. Saya bisa merasakan, Bu Retno adalah orang yang disayang banyak orang. Sikapnya yang profesional sekaligus humble membuatnya mudah untuk disukai. Hal itu tampak jelas dari sikap dan pidatonya pada saat penganugerahan penghargaan.
Saya jadi ingat, pertemuan saya terjadi pertama kali di tahun 2013 di Amsterdam ketika beliau menjadi Duta Besar RI untuk Belanda. Ketika itu saya menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis PPI Belanda. Waktu memang cepat berlalu. Sebelas tahun kemudian, kami bertemu lagi, bersalaman lagi, dan berfoto lagi. Peran dan suasananya berbeda. Yang sama hanya satu: Indonesia kita!
Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman Sawit Sari di Jogja. Suasana teduh berangsur hadir, menggantikan terik yang menyengat. Bapak Ir. Suprapto baru saja dikebumikan. Kini tersisa keluarga dekat yang menuntaskan rasa sedih dan kehilangan. Saya pun perlahan pergi. Mengingat Pak Prapto adalah mengingat seorang guru. Saya tidak akan melupakan satu perkara tragedi di tahun 1998 silam ketika menjadi murid beliau di Teknik Geodesi UGM. Saya terlambat dan tidak bisa mengikuti ujian. Survey Pemetaan Lau adalah nama mata kuliah itu dan Pak Prapto adalah pengampunya.
Dengan takzim saya menghadap beliau dan menceritakan duduk perkaranya. Saya akui lalai dan tak ada hal lain yang patut disalahkan. Pak Prapto tersenyum tenang dan bertaya, βMas Andi belum pernah nggak lulus mata kuliah ya?β dan saya menggeleng. βMungkin ini adalah yang pertama kaliβ kata beliau sambil masih tersenyum tenang. Beliau tidak mau dan tidak bisa menolong. Menurut beliau, sebuah pelajaran harus diraskan sendiri oleh seorang pembelajar.
Saya melangkah gontai keluar dari ruangan beliau. Diam-diam saya berjanji. Jauh di dalam hati. Kelak ilmu ini, ilmu tentang laut, harus saya tekuni. Ada pesan emosi yang mendera kepala saya ketika itu. Sesal dan marah hadir di masa itu tetapi jauh di masa depan, pelajaran segera tiba dengan sempurna. Bahwa hanya dengan memberi konsekuensi yang semestinya, seseorang akan belajar dari kesalahannya. Pak Prapto mengajarkan itu dengan sempurna.
Ketika saya mengulang mata kuiah beliau, Pak Prapto menyempatkan diri untuk βmengumumkanβ hal penting kepada peserta yang mayoritas adalah adik tingkat. βMas Andi ini mengulang, bukan karena tidak mampu. Waktunya tersita karena harus persiapan berangkat ke Korea Utara.β Entah dari mana hadir ide itu. Saya memang pernah menceritakan kesibukan itu meskipun tak banyak kaitannya dengan keterlambatan saya saat ujian. Semua itu adalah akibat keteledoran sendiri. Pak Prapto memilih untuk menunjukkan βpembelaanβ. Sebuah pembelaan yang diniatkan dan dilakoni sendiri tanpa permohonan. Demikianlah seorag guru, semestinya.
Pak Prapto adalah bukti hidup tentang ajaran βbelajar tidak mengenal batas usiaβ. Di usianya yang sudah 80an tahun, Pak Prapto memulai hobi baru: melukis. Lukisannya tidak bisa dibilang amatir atau iseng. Goresannya mantap dan memancarkan kebijaksanaan matang yang sarat akan pengalaman. Garis-garis yang ditorehkan di atas kanvas adalah nasihat kepada siapa saja yang ragu akan dirinya. Ragu untuk memulai sesuatu yang baru. Ragu untuk berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya. Pak Prapto, lewat warna warni dan berbagai arsiran di lukisannya, mengajarakan kepada kita untuk tidak takut melihat sisi lain dari diri kita yang mungkin sering kita lupakan atau malah kita takuti.
Sore ini, ketika beliau dikebumikan, pelajaran itu hadir lagi. Tidak saja sekedar hadir tetapi tumbuh menguat karena disirami bukti-bukti dan jejak karya yang nyata. Hal itu disajikannya hingga akhir hayatnya. Konon, kepergian beliau menghadap Tuhan, terjadi dengan βsempurnaβ. Pak Prapto sedang berjalan kaki dari rumahnya menuju acara Persekutuan Doa. Beliau terjatuh di tangah perjalanan untuk memberikan pelayanan kepada Tuhan dan umat. Alam memang berkerja dengan sempurna. Kepergian beliau mengagetkan namun telah memberi akhir yang istimewa bagi beliau. Akhir yang sempurna tanpa derita. Semoga. Selamat jalan, Pak Prapto, guru kami.
Pemakaman Sawit Sari, 14 September 2024 Doa seorang murid, I Made Andi Arsana
Dosen pasti pernah mengalami ini. Saya sudah mengajar lebih dari dua dekade dan sering mengalami hal ini. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup mahasiswa sehingga kadang mereka tidak ada dalam kodisi terbaiknya saat kuliah. Maka, wajah tidak bersemangat bisa nampak dengan jelas.
Dosen tidak jauh beda. Tidak selalu saya berenergi penuh ketika masuk kelas. Maka tampang lelah sulit disembunyikan. Lebih parah lagi, pembelajaran jam satu siang membuat semuanya jadi sempurna. Sempurna untuk tidak dilanjutkan. Apa yang harus dilakukan ketika ini terjadi?
Kemarin saya mengalaminya lagi. Tentu saja saya bisa memutuskan untuk menghentikan kelas lalu memberi tugas atau alasan lain yang bisa dibenarkan. Atau bisa melanjutkan dengan sekenanya, membiarkan suasana kelas yang tidak kondusif, yang penting selesai. Godaan untuk melakukan hal-hal mudah sering kali muncul. Godaan untuk menyerah dan tidak peduli, mudah datang di saat demikian.
Tentu saja, saya juga bisa juga memilih hal yang lain. Saya kadang menantang diri saya sendiri di saat seperti ini. Tidak untuk membuktikan kepada siapapun tetapi kepada diri sendiri. Bahwa mengajar adalah pilihan hidup saya maka tidak ada faktor luar yang bisa membuat saya menjadi lebih baik. Semua ada di dalam diri. Maka saya kumpulkan sisa energi dan ubah strategi.
Saya paksa diri untuk mengeluarkan seluruh energi. Fokus, serius, antusias. Tentu saja, di awalnya, semua itu adalah pura-pura dan hasil memaksakan diri. Tidak mudah untuk mengubah suasana kelas di jam-jam rawan seperti itu. Mahasiswa pun kadang merespon itu sebagai suatu βkeanehanβ karena semangat βberlebihanβ itu kadang dirasa tidak tepat di situasi mereka yang ingin menyudahi pembelajaran.
Saya sebenarnya bisa menyerah tetapi bisa juga bertahan. Saya pilih bertahan. Suara saya atur sedemikian rupa. Tatapan mata saya jaga agar terjadi kontak dengan lebih banyak mahasiswa. Intonasi suara dipaksakan agar meyakinkan. Intermezzo juga lebih sering dimunculkan. Yang sangat penting, personal stories adalah andalan terbaik. Semua orang perlu mendengar sesuatu yang relatable. Cerita pribadi yang relevan adalah salah satunya.
Pelan-pelan, setelah sekitar 15 menit berjuang, suasana kelas berubah. Satu atau dua mahasiswa mulai ikut mengangguk. Ada yang tersenyum, ada juga yang mengernyitkan dahi. Nampaknya saya mulai berhasil. Saya dibuat percaya lagi, usaha memang tidak mengkhianati hasil. Di saat kritis dan genting, saya perlu kembali pada prinsip-prinsip dasar dan alasan fundamental mengapa saya memilih profesi ini.
Kelas saya tutup dengan cerita klasik, dialog saya dengan bapak saya di tahun 2002 yang akhirnya mengantarkan saya kepada pilihan menjadi dosen. Saya kisahkan kepada mahasiswa itu, pada akhirnya pertanyaannya bukanlah βapa pekerjaanmu saat ini?β tetapi βapakah yang kamu kerjakan saat ini adalah pilihanmu?β. Saya lihat wajah-wajah yang menyimak takzim. Energi positif itu menular. Niat baik juga. Di kelas βIde Kreatif dan Kewirausahaanβ saya yakin, hal ini sangat relevan.
Malam itu saya mendapat sopir ojol Perempuan untuk perjalanan dari kampus ke rumah. Tidak aneh tetapi juga belum biasa. Dalam hidup, mungkin baru dua kali saya mendapatkannya. Sejujurnya, ada rasa rikuh dibonceng motor oleh seorang perempuan. Saya memilih untuk sesedikit mungkin berbicara.
Beliau orang yang ramah. Cukup lihai memulai komunikasi sehingga ada satu atau dua obrolan baik di sepanjang perjalanan yang macet. Gigih nian perjuangannya. Suaminya seorang satpam dan kini mereka menghidupi dua orang anak. Saya bertanya kisahnya menjadi sopir ojek online. Sejujurnya saya penasaran melihat seorang perempuan masih harus di jalanan Ketika hari cukup larut. Salut!
Di suatu malam, Lita, anak kami, menelpon. Sesuatu yang tidak umum terjadi. Asti, ibunya, antusias menerima, ternyata terdengar suara setengah merintih. Lita sakit. Mendengar berita buruk dari anak yang memilih tinggal di kos tentu bukanlah hal yang menyenangkan. Saya sebenarnya panik. Ibunya tidak begitu panik. Kok bisa ya?