Menjadi Konsultan FAO


Saya masuk sebuah kamar kos sederhana di Jakarta. Bukan hotel. Ukurannya cukup kecil. Suasanya sederhana. Maklum saja, harganya tidak sampai IDR 300K per malam. Saya hanya perlu istirahat sejenak.

Esok harinya saya berjalan kaki menelusuri gang perumahan menuju sebuah gedung megah: Hotel St. Regis Jakarta. Agak jomplang memang wibawanya dengan kamar kos saya yang tersembunyi di dalam gang.

Ini adalah hari pertama saya menyumbangkan pemikiran sebagai Konsultan FAO terkait implementasi BBNJ Agreement oleh Pemerintah Indonesia. Ya, terdengar agak serem nama jabatannya. Sebenarnya sih tidak seserem itu.

Sederhananya, dunia baru saja membuat kesepakatan tentang pengelolaan dan perlindungan sumber daya laut di luar kewenangan negara mana pun. Maka disebut Biodiversity Beyond National Jurisdiction alias BBNJ. Indonesia telah meratifikasi (mengakui) kesepakatan itu dan kini bersiap untuk mengimplementasikannya. Di sinilah saya diberi kesempatan berkontribusi. Karena didanai oleh organisasi PBB, Food and Agriculture (FAO), maka saya disebut FAO Consultant.

Yang paling penting bukanlah peran saya tetapi cerita di balik ini semua. Saya mendapatkan kesempatan ini karena direkomendasikan oleh seorang kawan. Dr. Zaki Mubarok, namanya. Beliau adalah sahabat baik sejak lama. Kami sama-sama S3 di ANCORS, University of Wollongong, Australia dan sama-sama pernah mengikuti program United Nations-Nippon Foundation Fellowship di New York. Persahabatan yang dijalin dengan baik memang bisa melahirkan kesempatan-kesempatan profesional.

Orang kadang bertanya “apa hubungannya pangan dan pertanian dengan geodesi?” Titik temunya ada di laut. Saya telah belajar ruang-ruang dan kewenangan di laut sejak lebih dari dua dekade. Pengelolaan dan perlindungan sumber daya laut, yang salah satunya menjadi sumber pangan, tentu terkait erat dengan ruang-ruang laut, baik itu di dalam maupun di luar kewenangan negara. Jadi, peran saya ini jelas ada dasar dan alasannya.

Hari ini secara formal saya mendapat akun email ini: i.arsana@fao.org. Ada domain FAO.ORG di belakangnya. Ini memang email biasa tetapi bagi saya, ini hadir memberi pesan. Pesan yang tegas dan jelas, bahwa orang Teknik Geodesi yang rela belajar hal-hal non teknis bisa mendapat kesempatan berkarya di lingkup yang lebih luas. Pesan yang bening, bahwa anak seorang penambang batu padas dari Desa Tegaljadi yang ibunya hanya lulus SD dan ayahnya bahkan tidak sempat menamatkan sekolah dasar juga diberi kesempatan yang sama oleh alam semesta yang penuh kasih.

Yang lebih penting, kesempatan ini memberi pesan bahwa ketika ada kelimpahan materi yang disuguhkan dunia, kita tetap berhak untuk memilih hidup yang bersahaja. Bahwa dinding-dinding kamar kos yang sederhana semestinya tidak pernah memenjara gagasan sehingga dia bisa melesat menuju sebuah perjamuan intelektual di St Regis Hotel. Meminjam ujaran Bung Karno kepada UGM, semoga bukan untuk kemuktian diri semata, tetapi untuk pengabdian. Semoga demikian adanya.

Jakarta, 17 Desember 2025

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?