[sebuah obituari dari I Made Andi Arsana]
Seorang surveyor pemeta Nusantara telah gugur. Farid Yuniar wafat setelah menjalankan tugasnya untuk melukis wajah bumi di permukaan peta yang rata. Selamat jalan Farid. Seorang sahabat. Seorang murid. Seorang guru. Seorang teladan bagi mereka yang berjuang mengalahkan diri sendiri untuk tetap bergerak dan melaju.

Di tahun 2005, ketika Sengketa Ambalat meledak dan membawa Indonesia dan Malaysia ke titik terendah dalam relasi, saya mengenal Farid sebagai mahasiswa baru di Teknik Geodesi UGM. Seminar nasional tentang Ambalat di UC UGM mempertemukan kami. Kala itu, saya adalah pembelajar awal di bidang batas maritim dan mendapat tugas sebagai moderator. Sebagai mahasiswa baru, Farid adalah peserta yang penuh perhatian.
Farid mengirimkan sebuah pesan selepas acara itu. Dia mengenalkan dirinya. Cara bertuturnya mengesankan. Sejak itu, saya tidak pernah melupakan sosoknya. Farid adalah anak muda yang bersedia memulai bercakapan.
Di tahun 2007 ketika saya bertugas di PBB di New York, saya menelorkan sebuah ide untuk mengajar secara online dari New York ke Jogja. Kala itu, mata kuliahnya adalah Penetapan dan Penegasan Batas Wilayah dan Farid adalah salah satu peserta dari Angkatan 2004. Farid meminjamkan laptopnya untuk digunakan di kelas. Dari New York, saya gunakan laptol itu sebagai partner dalam komunikasi menggunakan Skype. Iqbal Taftazani, mahasiswa tingkat akhir, berlaku sebagai asisten yang saya beri instruksi dari setengah lingkaran bumi. Hari itu, lahir sejarah tentang kuliah online, jauh sebelum pandemi Covid-19 tiba, dan Farid adalah sosok penting dalam sejarah itu.
Di tahun 2008, saya mengajak Farid, Krisna, dan Vito untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam konferensi Masyarakat Pengindraan Jauh Indonesia (MAPIN) yang diadakan di Bali. Mereka saya ajak menginap di rumah dan berkesempatan menjelajah Desa Tegaljadi di kala pagi. Momen penuh pelajaran dalam relasi guru murid yang begitu hangat. Sawah, pancuran, dan padi yang hijau menjadi latar sebuah relasi yang penuh inspirasi. Farid menjadi perekat yang mencairkan relasi sehingga keluar dari jebakan yang terlalu hierarkis.
Farid menekuni batas wilayah dalam karier akademiknya. Sayang sekali, tak sekali pun dia sempat saya bimbing secara formal. Selalu ada urusan lain yang harus saya selesaikan di luar kampus ketika di menulis skripsi atau tesisnya. Keduanya diselesaikan di Departemen Teknik Geodesi UGM. Menariknya, relasi intelektual kami tidak pernah putus. Farid adalah salah satu orang yang paling menyenangkan untuk diajak berdiskusi soal batas wilayah. Formal maupun informal. Kesenangannya menulis dan bercerita telah menjadikannya seorang penutur yang baik.
Menekuni urusan batas wilayah membawanya bekerja di Badan Informasi Geospasial. Tempat bekerja yang menjadi mimpi banyak orang yang belajar geodesi dan Geomatika di Indonesia. Farid diterima dan secara tepat ditugaskan di Pusat Pemetaan Batas Wilayah. Farid adalah murid saya di masa awal ketika batas wilayah menjadi mata kuliah baru di Teknik Geodesi UGM. Dia menekuninya dengan baik saat kuliah lalu bekerja di bidang yang sama, di salah satu institusi paling penting di Indonesia. Sebuah skenario yang nyaris sempurna.
Farid gemar merangkai kata. Ketika saya merenung mencari frase yang tepat untuk judul buku yang saya tulis di tahun 2010, Farid memberi masukan “Cincin Merah di Barat Sonne”. Itu adalah judul buku perdana saya yang menggabungkan imajinasi popular dengan geodesi dan geomatika. Farid ada di baliknya. Tulisan-tulisannya di blog atau media sosial juga kerap penjadi pengusik bagi pemikiran dan perenungan saya. Farid adalah orang yang ekspresif dalam menyampaikan perasaannya dalam bentuk tulisan.
Ketika pandemi tiba, Farid mengajak saya untuk kolaborasi membuat video tentang bekerja dari rumah, tentang mengajar online, dan tentang kreativitas selama pandemi. Ini seperti membawa saya ke titik awal pertemanan saya bersama Farid. Masa ketika saya mengajar di pagi buta dari kamar saya yang dingin di New York untuk mahasiswa Teknik Geodesi UGM yang antusias atau kelelahan di Jogja di sore hari. Tiga belas tahun berlalu, kami masih berkolaborasi untuk perihal yang tidak jauh berbeda.
Farid tidak pernah hilang dari pergulatan intelektual saya. Dia adalah salah satu orang pertama yang saya hubungi ketika isu batas wilayah memerlukan obrolan serius. Pengetahuan dan pengalamannya kian menebal dan saya harus banyak belajar. Tak jarang, Farid hadir di kelas saya di UGM baik secara online maupun offline. Kegemarannya berbagi membuat namanya selalu beredar dalam ingatan banyak orang.
Pertemuan terakhir kami adalah ketika kami merundingkan soal empat pulau yang menjadi sumber sengketa Aceh dan Sumatra Utara. Di forum itu, kami duduk berseberangan meja, menjadi lawan bicara namun teman diskusi yang hangat dan efektif. Di Grup Whatsapp Alumni Magister Teknik Geomatika UGM, Farid mengirim potongan video yang menunjukkan saya tengah bicara di forum itu. Ditulisnya “tidak ada yang lebih membahagiakan dari murid yang bisa mendengarkan langsung gurunya menjelaskan.” Farid, sungguh menyentuh.
Farid adalah yang menasihatkan kepada saya untuk merekam sebanyak mungkin kejadian dan peristiwa ketika bersama orang tua. Hal ini adalah bentuk catatannya ketika tiba-tiba ditinggal ibundanya. “Kalau bisa, rekam video sebanyak mungkin bersama ayah, Pak. Itu akan sangat berarti ketika beliau tiada” katanya dalam satu percakapan. Saya menyimak dan melaksanakan nasihat itu. Benar adanya, apa yang dinasihatkannya. Sayangnya, saya tidak menyangka bahwa video rekaman yang banyak itu semestinya berisi wajahnya sebelum kemudian pergi untuk meninggalkan kefanaan ini.
Selamat jalan Farid. Terlalu banyak cerita yang tersisa dalam ingatan. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang tercatat. Tulisan ini tidak akan pernah cukup. Sampai bertemu lagi kelak. Kita akan bercerita tentang batas wilayah. Tidak untuk mengukuhkannya tetapi untuk merobohkannya. Karena sejatinya, dalam kebaikan, tidak ada sekat dan batas. Seperti yang Farid ajarkan, yang tersisa adalah kelapangan hati tanpa batas. Sampai jumpa lagi, Sahabat!