Malam itu saya mendapat sopir ojol Perempuan untuk perjalanan dari kampus ke rumah. Tidak aneh tetapi juga belum biasa. Dalam hidup, mungkin baru dua kali saya mendapatkannya. Sejujurnya, ada rasa rikuh dibonceng motor oleh seorang perempuan. Saya memilih untuk sesedikit mungkin berbicara.
Beliau orang yang ramah. Cukup lihai memulai komunikasi sehingga ada satu atau dua obrolan baik di sepanjang perjalanan yang macet. Gigih nian perjuangannya. Suaminya seorang satpam dan kini mereka menghidupi dua orang anak. Saya bertanya kisahnya menjadi sopir ojek online. Sejujurnya saya penasaran melihat seorang perempuan masih harus di jalanan Ketika hari cukup larut. Salut!
Di sepanjang jalan yang sudah dekat rumah, tiba-tiba motornya mengalami gangguan. Mesin tiba-tiba mati dan motor berhenti seketika. Syukurlah tidak terjadi hal yang lebih parah. Kami menepi. Motor mati total dan tidak bisa dihidupkan lagi. Distarter tidak mau, starter kaki malah macet, tidak bisa digerakkan sama sekali. Naas nian. Saya tidak bisa membantu banyak.
Di tengah kebingungan dua orang yang sama-sama tidak paham permesinan, tiba-tiba tiga orang pemuda menghampiri. Mereka naik dua motor dan berhenti di dekat kami. Satu orang yang paling senior bertanya. Sebenarnya mereka bertanya sopan tetapi saya, terus terang saja, agak curiga dan tetap waspada. Bisa jadi mereka berniat jahat, atau memanfaatkan situasi. Demikian pikir saya.
Dari gerak-geriknya, nampaknya mereka memang berniat menolong. Saya beri mereka kesempatan memeriksa motor. Dari percakapan ketiganya, nampaknya mereka mengerti perihal mesin motor. Yang satu bahkan secara fasih mencabut tutup oli dan memeriksa kondisinya. Dia sentuh bagian ujungnya yang basah oleh oli lalu mencium dan merasakannya dengan memilin jari. Dia duga, olinya bermasalah. Mungkin perlu segera diganti.
Saya harus tiba di rumah dengan segera karena ada tugas lain. Awalnya ada rasa tidak tega untuk meninggalkan sopir ojol perempuan sendirian berhadapan dengan tiga pemuda ‘jalanan’. Namun setelah melihat gelagat dan cara komunikasi mereka, saya mulai tenang. Saya pun memutuskan untuk pulang duluan. Mungkin jalan kaki karena tidak begitu jauh.
Saya bilang, “Mas, ditulungi yo mbake iki. Aku ta’ bali sik. Selak ono acara, ki aku.” “Oh nggih, Pak” jawab salah satunya sopan. “Bapake tasih tebih nopo daleme?” tanya dia memastikan apakah rumah saya masih jauh. “Diterke sik, ki Bapake, aku ta nyoba nggolekke bengkel” kata yang paling senior memberi instruksi kepada salah satu dari mereka. Saya terharu, mereka rupanya memikirkan bagaimana saya bisa pulang.
“Mas, matur nuwun ya. Ditulungi ya!” kata saya sambil menyerahkan sejumlah uang. Saya bermaksud memberi uang kepada pemuda itu karena sudah bersedia membantu. Saya kira pasti akan perlu uang untuk ke bengkel. Saya duga, mbak sopir ojol perlu bantuan itu. “Mboten Pak.. mboten” katanya menolak dengan serius. Saya ‘memaksa’ tetapi dia tetap tidak mau. Akhirnya dia berucap “Mbake mawon” sambil mengisyaratkan agar saya memberi uang itu kepada mbak sopir ojol. Saya menuruti ide itu. Sambil bingung, mbaknya ‘terpaksa’ menerima seraya berterima kasih begitu rupa.
Saya pun melaju diantar oleh salah seorang pemuda. Di sepanjang jalan kami ngobrol. Ternyata mereka adalah anak-anak STM jurusan otomotif. Saya menjadi lebih lega lagi. Sesampainya di rumah, saya beri sejumlah uang kepada pemuda itu. Dia menolak dengan sopan. “Mboten sah, Pak” katanya. Saya memaksa dan dia bersikeras menolak “pun, mboten sah. Kula Ikhlas Pak” katanya dengan nada sopan. Sebuah pelajaran penting dari Jogja yang Istimewa.
Kadang kita beranggapan semua urusan dengan duit, tapi ada benar mereka yang ikhlas membantu tanpa berharap imbalan..Kisah-kisah seperti ini yg menjadi imboost kita utk selalu menjadi baik Krn masih ada orang2 baik..
membaca tulisan ini membuat saya merindukan masa kuliah di Jogja. mungkin tepatnya, merindukan kehangatan orang-orang Jogja 💖