Catatan terbuka untuk calon mahasiswa dan para orang tua
.
SMA 3 Denpasar, awal 1996
Saya dipanggil oleh kepala sekolah ke ruangan beliau. Pasalnya, saya tidak memilih Kedokteran UI untuk jalur masuk PMDK ketika itu. “Saya tidak berminat jadi dokter, Pak” demikian saya jawab. Saya juga sampaikan hasil penelusuran saya tentang SPP masuk UI dan biaya hidup di Jakarta. Angkanya membuat semua itu tidak mungkin bagi saya. Kepala sekolah melunak.
.
“Saya hanya mendaftar Teknik Geodesi UGM Pak” kata saya ketika ditanya berikutnya. Tidak berhenti di situ, beliau bertanya lagi “mengapa tidak memilih Kedokteran Udayana, Unair, Brawijaya, atau kedokteran lainnya?” Rupanya, menjadi dokter adalah hal teratas yang ada di pikiran beliau ketika itu, hingga lupa bahwa saya memang tidak berminat menjadi dokter. Lebih tepatnya, saya tidak merasa mampu menjadi dokter.
.
Kepala sekolah mungkin hanya berpegang pada nilai rapot saya ketika itu, maka beliau ngotot mendorong saya untuk masuk kedokteran. Di masa itu, dengan pemikiran beliau yang mapan, dan situasi masyarakat, bisa dimengerti mengapa dorongannya untuk menjadikan saya seorang dokter begitu kuat. “Saya memilih Teknik Geodesi UGM, Pak” demikian saya tegaskan dan tetap pada pendirian saya.
.
“Pilihan keduamu apa?” tanya beliau. Saya bilang “tidak ada, Pak” dan membuat beliau sedikit terkejut. “Kamu tidak punya pilihan lain? Kalau tidak diterima di UGM gimana?” tanya beliau dengan nada setengah penasaran. Dengan keyakinan seadanya, saya menjawab. Pertama, saya memang tidak punya greget untuk memilih bidang-bidang ilmu yang populer ketika itu. Kedua, saya ingat betul bahwa jika memilih PMDK (atau UGM menyebutnya PBUD), sebaiknya memilih satu saja agar kesempatan terbuka untuk lebih banyak orang. Ada bongkahan idealisme anak usia 18 tahun yang sulit diterjang.
.
Bapak kepala sekolah menatap saya. Saya yakin, ada banyak perkara yang berkecamuk di kepalanya. Beliau memahami saya. Mantan ketua OSIS SMA 3 ini mungkin terlalu keras kepala. Tak berbilang ‘perseteruan’ penuh pembelajaran yang telah kami alami dalam relasi sebagai kepala sekolah dan Ketua OSIS selama setahun sebelumnya. Meski keras, beliau orang yang bijaksana dan begitu visioner. Dengan pesan-pesan seorang bapak, beliau akhirnya melepas saya dari ruang kepala sekolah. Menerima pilihan saya dan mendoakan penuh seluruh.
.
Di rumah, saya tidak pernah berdebat dengan orang tua soal pilihan belajar. Bapak saya yang tidak lulus SD dan ibu yang hanya lulus SD tidak punya pendapat sistematis untuk mengarahkan, apalagi melarang saya. Yang ada hanya senyum dukungan. Saya adalah anak yang beruntung dengan segala kemewahan kepercayaan yang tumpah ruah dari orang tua. Itu adalah privilese yang tiada bandingannya. Itu yang membuat langkah saya ringan untuk memilih Teknik Geodesi UGM. Menjadi pilihan utama dan pertama serta satu-satunya.
.
Jika ditanya, saya pun tidak paham apa itu Teknik Geodesi. Tapi bukankah sama tidak pahamnya saya dengan bidang ilu lainnya. Ketika itu, saya membayangkan Teknik Mesin berhubungan dengan mesin dan oli. Teknik Elektro saya kaitkan dengan mereparasi TV dan Radio. Dokter saya pikir adalah orang yang nyuntik pasien. Semua itu tidak benar. Atau tidak sepenuhnya benar. Jadi, pilihannya adalah “merasa memahami tetapi sebenarnya tidak” atau “merasa tidak paham tetapi sebenarnya ada banyak yang yang diketahui”. Saya merasa tidak gentar hidup di salah satunya.
.
Tuhan maha baik. Saya dipertemukan dengan seorang dokter. Rupanya doa kepala sekolah terlalu kuat. Saya menikah dengan Bu Asti, seorang dokter. Dari beliau juga saya tahu dunia kedokteran. Tahu perilakunya, tahu kesibukan dan kiprahnya. Tahu baiknya. Paham juga buruknya. Kesimpulan saya tetap, saya tidak menyesal memilih Teknik Geodesi UGM. Di titik penting dalam kehidupan keluarga kami, Bu Asti memilih dengan sadar untuk tidak menjalani profesinya sebagai dokter. Ini mengingatkan saya kembali akan satu prinsip penting dalam menjalani profesi: panggilan.
.
Teknik Geodesi UGM pernah mengantarkan saya bekerja di Unilever. Hanya 11 orang yang diterima dari 4200an pelamar. Saya pernah bekerja di Astra sebagai programmer. Akhirnya, saya kembali pada cinta pertama saya, menjadi guru di Teknik Geodesi UGM. Pulang setelah mencicipi glamor dan manisnya dunia industri. Teknik Geodesi telah membawa saya menapaki lima benua untuk berbagi. Telah memaparkan gagasan di SD terpencil di Gunung Kidul hingga Gedung PBB di New York yang mentereng. Telah bergulat di panas terik matahari ketika memetakan selokan hingga berdiri meraih wibawa ketika memetakan kedaulatan.
.
Telah saya nasihati Presiden Somalia tetang batas maritim. Telah saya ‘uji’ calon presiden Indonesia dalam debat memperebutkan kursi. Telah saya damping anak bangsa negeri tetangga menjadi diplomat bagi negerinya dan berhadapan dengan gurunya di meja perundingan. Telah saya temani anak-anak muda yang runtuh percaya dirinya ketika skripsi menghadirkan depresi. Telah banyak yang terjadi. Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah “apa yang kamu lakukan saat ini?” tetapi “apakah yang kamu lakukan saat ini adalah pilihanmu?” Selamat memilih!
.
An option for you: ugm.id/geodetic
satu angkatan kita pak, lulus SMA 1996, dan kuliah disaat krismon dan demo dimana 97-98
seangkatan kita pak, lulus SMA 96 dan kuliah ketika krismon dan demo dimana-mana