Sebuah Ide tentang Beasiswa bagi mereka yang tidak mau pulang

First thing first. Penerima LPDP yang tidak mau pulang dan terbukti melanggar kontrak, harus diberi sanki yang sesuai hukum. Proses secara hukum dan putuskan dengan adil, tidak ada yang dirugikan atau tertindas secara tidak adil. Pastikan ganjarannya. Selesaikan perkaranya!

Mari kita bicara soal beasiswa jenis lain, khusus bagi mereka yang tidak [harus] pulang ke tanah air. Pertama, niatkan sebuah tujuan besar, bahwa Indonesia perlu menempatkan orang-orang terbaiknya di berbagai belahan dunia, selain di Indonesia tentunya. Mereka adalah duta, sebagai perwakilan, sebagai kebanggaan.

Bayangkan, ada orang-orang Indonesia yang berkarya di puncak-puncak peradaban dunia. Kampus-kampus terkemuka, institusi think tank yang disegani, perusahan berpengaruh dunia, pusat pemerintahan, punya perusahaan di pusat ekonomi internasional, NGO, you name it! Orang-orang ini bekerja dengan gembira dan bangga akan Indonesia karena dia didukung bangsanya, tidak saja dengan doa dan puja puji tetapi lebih dari itu.

Sebelum itu terjadi, tugas pemerintah adalah menyiapkan dana beasiswa yang layak. Beasiswa ini untuk mengirimkan orang-orang terbaik Indonesia ke pusat-pusat pendikan masyur dunia. Seleksinya ketat, terarah dan penuh strategi. Visinya jangka panjang melampaui rejim kekuasaan, pendekatannya komprehensif, serta eksekusinya rinci dan saksama. Hindari salah pilih.

Kontrak dan janji dibuat di awal bahwa mereka akan menyelesaikan pendidikan dan TIDAK akan pulang dalam jangka waktu tertentu. Mereka WAJIB mendapatkan peran di institusi-institusi mentereng yang sudah ditetapkan kelasnya. Mereka perlu didukung oleh negara ketika memulai karier. Beri mereka target yang ambisius namun masuk akal. Bahwa mereka adalah kepanjangan tangan, telinga dan mata bagi Indonesia. Mereka duta bangsa!

Jika ada yang menggap ini terlalu berat dan membebani, tidak perlu mendaftar beasiswa ini. Mereka bisa mendaftar beasiswa lain dengan syarat dan konsekuensi berbeda. Beasiswa ini khusus bagi mereka yang berani melakukan hal-hal besar di tempat asing dan berkolaborasi dengan orang-orang yang baru dikenal.

Berikan kemudahan bagi orang-orang demikian. Buat mereka bangga karena merasa diberi kepercayaan. Jadikan mereka tak mau berpaling dari Indonesia karena perhatian yang cukup, dukungan yang memadai dan perlakuan yang mendamaikan. Mereka pun tak akan menghadirkan keresahan karena mereka adalah orang-orang dengan karakter terpilih dari proses yang transparan dan objektif.

Kelak ketika mereka telah menuai kuasa dan mendulang peran-peran besar, mereka siap siaga untuk diberi peran-peran strategis di tanah air. Mereka adalah orang-orang hebat yang sadar kelemahan negerinya dan siap dipanggil untuk memperbaiki keadaan. Mereka penuh dedikasi karena telah menikmati kebaikan dan ketulusan bangsanya. Maka ketika bangsa menunggu, mereka akan lari mendekat tanpa ada ragu.

BONUS PRAGRAF!

Terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada 35 ribu lebih penerima Beasiswa LPDP yang telah belajar dan bekerja dengan sangat baik. Saya tahu tantangan dan kesulitan dalam belajar. Terima kasih telah bertahan dan tidak menyerah. Bagi yang belajar di mancanegara, terima kasih telah menjadi wajah menawan Indonesia di mata dunia. Saya bangga!

SEKOLAH KE LUAR LALU ENGGAN PULANG

Tahun 1996 saya meninggalkan Bali, merantau ke Jogja untuk sekolah di UGM. Saya sekolah dengan keringat orang tua yang tidak berpendidikan. Hingga kini saya tidak pulang ke Bali dan malah menetap di Jogja. Bapak ibu saya bahagia karena mereka memang tidak mensyaratkan saya untuk kembali ke Bali.

Seorang pemuda dari Tabanan memilih kuliah di Universitas Udayana di Denpasar. Cita-citanya menjadi dokter dan terkabul dalam waktu enam tahun. Dia memilih merantau ke Papua untuk mengabdikan ilmunya bagi masyarakat yang terkebelakang. Pemda Tabanan yang membiayai pendidikannya begitu bangga karena pemudanya mengabdi melampaui dermaga.

Seorang pemuda dari Sulawesi berhasil kuliah di Belanda dengan beasiswa dari Indonesia. Dia berjanji akan pulang dan mengabdi karena keberhasilannya didukung oleh keringat jutaan rakyat Indonesia. Selepas sekolah dia kembali ke Sulawesi untuk membalas budi. Apa daya, negeri tidak peduli, tidak didapatnya peran yang lama dinanti. Dia ternyata lupa mengasah diri untuk menciptakan sendiri pekerjaan yang mendamaikan hati.

Seorang perempuan dari Malang bergeges ke Jepang untuk merengkuh ilmu tentang kilang. Dilahapnya segala hal baru dan ditimbanya pengalaman sambil berlari menderu. Paripurna belajar, dihadapinya tawaran dari Negeri Sakura untuk mengajar. Dilema antara harus terbang atau tawaran yang dibuang sayang, dia memilih untuk tidak pulang. Tak ada uang yang hilang karena dia memang tak harus pulang. Kini dia menjadi jembatan bagi anak Nusantara untuk berguru ke Negeri Sakura.

Seorang penerima beasiswa negeri untuk sekolah di luar negeri memilih untuk tidak kembali. Dia bisa bilang, “mengabdi pada negeri bisa dari mana saja”. Tidak salah tapi dia mengingkari janji pada negeri. Dosanya mungkin bukan pada negeri tapi pada administrasi yang dengan sadar di diberinya janji. Lukanya mungkin bukan pada pertiwi tapi pada teman yang pernah gagal di lintasan perjuangan yang sama.

Agar tak ada dosa, negeri kita perlu menyediakan beasiswa bagi para cendikia untuk berguru di mancanegara dan tak diwajibkan pulang ke Nusantara. Kita dukung mereka yang cemerlang untuk menjadi makin gemilang. Selepas itu, berikan kepercayaan pada mereka untuk melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Kibarkan merah putih di tengah lelah dan letih di puncak-puncak tertinggi peradaban dunia agar citra bangsa tak lagi tertindih.

Kelak di kemudian hari, bangsa kita membesar, pengaruh kita meluas. Perdebatan tak lagi hina soal pulang, tak pulang yang dinilai dari tumpukan administrasi. Perdebatannya akan meninggi pada peran-peran besar bagi peradaban. Kelak, ketika Nusantara turut menata dunia meski tanpa Sumpah Palapa.