Ada Pengetahuan sebelum Toleransi

Di rumah saya ada tempat wudhu, ada juga ruang yang bisa dipakai untuk sholat. Di gazebo (balai bengong) yang biasa kami gunakan untuk sembahyang, teman-teman muslim juga biasa sholat ketika mereka main ke rumah dan waktu sholat tiba.

Apa yang saya lakukan biasa saja. Saya menyediakan tempat wudhu karena saya tahu, sebelum sholat seorang muslim perlu wudhu. Ini soal pengetahuan. Ini bukan soal agama, dari perspektif saya. Maka saya tidak pernah khawatir atau takut apalagi was-was. Kenapa harus was-was dengan pengetahuan? Pengetahuan yang membuat kita memahami situasi.

Ada pengetahuan sebelum toleransi. Tanpa itu, kita tidak bisa bertoleransi. Menghormati orang yang berpuasa adalah bentuk toleransi. Itu betul. Tapi bagaimana kita bisa menghormati puasa teman kita yang Hindu, jika kita bahkan nggak tahu bahwa orang Hindu berpuasa saat Nyepi? Bagaimana kita bertoleransi pada teman-teman kita yang Budha jika kita bahkan nggak cakap membedakan Pura, Wihara atau Klenteng?

Ada pengetahun sebelum toleransi. Tanpa itu, kita dibelenggu ketakutan dan prasangka. Maka berbahagialah mereka yang membebaskan pikirannya merdeka utuk mempelajari banyak hal di luar dirinya. Dan bersedihlah mereka yang telah memenjara pemikirannya sendiri dari berbagai kemungkinan kebenaran.

Kita mungkin bukan Gadjah Mada yang mempersatukan Nusantara dengan segala kehebatannya. Setidaknya kita tahu bahwa Gadjah Mada merelakan dirinya menikmati pahitnya buah palapa sampai cita-citanya tercapai. Bahwa ada perjuangan dan ketidaknyamanan untuk menuju persatuan yang diidamkan. Ada proses pembelajaran yang mungkin pahit akarnya sebelum dengan yakin kita bisa bertoleransi di tengah perbedaan untuk mewujudkan buah persatuan Indonesia yang manis untuk semua. Di Nusantara, perbedaan itu keniscayaan. Maka ketika tahun 1928 pemuda besumpah, yang mereka teriakkan adalah persatuan, bukan persamaan. Kita memang punya satu nusa, satu bangsa tapi kita tidak mengatakan kita hanya punya satu Bahasa. Kita menjunjung bahasa perSATUan, bukan bahasa perSAMAan. Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Dukungan

Kalimat klise itu berbunyi “di balik lelaki sukses, ada perempuan yang hebat”. Kisah ini adalah versi keluarga kami. Keluarga yang normal. Keluarga yang sering bertengkar karena kunci hilang, remote tv lenyap atau sachet shampoo yang tergeletak di lantai kamar mandi. Keluarga yang bertengkar karena tak sepakat di mana harus parkir mobil saat ke mall. Namun kami punya cerita yang lain.

Ketika saya mendapat IP 1,2 di semester 5, Asti, tidak sama sekali menunjukkan kekecewaan. Tidak pernah mencibir, apalagi menghina. Di dirinya seakan hanya ada satu hal: kepercayaan. Bagi saya, ini dukungan.

Ketika saya galau memutuskan apakah akan menjalani mimpi untuk hidup jadi dosen atau tetap di Astra, Asti memberi saya ruang yang lebar untuk memilih. Kepercayaan dan keyakinan serta minimnya tuntutan darinya membuat saya dengan ringan memilih jadi dosen. Bagi saya, ini dukungan.

Ketika keluarga kecil kami ada di persimpangan jalan, apakah Asti akan ikut saya ke Australia atau meneruskan profesinya sebagai dokter, Asti mengambil keputusan bijaksana. Diserahkannya hidupnya untuk membuat saya yakin bahwa keputusan sekolah dan mengajak keluarga adalah yang terbaik. Dorongan ini yang meniadakan keraguan. Bagi saya, ini dukungan.

Maka ketika Asti memutuskan untuk pulang duluan ke Indonesia saat saya masih sekolah, saya membebaskannya. Saatnya dukungan itu saya berikan. Ketika Asti berjuang mengusahakan beasiswa, saya mendampinginya. Ketika sebagai dokter Asti memutuskan untuk berjarak dengan dunia klinis, saya menghormati keputusannya. Saatnya saya mendukung.

Hingga suatu ketika Asti merasakan kelelahan dan ketidaknyamanan bekerja di di balik meja di ruang kaca, saya memakluminya. Asti yang berhenti total bekerja di sektor formal mungkin adalah keputusan yang tidak lazim. Tidak demikian, bagi saya. Saya telah melihatnya berjuang, berkorban dan menjadi fondasi bagi perjalanan saya. Maka tak ada yang aneh apalagi sia-sia.

Asti adalah fondasi yang menjadi dasar penting bagi bangunan hidup saya. Untuk itu dia rela tertimbun tanah hingga tidak terlihat. Sirna dari pandangan mata orang-orang dan terhindar dari sorot lampu yang yang hingar bingar.

Di dalam kesunyian itu dia menjadi tiang penyangga keluarga sambil menikmati kerinduannya akan seni. Kini, dalam pilihan sunyinya, pola-pola keindahan lahir dari tangannya yang menyusun daun, ranting dan bunga di atas kain atau kulit.

Di dunia ecoprint, dia menenggelamkan dirinya dalam senda gurau alam yang tak pernah lelah menghadirkan kecemerlangan. Seperti juga Asti yang tak pernah lelah mendukung saya ketika hidup menuntut saya memainkan peran-peran tak lazim yang tak terduga.

Betul, di balik seorang lelaki yang nampak berkelebat-kelebat memainkan peran beraneka rupa, ada seorang perempuan yang bekerja dalam senyap. Perempuan itu menjaga jiwa sang lelaki yg sejatinya rapuh. Semoga dalam sunyi Asti tak merasa kesepian karena dia ditemani warna-warni alam yang kerap menjadi pelipur laranya.