Seorang kawan baik selalu menasihatkan “jangan khawatir!” kepada saya ketika, karena sesuatu, saya panik. Seperti tidak ada yang meragukan kebijaksanaan dan ketulusannya, nasihat itu dinobatkan sebagai wejangan nomor satu di jagat persahabatan. Ucapan “jangan khawatir” sering menjadi tanda kepedulian seorang kawan.
Tetapi, dalam perjalanan yang dipenuhi tantangan dan keterdesakan, saya sering kali merindukan kekhawatiran. Kehilangan kekhawatiran berarti kehilangan energi untuk menyelesaikan sesuatu. Sirnanya kekhawatiran berarti hilangnya ketakutan dan hilangnya rasa bersalah atas perbuatan dosa. Hilangnya kekhawatiran bisa juga berarti kaburnya nilai-nilai mulia karena penindasan terhadapnya sama saja dengan sikat gigi. Tanpa kekhawatiran, seorang peneliti lupa menyelesaikan laporannya, tanpa kekhawatiran, seorang mahasiswa lupa belajar untuk ujiannya. Tanpa kekhawatiran, seorang ibu muda berselingkuh dengan sahabat suaminya. Tanpa kekhawatiran, anak seorang dokter bisa saja kekurangan gizi.
Saya ingin tetap memelihara kekhawatiran ini, setidaknya agar agar ada orang yang terhibur dengan kepanikan saya.