Jalan Kaki


Di Kerajaan antah berantah yang bernama Kemalasan, jalan kaki bukan pilihan yang hebat. Jalan kaki identik dengan rakyat yang jauh dari makmur, miskin dan menderita. Menunggang kuda dan burung besi adalah ciri peradaban dan kemajuan, begitu identitas kehormatan disandang.

Berbeda dengan itu, di kerajaan tetangga yang bernama Kesadaraan, jalan kaki menjadi pilihan biasa. Dia bahkan mencirikan kebijaksanaan dan kecendikiaan. Jalan kaki, setidaknya, adalah pilihan sehat.

Seorang umat bernama saya, yang baru saja beralih dari Kerajaan Kemalasan menuju Kerajaan Kesadaran, belum lama menyadari makna jalan kaki. Kakinya yang terbiasa nyaman harus menggaruk aspal dan tetap berpura-pura tak terganngu. Sang saya berjalan jauh, sejauh keinginannya.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Jalan Kaki”

  1. Artikel ini mengingatkan saya ke tahun 1994 ketika saya berjalan kaki dari sekolah ke rumah, dan kemudian mendapat komentar tertawaan dari kawan yg melihat. Sekarang 2007 setelah saya bekerja, aktivitas ini tidak berhenti, justru saya tambah dengan aktivitas lainnya yaitu bersepeda. Terlebih setelah membaca kutipan dari department of health UK – 2004 Chief Medical Officer, Sir Liam Donaldson : Smoking and unhelthy diet have long been established as major causal factors for chronic disease but the report says that inactive living is equally importat (www.dh.gov.uk). Saya bersyukur ternyata tertawaan tidak termasuk didalamnya.

Leave a reply to RSOW Cancel reply