Kemarin aku bertemu dengannya lagi, setelah hampir 20 tahun berpisah. Anak penggali padas itu kini terliat bersih, jauh lebih bersih dari masa kecilnya yang penuh ingus. Anak penggali batu padas itu, seperti dulu, tetap ramah walaupun kini sedikit berbeda. Kalau dulu keramahannya dengan membungkuk kini dia menyalamiku. Menyalami dengan badan yang tegak, senyum ramah terkembang dan dagu yang sedikitpun tidak dijatuhkannya. Dia seorang profesional. Tidak terbayang rasanya si kecil dekil ini akan menjadi dirinya yang sekarang. Seorang muda dengan senyum kemenangan yang disandangnya ke mana-mana, melewati jalan panjang perjuangannya.
Diceritakannya padaku, dia telah memenangkan berbagai sayembara. Kemenangan yang tentu saja tidak hanya membanggakan dirinya tetapi juga ibu dan bapak sederhananya yang sampai kini masih menggali padas. Meskipun, seperti kamu duga, padas itu kini berbeda. Padas yang semestinya tidak sekeras dulu dan tebingnya pun tidak seterjal dulu lagi. Padasnya kini lebih empuk dipaji.
Diam-diam aku kagum pada anak penggali padas ini. Dia telah menggali padas sampai jauh, sejauh angannya di masa kecil ketika tidur berselimut handuk kumal di atas batu padas seraya memandang langit. Langit biru membentang yang menjadi satu-satunya batas keliaran pikirannya.