Seorang kawan dari partai “kecil” pernah mengadu pada saya. Seorang kawan kami, sebut saja namanya X, yang pada awalnya memihak partai “besar” kini memutuskan untuk bergabung dengan partai “kecil”. Yang menjadi keresahaan kawan saya adalah reaksi dari teman-teman separtai X yang sama sekali tidak bisa menerima keputusan X dan bahkan menuduhnya telah murtad dan berkhianat. Dengan bijak, kawan saya ini berujar “Aku kira itu adalah hak asasi yang paling hakiki untuk menentukan partai mana yang terbaik. Tidak seharusnya kawannya ini kecewa dan menghalangi. Kita harus menghormati keputusan orang dalam memilih partai sesuai dengan hati nuraninya. Semua itu sah dan baik sepanjang tidak mengganggu orang lain”. Di telinga saya, ucapan ini terdengar sangat damai dan bijaksana. Negeri ini harus dipenuhi lebih banyak orang seperti ini, begitu saya berpikir.
Beberapa menit setelah kalimat bijaksananya tuntas, saya teringat satu kejadian lain. Si Anu, kawan kami yang selama ini dikenal partisipan di partai “kecil” baru saja menikah dengan Si Apa dari partai lain. “Hey, Si Anu menikah dengan pacarnya dan memututuskan untuk pindah partai”, saya melontarkan tanpa beban berita ringan ini. Tanpa tedeng aling-aling, kawan saya terbelalak. “What?!!! sudah kena pelet rupanya si Anu tuh.. mau-mau nya pindah partai karena seorang laki-laki!”
Menarik sekali, Pak.
Mari kita renungkan sejenak dengan mengganti setiap kata partai menjadi agama. ๐
Bagaimana hasilnya? ๐