Selamat Tahun Baru

Made Kondang termenung menyadari tahun 2005 hampir tuntas dalam hitungan jam. Kurang dari 24 jam, tahun baru 2006 akan datang.

Pikirannya secara acak melayang meningat berbagai kejadian mulai dari program televisi yang menjanjikan pesta akbar akhir tahun, iklan-iklan koran yang menawarkan kesenangan di tahun baru hingga tawaran paket wisata penghujung tahun yang sangat menggoda. Bagi Kondang yang cuma petani penggarap, semua itu lewat begitu saja tanpa pernah mampu membuatnya tertarik. Atau mungkin, lebih parah lagi, Kondang tidak berani untuk tertarik?

Tiba-tiba Kondang melambungkan ingatannya ke akhir tahun 2004 lalu ketika salah satu kawan dekatnya terenggut nyawanya oleh tsunami di Aceh. Kawannya adalah satu dari ratusan ribu korban yang tidak berdaya melawan kekuasaan alam. Kondang sedih tak tertahankan. Ingatannya akan hal-hal suram akhirnya menjadi. Jelas dalam ingatannya berita di TV yang mengisahkan Bom di London, sebuah tempat yang hanya diketahuinya di TV dan mungkin tidak akan pernah diijaknya hingga kepergiannya ke liang lahat. Kota setua dan semapan London pun tidak lepas dari terorisme, begitu Kondang mengingat kata-kata penyiar sebuah TV swasta.

Tidak berselang berapa lama, Bali kembali dikejutkan oleh bom yang sangat dahsyat. Belum sembuh sempurna luka akibat bom tahun 2002 lalu, kini Bali kembali tertunduk sedih. Inilah pertanda robohnya Indonesia kami, begitu Kondang menirukan dalam hati ucapan seorang pujangga dadakan. Kondang yang tidak berhubungan langsung dengan para turis yang datang ke Bali, lambat-laun juga merasakan kesusahaan akibat bom ini. Pendek kata, orang kecil seperti Kondang juga menderita. Tidak habis pikir Kondang, ada orang yang mengatasnamakan agama dan Tuhan untuk menyengsarakan orang kecil seperti dirinya.

Bencana lain berseliweran di kepalanya yang terjadi selama setahun terakhir. Katrina di Amerika, Flu Burung yang menyerang hampir seluruh dunia dan kerusuhan rasial yang terjadi di Sydney adalah sebagian saja yang berhasil diingatnya dari siaran TV yang ditontonnya jarang-jarang. Musibah ternyata milik semua orang, begitu Kondang berpikir. Menyadari hal ini, setidaknya membuat Kondang sedikit terhibur, tidak sendiri meratapi kenyataan yang memang sedang tidak berpihak padanya.

Lalu apa pentingnya pesta akhir tahun? Apa enaknya berwisata di tengah kekalutan yang seakan tak berujung? Kodang tidak menemukan alasan untuk bersenang-senang menyambut tahun 2006. Sepertinya terlalu banyak kesusahan yang harus direnungkan dan kelemahan yang harus diperbaiki di tahun yang baru. Masih banyak pekerjaan rumah yang menunggu dan pesta bukanlah pilihan yang bijaksana menurut Kodang.

Di tengah lamunannya, Nyoman Sumi, istrinya lewat dan memergokinya yang sedang tenggelam dalam diam. ”Selamat tahun baru”, begitu Kondang berucap lirih dan berat yang disambut senyum ringan Sumi.

English Materials: Free Download!

Dear Visitors,

I understand that the materials you are looking for are really important and useful to you. Unfortunately, I have to remove the links from my blog as some protests came regarding legal concerns. Even though, as I mentioned in the disclaimer, the files are stored in the Russian website, creating links to download those files is however considered illegal activity.

Thank you very much for visiting this page. From now on, I will not provide any information regarding any materials that previously posted in this URL.

Best Regards,
Andi

King Kong

taken from the official website of King Kong

Baru aja abis nontong King Kong. Film bagus nih. Awalnya agak membosankan tapi bagian akhirnya dahsyat! Film ini lengkap. Yang mencintai teknlogi dan visual effek akan terpuaskan dengan kehadiran makhluk animasi yang seperti nyata, khasnya Peter Jackson, sang sutradara. Yang mencintai roman dan kisah cinta akan melihat adegan cinta yang aneh layaknya beauty and the beast tetapi menyentuh. Yang mencintai film petualangan akan melihat pelayaran dan penjelajahan layaknya Titanik dan Indiana Jones.

Selamat Natal!

Idealnya, semua orang melakukan sesuatu dengan senang hati, penuh kesungguhan, jujur, berdedikasi dan yang pasti dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan. Tetapi dunia ini tentu saja tidak ideal dan sesuatu yang tidak baik kerap terjadi. Lesu, kehilangan gairah, malas dan serangan ketidakpedulian mengintai senantiasa. Menyerang siapa saja, bahkan mereka yang pekerjaannya semestinya dijauhkan dari semua sifat ini.

Malas menyerang para peneliti, kelesuan mengancam para pendidik, dan kehilangan gairah melumpuhkan para penulis. Ya, mereka adalah juga manusia.

Dalam kemalasan, kelesuan dan ketidakbergairahan, hidup harus berjalan. The show must go on. Seringkali orang harus tetap bekerja dalam ketidakpastian. Peneliti harus tetap menggali walaupun gairah sudah mengering hingga hampir tak bersisa. Penulis kadang harus tetap menuangkan ide tidak saja karena deadline yang menunggu tetapi juga karena jutaan hati yang dahaga akan informasi dan pencerahan, meskipun untuk menggerakkan tangan saja sudah terlalu berat. Para pendidik harus tetap bangun di pagi hari berjalan menuju padang ilalang pendidikan tak peduli hujan kebosanan membebani sanubari. Begitulah hidup yang tetap harus dijaga iramanya meski dengan keterpaksaan.

Seperti hari ini, di tengah ketumpulan ide, di tengah tumpukan persoalan dan ritual penelitian, menuliskan sebaris kalimat tentang natal harus tetap dilakukan. Hal ini jelas bukan untuk basa-basi dan sekedar berpura-pura peduli. Ini adalah sebuah pembelaan atas apa yang dinamakan keteguhan hati. Menulis dan mengucapkan Natal adalah bagian dari menjalankan irama hidup yang tidak boleh berhenti hanya karena malas, lesu, lemah dan sibuk. Natal, seperti halnya hidup harus tetap diperingati dengan kesungguhan walaupun dalam keterpaksaan. Kesungguhan adalah esensi, sementara keterpaksaan adalah kebijaksanaan mengatasi kemalasan. Itulah barangkali esensi kelahiran kembali yang diperingati setiap tahun. Selamat Natal.

Selamat Hari Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas . . . . . . . . . . . .
Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas . . . . . . . . . . . . . . .
Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .
IWAN FALS

Sariawan

Sariawan datang lagi. Seperti biasa, menghambur mendekat tanpa permisi, pun tanpa basa-basi. Kedatangannya jelas mengganggu. Tidak saja mengusik tapi seringkali malah menyakitkan.

Sariawan kuminta pergi dari sini. Dia, tentu saja seperti kemarin, malas beranjak dan kini semakin yakin dengan kedudukannya yang tanpa disadarinya memberatkanku. Tak cukup alasan untuk mengusirnya ketika masih tetap ada ladang basah untuknya bertumbuh di rumahku.

Kukatakan “pergi!” karena ingin kunikmati makanan pagi ini sendiri tanpa rintihan karena usikannya. Dia tak juga sirna. Kuteriakknya “enyah!” karena ingin kunikmati gairah malah yang dingin dan mengundang hanya dengan istriku, dia mencibir. Cibiran yang dibaluri nafsu seakan ingin serta dicumbu. Aku terhenyak menarik nafas dalam.

Sampai berhasil kulenyapkan ladang subur bagi Sariawan di rumahku, saat itulah di akan pergi. Kegelisahan adalah lahan yang tidak terbandingkan suburnya bagi mekarnya Sariawan. Kapan aku bisa berkelana melampai kegelisahan dan kekhawatiran, saat itulah aku bisa katakan selamat tinggal kepadanya.