Istri Idaman


Made Kondang terkesima menyaksikan acara di televisi siang itu. Waktunya yang selama ini habis untuk berpanas-panas di bawah terik matahari di tengah sawah, kini sedikit dipuaskan oleh istirahat yang cukup panjang. Baru saja panen berlalu, saatnya istirahat sejenak.

Matanya tidak pernah lepas dari bibir manis pembawa acara tentang perempuan di salah satu stasiun televisi swasta. Perempuan ini nampak begitu mengagumkan. Cerdas dalam berpikir dan terampil dalam berkata-kata. Inilah sesungguhnya istri idaman Kondang sejak dulu. Perempuan yang bisa menyatakan dirinya, mengatakan “ya” ketika setuju dan “tidak” ketidak berseberangan. Singkatnya dia menginginkan perempuan yang sebanding dengan dirinya, setara kedudukannya dalam hal gagasan dan bisa menjadi sparing partner baginya ketika menggodok sebuah gagasan. Entah di mana dipungutnya kata-kata sukar itu, yang jelas Kondang merindukan kehadiran seorang perempuan yang sanggup mendebatnya dengan lantang dalam diskusi di meja makan.

Tidak seperti istrinya sekarang yang hanga bisa setuju, manut, mengangguk tanpa pernah sekalipun membantah. Bagi Kondang, istri semacam ini tidak sehat untuk kehidupan rumah tangga karena tidak akan membawa kemajuan. Kondang tidak merasa istrinya turut membantu pengembangan kematangan pribadinya sebagai leleaki dan sebagai bapak rumah tangga. Kondang ingin sesuatu yang menantang, dan menggairahkan.

“Kamu harus berani mambantah kata-kataku, jangan hanya diam saja”, Kondang menasihati istrinya suatu waktu. Nyoman Sumi, istrinya, yang sabar, santun dan sederhana tentu saja hanya tersenyum mendengar kata-kata Kondang yang aneh di telinganya. Pendek kata, hidup Kondang menjadi sederhana, monoton dan kurang ledakan.

Tapi itu dulu sekali, ketika Sumi memang adalah seorang perempuan penurut yang sabar dan bijaksana. Kini cerita telah berubah. Sumi, entah karena mengikuti nasihat Kondang atau karena sering menyaksikan acara televisi, telah tumbuh menjadi perempuan mandiri yang cerdas dalam berpikir dan terampil dalam berkata-kata.

Kondang, berbeda dengan dulu, kini tidak pernah berhasil menyelesaikan kalimatnya karena Sumi keburu memotong dan menentangnya dengan gagasan lain yang, sayang sekali, seringkali memang brilian. Sumi benar-benar menjadi sparing partner bagi Kondang dalam diskusi pengambilan keputusan. Bahkan, yang sedikit di luar dugaan Kondang, Sumi mulai teliti memperhatikan hal-hal kecil yang menurut Kondang tidak perlu diperdebatkan. “Saya hanya berusaha untuk kritis”, begitu kata Sumi setiap kali dia memotong pembicaraan Kondang.

Sebulan berlalu, setahun berganti, lima tahun menjadi niscaya. Kondang kini hanyalah seorang lelaki yang terpuruk dalam lingkaran kecerdasan istrinya yang tanpa disadari dia bangun sendiri. Kondang melamun, suatu saat. Tiba-tiba dia merindukan Sumi yang dulu, yang sabar, tidak banyak bicara dan murah senyum. Dia seakan tidak perlu lagi sparing partner dan gagasan cemerlang seorang Sumi. Yang diperlukannya adalah ketenangan yang akan dipakainya mengarungi bahtera rumah tangga yang nampaknya sudah terlalu rumit untuk dijalani. Dia merasa tidak perlu lagi kecerdasan lain dan nakhoda nampaknya mesti hanya satu dalam sebuah kapal.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s