Windy v.s Bogi


[menerjemahkan sandi alam]

Seorang kawan, ketika sama-sama memasuki sebuah perusaan consumer goods di Jakarta, memiliki nama yang cukup aneh: PIPING. Cukup lama saya menunggu saat yang tepat untuk menanyakan sejarah di balik nama itu, sampai akhirnya saya benar-benar bertanya. Bapaknya adalah seorang sarjana sipil dan dia lahir ketika bapaknya sedang menjalankan sebuah proyek pemasangan pipa. Piping berasal dari bahasa Inggris piping (baca : paiping) yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira artinya pemipaan :)) atau pemasangan pipa. Seorang civil engineer akan menangkap ilham yang sangat teknis sifatnya dan menerapkannya dalam lingkungan kehidupannya. Bisa dibayangkan kalau bapaknya bukan engineer melainkan staff accounting atau bendahara proyek, jangan-jangan anaknya diberi nama Cost-anto atau Budget Riawan atau salah-salah malah Korupsiana.

Dalam fenomena serupa, saya juga tertarik dengan nama seorang kawan lain yang bernama TATIT. Dalam bahasa Bali, tatit berarti petir (bisasanya disertai halilintar yang menggelegar). Sama halnya dengan Piping, nama ini pun saya tanyakan maknanya. “Ini adalah identifikasi diri”. Bergitu jawaban kawan saya ketika itu. Dengan mengidentifikasi diri sebagai petir/halilintar, konon dia diharapkan akan menjadi seorang yang gesit, cepat dan trengginas menjalani hidup. Konon bapaknya adalah seorang petani Bali sederhana yang tekun mengamati fenomena alam.

Di Jogja, ketika masih bersekolah, saya juga bertemu dengan teman yang bernama cukup keren, BOGI. Saya menduga kawan ini pastilah orang tuanya cukup gaul sehingga memberi nama yang keren pada anaknya. Namun ternyata tidak demikian adanya. Ketika saya tanya, jawabannya sangat sederhana. Bogi berasal dari kata reBO leGI yaitu kombinasi perhitungan hari berdasarkan basis 7 (hari-hari yang biasa kita pake saat ini) yaitu Rebo/Rabu dan basis 5 (-hitungan Jawa-Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) yaitu Legi. Konon kawan saya ini lahir pada hari Rabu yang jatuh pada hitungan Legi.

Hal serupa juga terjadi pada kawan lain yang salah satu kata dalam namanya adalah TUHING yang ternyata berarti seTU paHING (Sabtu Pahing)

Ketika sempat bersekolah di negeri orang, saya bertemu dengan seorang kawan lain dari Indonesia yang bernama WINDY. Kebetulan saja tempat di mana kami belajar cukup dingin dengan angin yang cukup kencang menerpa. “Cold and windy” begitu kami menyebutnya saat itu. Tanpa pikir panjang saya pun menebak makna nama kawan ini. “Kamu pasti lahir saat musin angin kencang ya?” begitu saya berkelakar dalam sebuah bembicaraan santai. “Bukan, namaku Windy karena aku lahir hari Rebo” begitu dia membantah. Apa kaitannya Windy dengan Rebo? Saya bertanya-tanya dalam hati. Ternya Windy adalah ‘pelesetan’ dari WEDNESDAY yang kira-kira artinya Rebo. :))

Ada pelajaran menarik dari pengalaman ini. Orang-orang yang berbeda menerapkan satu fenomena keseharian ke dalam objek yang sama: NAMA. Tenyata hasilnya pun berbeda. Di satu kesempatan Rabu bisa menjadi BOGI, Rabu yang lain bisa menjadi WINDY. Memang benar, bahwa sudut pandang sangat mempengaruhi orang dalam mengambil keputusan. Tanda-tanda alam boleh saja sama, tapi kepekaan dan pengetahuan manusia untuk menerjemahkannya tetap saja memberi pengaruh yang berarti dalam pengambilan keputusan.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Windy v.s Bogi”

Leave a reply to Bogi Hindrajid, SH Cancel reply