Prof Uceng: Idealisme, Aktivisme, dan Pragmatisme


Kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor, maka makin sedikit alasan dosen Indonesia untuk tidak jadi profesor. Ini tentu saja berita buruk bagi banyak orang, terutama kami yang lebih tekun mencari alasan dibandingkan untuk mengusahakan pencapaian. Prof Zainal Arifin Mochtar  alias Uceng baru saja menetapkan sebuah standar baru tentang menjadi seorang profesor.

Pernyataan “kalau seorang Uceng saja bisa jadi profesor […]” dalam tulisan ini tentu saja tidak terkait dengan kualitas akademik dan kepakaran. Ini sama sekali bukan tanda meragukan kepiawaian dan kepantasan seorang Uceng untuk menyandang takhta guru besar. Kalau soal itu, mungkin tak ada yang bisa membantah. Mas Uceng sangat layak!

Selama ini, Mas Uceng begitu vokal, berani dan tanpa tedeng aling-aling dalam menyatakan pandangannya ketika berseberangan dengan rezim dan kekuasaan. Ada yang menduga, sikap seperti ini akan berdampak buruk bagi kenaikan pangkatnya menjadi guru besar atau profesor. Bagaimana pun juga, jabatan guru besar ini diberikan oleh negara yang pejabatnya kerap ‘dilawannya’. Dugaan dan kekhawatiran tentang kenaikan pangkat ini tentu beralasan.

Hari ini, waktu telah menjawab dan sejarah telah mencatat. Seorang Uceng kini dikukuhkan menjadi profesor. Aktivisme dan suara lantangnya ternyata tak menjadi aral baginya untuk melesat tinggi dan bersinggasana pada kegemilangan takhta guru besar. Hilang satu kekhawatiran. Bahwa seorang yang vokal dan kerap melawan kekuasaan pun mendapat tempat yang selayaknya. Di negeri yang sering menyajikan kekhawatiran, intelektualitas masih dan tetap akan mendapat tempat yang layak. Ini berita baik.

Menyimak pidato pengukuhan guru besar Mas Uceng di Balairung UGM tadi pagi seperti melambungkan ingatan saya pada hampir tiga dekade silam. Ketika untuk pertama kali saya menikmati pergulatan intelektual yang berkelindan dengan idealisme dan kecemerlangan narasi. Ketika  kata-kata dan ujar-ujar intelektual mendapat ruang yang lega untuk menetas lalu tumbuh dalam kebebasan mimbar akademik. Mas Uceng sekali lagi menyajikan sebuah pertunjukan intelektual yang melangit dalam gagasan sekaligus membumi karena menyentuh keresahan sehari-hari.

Menyimak pidato Prof. Uceng seperti menyaksikan Indonesia hari-hari ini dari jarak yang begitu dekat. Isu yang disajikan, nama-nama yang disebut, kejadian yang diulas, dan keresahan yang dibahas, adalah mozaik dari berbagai hal-hal dekat yang menghiasi informasi publik belakangan ini. Sebagai orang Teknik, saya seperti diingatkan oleh sepotong perkara, bahwa demikianlah semestinya seorang intelektual. Intelektual adalah mereka yang narasi idealnya tak berjarak dengan kenyataan. Mereka yang jargon bombastisnya menyentuh keseharian. Mereka yang mantra-mantra akademisnya mengobati luka dan menyembuhkan memar akibat ketimpangan.

Sebagai seorang pakar hukum tata negara, Prof Uceng dengan berani mengajak semua orang untuk tidak terjebak hanya pada lingkaran formalitas hukum dan aturan. Diajaknya kami semua untuk melihat perkara dari berbagai sisi, termasuk dari sisi yang tidak biasa dan kerap tak dipilih untuk menghasilkan sudut pandang baru. Dengan tegas, diingatkannya hadirin untuk memaknai ulang kesaktian intelektualitas. Bahwa intelektualitas sejati tak selalu lahir dari interaksi dan pergumulan akademis formal. Intelektualitas yang bermakna bisa lahir di ruang-ruang interaksi informal yang kerap dianggap jauh dari dunia akademik. Mas Uceng juga mengingatkan, sekali lagi, bahwa interaksi transdisiplin adalah kunci yang mesti didasari dengan keterbukaan pemikiran masing-masing diri.

Saya telah mengikuti berbilang pidato pengukuhan guru besar. Masing-masing hadir dengan kekuatan tersendiri yang bersandar pada bidang ilmu yang ditekuni penyandangnya. Dengan segala hormat bagi semuanya, saya harus katakan bahwa pidato Mas Uceng menawarkan energi yang melampaui kedigdayaan intelektualitas semata. Melalui pesan singkat saya sampaikan “Selamat Mas Prof Uceng. Pidato yang mengembalikan mimbar akademik pada kedalaman filosofi dan kekuatan daya ungkit dan dobraknya. Terima kasih. Selamat nggih!”

Bagi akademisi yang galau karena gamang memilih antara kemewahan idealisme atau kenikmatan akibat ‘menghamba’ pada kekakuan sistem dan congkaknya ruang-ruang sempit administrasi, pengukuhan Mas Uceng sebagai profesor hadir dengan satu pesan jernih. Bahwa keduanya tak mesti selalu bertentangan dan dikotomis. Bahwa di dalam menempuh jalan-jalan terjal idealisme, penghargaan administratif bisa hadir beriringan. Bahwa untuk seiring sejalan dengan jalur-jalur administrasi yang resmi, idealisme tak selalu harus menjadi korban kompromi.

Terima kasih, Mas Prof Uceng!

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?