
Ya, saya mendapatkan penghargaan dari Menteri luar Negeri, Ibu Retno Marsudi. Bagi saya ini istimewa. Mendapatkan apresiasi dari Menteri Luar Negeri bukan sesuatu yang saya bayangkan ketika mulai menekuni isu perbatasan. Waktu bekerja dengan cepat. Semesta bersekongkol mewujudkan semua itu dengan sigapnya. Bagi orang lain, bisa jadi, penghargaan ini tidak Istimewa tetapi bagi saya, beda ceritanya. Bagi saya, keluarga, dan terutama Ibu dan Bapak saya, cerita ini akan mewarnai obrolan mereka di warung-warung kopi, di balai banjar, di arisan komunitas, di pertemuan lansia dan di acara yoga masal yang akan menjadi kian meriah.
Saya diminta menjadi anggota Tim Pakar Tim Teknis Penetapan Batas Maritim RI sejak tahun 2015, setahun sejak pulang dari Australia untuk menyelesaikan S3. Bidang yang saya tekuni sejak S2 di University of New South Wales (UNSW) dan S3 di University of Wollongong (UoW) memang batas maritim. Saya mempelajari bidang ini dari segi teknis dan hukum, terutama geospasial, bidang yang saya pelajari di Teknik Geodesi UGM. Ini rupanya yang membuat saya diberi tugas ini.
Tugas saya sebagai tim pakar tim teknis adalah memberikan masukan kepada tim delegasi perundingan Indonesia sebelum melakukan negosiasi dengan negara tetangga. Tugas ini saya emban berdasarkan Keputusan Menteri Luar Negeri. Prosesnya sederhana saja. Saya kerap diundang rapat untuk membahas suatu isu terkait batas maritim. Pihak Kementerian Luar Negeri sebagai lembaga utama dalam perundingan batas maritim biasanya memaparkan padangan dan posisinya terkait suatu kasus. Sebagai anggota Tim Pakar, saya diminta memberi tanggapan dan masukan. Di kesempatan lain, kami diminta untuk melakukan kajian tertentu untuk dijadikan dasar bagi masukan untuk tim perunding batas maritim.
Selama bertugas, saya sepertinya lebih banyak mengambil peran untuk menjelaskan perihal teknis terkait batas maritim. Susunan orang dalam tim penetapan batas maritim ini berganti dengan cepat maka selalu diperlukan proses edukasi. Tak jarang saya memainkan peran itu. Maklum, dosen, tugasnya memang menjelaskan. Artinya, tugas saya kadang tidak untuk memberi nasihat agar delegasi Indonesia mengambil posisi khusus dalam menghadapi negara tertentu.
Saya kian yakin bahwa batas maritim adalah perkara multidisipliner. Tidak cukup hanya paham geodesi. Tidak cukup hanya mengerti hukum. Batas maritim adalah kombinasi dari banyak hal. Maka dari itu, tim pakar terdiri dari akademisi dan praktisi dengan latar belakang yang berbeda. Selain saya, ada Almarhumah Prof. Melda Kamil (FH UI), Dr. A. Gusman Siswandi (FH Unpad), Dr. Kresno Buntoro (TNI-AL), Dr. Trismadi (purnawirawan TNI AL), serta Dr. Benyamin Sapiie (Geologi ITB). Selain tim pakar, ada juga penasihat yaitu Dr. Hassan Wirajuda, Prof. Edy Pratomo (Duta Besar), Prof Sobar Sutisna, dan Prof. Himahanto Juwana. Secara kolaboratif, kami memberikan masukan untuk dipertimbangkan. Yang pasti, saya banyak belajar dari para pakar ini. Dalam kelompok itu, saya memang yang paling muda secara usia.
Sebenarnya, anggota Tim Pakar seperti Saya tidak terlibat dalam perundingan. Meski demikian, saya juga pernah menjadi pengamat dalam sebuah perundingan dengan Timor Leste. Dari situ saya jadi tahu suasana perundingan yang sebenarnya. Saya tahu bagaimana seseorang mengajukan pendapat, bagaimana menyanggah, dan bagaimana menyetujui. Sebagai seorang surveyor, saya belajar berkomunikasi dengan kata-kata, tidak lagi hanya dengan titik, garis, dan luasan yang tertuang dalam muka peta.
Berada di lingkungan yang multidisipliner membuat saya belajar menyampaikan gagasan secara sistematis dan sederhana. Itu juga yang memotivasi saya membuat banyak animasi untuk menjelaskan perihal hukum laut. Tugas-tugas dari Kementerian Luar Negeri ini memaksa saya melatih otot-otot kreativitas saya dalam menyajikan perkara hukum yang rumit dalam sajian audio visual yang lebih ‘ramah’. Saya menikmati peran ini. Semoga teman-teman lain yang menyimak saya juga demikian adanya.
Pengalaman hampir satu dekade ini begitu berharga. Selama sepuluh tahun ini, ada tiga perbatasan yang berhasil disepakati dengan negara tetangga. Ini pencapaian yang baik mengingat penetapan batas maritim bukan perihal yang mudah. Saya merasa senang menjadi bagian kecil dari pencapaian ini. Merasa bangga karena apa yang sering saya dongengkan di kelas memang ternyata bermakna bagi kehidupan nyata. Bahwa apa yang saya ajarkan adalah perihal yang relevan dan tengah dihadapi oleh bangsa ini. Sebagai guru, ini menabalkan rasa percaya diri dalam berbagi di ruang-ruang kelas.
Ibu Menlu Retno Marsudi telah dicukupkan tugasnya sebagai Menlu. Beliau segera akan mengambil peran yang lebih besar, menjadi Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air Dunia. Pemberian apresiasi kepada kami, para Tim Pakar, Tim Penasihat, dan Tim Teknis Penetapan Batas Maritim sekaligus adalah acara perpisahan beliau. Saya bisa merasakan, Bu Retno adalah orang yang disayang banyak orang. Sikapnya yang profesional sekaligus humble membuatnya mudah untuk disukai. Hal itu tampak jelas dari sikap dan pidatonya pada saat penganugerahan penghargaan.
Saya jadi ingat, pertemuan saya terjadi pertama kali di tahun 2013 di Amsterdam ketika beliau menjadi Duta Besar RI untuk Belanda. Ketika itu saya menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis PPI Belanda. Waktu memang cepat berlalu. Sebelas tahun kemudian, kami bertemu lagi, bersalaman lagi, dan berfoto lagi. Peran dan suasananya berbeda. Yang sama hanya satu: Indonesia kita!