Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman Sawit Sari di Jogja. Suasana teduh berangsur hadir, menggantikan terik yang menyengat. Bapak Ir. Suprapto baru saja dikebumikan. Kini tersisa keluarga dekat yang menuntaskan rasa sedih dan kehilangan. Saya pun perlahan pergi.
Mengingat Pak Prapto adalah mengingat seorang guru. Saya tidak akan melupakan satu perkara tragedi di tahun 1998 silam ketika menjadi murid beliau di Teknik Geodesi UGM. Saya terlambat dan tidak bisa mengikuti ujian. Survey Pemetaan Lau adalah nama mata kuliah itu dan Pak Prapto adalah pengampunya.
Dengan takzim saya menghadap beliau dan menceritakan duduk perkaranya. Saya akui lalai dan tak ada hal lain yang patut disalahkan. Pak Prapto tersenyum tenang dan bertaya, “Mas Andi belum pernah nggak lulus mata kuliah ya?” dan saya menggeleng. “Mungkin ini adalah yang pertama kali” kata beliau sambil masih tersenyum tenang. Beliau tidak mau dan tidak bisa menolong. Menurut beliau, sebuah pelajaran harus diraskan sendiri oleh seorang pembelajar.
Saya melangkah gontai keluar dari ruangan beliau. Diam-diam saya berjanji. Jauh di dalam hati. Kelak ilmu ini, ilmu tentang laut, harus saya tekuni. Ada pesan emosi yang mendera kepala saya ketika itu. Sesal dan marah hadir di masa itu tetapi jauh di masa depan, pelajaran segera tiba dengan sempurna. Bahwa hanya dengan memberi konsekuensi yang semestinya, seseorang akan belajar dari kesalahannya. Pak Prapto mengajarkan itu dengan sempurna.
Ketika saya mengulang mata kuiah beliau, Pak Prapto menyempatkan diri untuk ‘mengumumkan’ hal penting kepada peserta yang mayoritas adalah adik tingkat. “Mas Andi ini mengulang, bukan karena tidak mampu. Waktunya tersita karena harus persiapan berangkat ke Korea Utara.” Entah dari mana hadir ide itu. Saya memang pernah menceritakan kesibukan itu meskipun tak banyak kaitannya dengan keterlambatan saya saat ujian. Semua itu adalah akibat keteledoran sendiri. Pak Prapto memilih untuk menunjukkan ‘pembelaan’. Sebuah pembelaan yang diniatkan dan dilakoni sendiri tanpa permohonan. Demikianlah seorag guru, semestinya.
Pak Prapto adalah bukti hidup tentang ajaran “belajar tidak mengenal batas usia”. Di usianya yang sudah 80an tahun, Pak Prapto memulai hobi baru: melukis. Lukisannya tidak bisa dibilang amatir atau iseng. Goresannya mantap dan memancarkan kebijaksanaan matang yang sarat akan pengalaman. Garis-garis yang ditorehkan di atas kanvas adalah nasihat kepada siapa saja yang ragu akan dirinya. Ragu untuk memulai sesuatu yang baru. Ragu untuk berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya. Pak Prapto, lewat warna warni dan berbagai arsiran di lukisannya, mengajarakan kepada kita untuk tidak takut melihat sisi lain dari diri kita yang mungkin sering kita lupakan atau malah kita takuti.
Sore ini, ketika beliau dikebumikan, pelajaran itu hadir lagi. Tidak saja sekedar hadir tetapi tumbuh menguat karena disirami bukti-bukti dan jejak karya yang nyata. Hal itu disajikannya hingga akhir hayatnya. Konon, kepergian beliau menghadap Tuhan, terjadi dengan ‘sempurna’. Pak Prapto sedang berjalan kaki dari rumahnya menuju acara Persekutuan Doa. Beliau terjatuh di tangah perjalanan untuk memberikan pelayanan kepada Tuhan dan umat. Alam memang berkerja dengan sempurna. Kepergian beliau mengagetkan namun telah memberi akhir yang istimewa bagi beliau. Akhir yang sempurna tanpa derita. Semoga. Selamat jalan, Pak Prapto, guru kami.
Pemakaman Sawit Sari, 14 September 2024
Doa seorang murid, I Made Andi Arsana
Turut berduka cita atas Berpulangnya pak Prapto. Meski tidak kenal, tapi setiap tulisan pak Made Andi ini memberikan kesejukan dan sarat dengan makna. Teringat sekali dengan mendiang dosen saya yang bernama pak Prapto juga. Sekalipun saat itu sudah berusia senja dan melawan stroke ringan, beliau tidak pernah tidak hadir untuk mengajar. Sesekali tidak hadir hanya ketika benar-benar sakit tak tertahan.