Dosen pasti pernah mengalami ini. Saya sudah mengajar lebih dari dua dekade dan sering mengalami hal ini. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup mahasiswa sehingga kadang mereka tidak ada dalam kodisi terbaiknya saat kuliah. Maka, wajah tidak bersemangat bisa nampak dengan jelas.
Dosen tidak jauh beda. Tidak selalu saya berenergi penuh ketika masuk kelas. Maka tampang lelah sulit disembunyikan. Lebih parah lagi, pembelajaran jam satu siang membuat semuanya jadi sempurna. Sempurna untuk tidak dilanjutkan. Apa yang harus dilakukan ketika ini terjadi?
Kemarin saya mengalaminya lagi. Tentu saja saya bisa memutuskan untuk menghentikan kelas lalu memberi tugas atau alasan lain yang bisa dibenarkan. Atau bisa melanjutkan dengan sekenanya, membiarkan suasana kelas yang tidak kondusif, yang penting selesai. Godaan untuk melakukan hal-hal mudah sering kali muncul. Godaan untuk menyerah dan tidak peduli, mudah datang di saat demikian.
Tentu saja, saya juga bisa juga memilih hal yang lain. Saya kadang menantang diri saya sendiri di saat seperti ini. Tidak untuk membuktikan kepada siapapun tetapi kepada diri sendiri. Bahwa mengajar adalah pilihan hidup saya maka tidak ada faktor luar yang bisa membuat saya menjadi lebih baik. Semua ada di dalam diri. Maka saya kumpulkan sisa energi dan ubah strategi.
Saya paksa diri untuk mengeluarkan seluruh energi. Fokus, serius, antusias. Tentu saja, di awalnya, semua itu adalah pura-pura dan hasil memaksakan diri. Tidak mudah untuk mengubah suasana kelas di jam-jam rawan seperti itu. Mahasiswa pun kadang merespon itu sebagai suatu ‘keanehan’ karena semangat ‘berlebihan’ itu kadang dirasa tidak tepat di situasi mereka yang ingin menyudahi pembelajaran.
Saya sebenarnya bisa menyerah tetapi bisa juga bertahan. Saya pilih bertahan. Suara saya atur sedemikian rupa. Tatapan mata saya jaga agar terjadi kontak dengan lebih banyak mahasiswa. Intonasi suara dipaksakan agar meyakinkan. Intermezzo juga lebih sering dimunculkan. Yang sangat penting, personal stories adalah andalan terbaik. Semua orang perlu mendengar sesuatu yang relatable. Cerita pribadi yang relevan adalah salah satunya.
Pelan-pelan, setelah sekitar 15 menit berjuang, suasana kelas berubah. Satu atau dua mahasiswa mulai ikut mengangguk. Ada yang tersenyum, ada juga yang mengernyitkan dahi. Nampaknya saya mulai berhasil. Saya dibuat percaya lagi, usaha memang tidak mengkhianati hasil. Di saat kritis dan genting, saya perlu kembali pada prinsip-prinsip dasar dan alasan fundamental mengapa saya memilih profesi ini.
Kelas saya tutup dengan cerita klasik, dialog saya dengan bapak saya di tahun 2002 yang akhirnya mengantarkan saya kepada pilihan menjadi dosen. Saya kisahkan kepada mahasiswa itu, pada akhirnya pertanyaannya bukanlah “apa pekerjaanmu saat ini?” tetapi “apakah yang kamu kerjakan saat ini adalah pilihanmu?”. Saya lihat wajah-wajah yang menyimak takzim. Energi positif itu menular. Niat baik juga. Di kelas “Ide Kreatif dan Kewirausahaan” saya yakin, hal ini sangat relevan.