Perempuan di layar kaca

Menikmati wajah itu di layar kaca, seperti bercermin di kolam yang jernih bening. Melihat matanya yang berbinar, pastilah bukan satu-satunya keindahan yang bisa dinikmati, pun dia bukan yang istimewa. Menyaksikan hamburan kecerdasan yang menari lewat kata-kata adalah kecemerlangan yang niscaya. Inilah yang menggetarkan hati.

Perempuan di layar kaca ini bukan sepupu, bukan juga anak sedarah. Dia bayang-bayang tinggi hasil rekayasa idealisme tentang keindahan dan kecerdasan. Begitulah dia yang indah tetapi seperti tidak terjangkau. Kepiawaian yang menjadi pergunjingan dan sorot mata yang bahkan melumpuhkan menjadi keniscayaan yang tidak terbantah.

Perempuan di layar kaca, manik-manik kecil menjadi bekal yang tak habis untuk dijarah. Pun ketika terik matahari mencoba mengeringkan hati. Kejayaannmu yang tak tergapai membuat tertunduk kesombongan ini, luruh dalam menyelusup di bawah langkahmu yang panjang.

Salju

Banyak sekali hal yang membuat orang terheran-heran bahkan terkagum-kagum. Yang menarik, hal yang sederhana bagi seseorang, bisa mencengangkan bagi yang lain, demikian pula sebaliknya.

Ketika masih pacaran, mengajak Asti pulang ke kampung di Bali adalah pengalaman menyenangkan. Bukan karena pacarannya [saja] tapi karena Asti sangat mudah terkesima dengan kejadian-kejadian kecil di desa. Bayu, sepupu umur 2 tahun yang terampil bermain perang-perangan di sawah bermandikan lumpur dan jerami yang busuk membuatnya terkesima. Tak pernah terbayang baginya ada anak sekecil itu bermandikan lumpur bau tanpa membuat orangtuanya khawatir.

Pengalaman lain banyak lagi. Bapak yang pernah ke Jakarta terkesima dengan jalan layang dan pencakar langit yang menjulang. Seandainya Bang Yos tahu itu, mungkin dia tersenyum geli. Begitulah hidup yang penuh rahasia. Tak mudah mengatakan sesuatu itu indah atau buruk karena selalu ada dua sisi yang berbeda.

Ketika salju mengguyur New York, saya adalah satu dari sedikit yang terkesima. Mungkin seperti anak Kota Jakarta yang terbengong-bengong melihat anak desa memandikan kerbau, saya pun demikian. Ketika seorang kawan dari Italy meledek, saya pun hanya meringis. Tapi berhasil membuatnya terkesima ketika saya ceritakan tentang seorang perempuan tua penambang batu padas yang mengantarkan anaknya berkantor di Gedung PBB. Jika pernah terkesima, nikmatilah dan tidak usah berpikir betapa sederhana dan memalukannya seorang saya ketika itu.