Made Kondang yang udik suatu hari sempat satu kereta dengan beberapa orang lulusan luar negeri. Entah mimpi apa Kondang malam sebelumnya, dia tidak pernah membayangkan akan ada di kereta tersebut dengan orang-orang hebat itu. Kondang, seperti biasa tidak banyak omong, terutama karena tidak tahu harus berbicara apa. Membanyangkan kehebatan orang-orang di sekitarnya saja Kondang ciut nyalinya. Singkat kata, Kondang terdiam, tunduk mati kutu karena minder.
“Kalau aku sih tinggal sama ortu, gak kos. Tapi masalahnya bapak gua suka resek orangnya. Dia kan udah pensiun tuh, kerjaannya main piano mulu. Aku kan jadi terganggu. Udah gitu, pakai nyanyi-nyanyi lagi. Mending suaranya bagus, lumayan. Ini, gak sama sekali deh! Gua sering kesel tuh di rumah kalau dia udah main piano.” seorang lulusan luar negeri lain menimpali. Nampaknya isi pembicaraan mereka sama walau Kondang tidak begitu paham. Tapi Kondang tetap diam.
“Di rumahku yang paling nyebelin tuh, Ibuku. Dia sukaaaa banget tanya-tanya. Apa aja ditanyain. Pokoknya suka banget deh ngobrol yang gak penting. Suka tanya inilah, tanya itulah, ngobrol anulah. Sebel pokoknya. Gua sering bentakin tuh, “eh gua kan lagi baca, entar aja deh tanya-tanyanya”. Sebel gak sih?” orang ketiga juga tidak kalah seru memamerkan kepandaiannya merangkai kata-kata. Singkat kata Kondang takjub dan terkesima. Ternyata setelah lulus dari luar negeri itu bisa hebat ya. Bisa memaki ibu, membentak ayah dan bertengkar lalu kabur dari sodara. Memang lulusan luar negeri ini memiliki kepribadian yang hebat. Kondang bergumam….
Kondang tiba-tiba ingat dengan anak perempuannya. Entah apa alasannya, Kondang rasanya tidak ingin membiarkan anaknya sekolah ke luar negeri.