Saya sekali waktu, bahkan sering, lupa tentang cinta. Cinta kepada istri, dan terutama cinta kepada ibu. Keseharian dan kebersamaan yang terlanjur biasa membuat semuanya seperti tidak istimewa. Ibu yang menyiapkan hidangan dengan cinta seakan melakukannya tanpa cinta karena terjadi tiga kali sehari. Istri yang menyiapkan dasi untuk ke kantor sepertinya tanpa cinta karena terjadi setiap pagi. Begitulah rutinitas kadang membuat seorang saya menjadi lupa.
Saya pernah lupa dengan cerita lama bahwa kalau tidak karena ketegaran bathin seorang ibu selama 9 bulan, seorang saya tidak akan pernah menikmati dunia. Lupa juga kalau tidak karena keringatnya menambang batu padas seorang saya tidak akan tersenyum dari lantai 7 menatap opera house di Sydney. Lupa…
Parahnya lagi, saya juga pernah lupa kalau istri adalah perempuan yang sama dengan yang pernah membuat dada saya pernah berdesir dan melihat genting rumahnya membuat saya seperti melayang. Lupa kalau dia adalah perempuan yang sama dengan yang pernah membuat saya tidak sabar menunggu rumah kos sepi sehingga bisa kami nikmati suasana yang menegangkan. Saya pernah lupa, tetapi harus selalu ingat lagi. Cinta memang perlu diremajakan.