Jika ada seorang kawan yang memuji berlebihan, saya kadang berucap “Saya adalah orang yang beruntung, tidak lebih.” Kalimat ini membuat komunikasi kami jadi nyaman. Kalimat pamungkas ini saya artikan secara bebas dan tentunya juga diartikan secara bebas oleh kawan saya. Singkatnya, apapun makna yang diberikan oleh masing-masing, istilah “beruntung” ini sering menyelamatkan saya dari banyak persoalan.
Masih tentang keberuntungan,
Seorang kawan pernah bertanya akan pencapaian saya dan saya jawab. “Anda orang yang sangat beruntung.” begitu dia berujar dan tiba-tiba membuat saya tidak nyaman. “Apa yang Anda maksud dengan beruntung?” saya bertanya, entah dalam hati entah terlontar.
Tanpa atau dengan menunggu jawaban, saya punya pendapat sendiri tentang makna ucapan kawan ini. Jika “beruntung” yang dia maksud sama dengan yang saya maksud yaitu pertemuan antara “kesempatan” dengan “kemampuan”, maka saya akan menyetujui tanpa syarat. Namun, jika “beruntung” yang dia maksud bermakna sama dengan kata “beruntung” pada kalimat “Dia sih hanya beruntung saja.“, mungkin saya harus mengatakan ketidaksetujuan saya. Saya kira Anda bisa memahami ini dan mungkin juga sepaham dengan saya. Hati-hati menggunakan istilah “beruntung”.