Ketika berbicara dengan seorang sahabat lama yang bahkan sudah menjadi saudara, ada kata-kata bijaksana yang diucapkan dan sempat terekam. “Yang penting adalah kemampuan kita mengukur diri”, begitu sang kawan berucap.
Dalam kesibukan dan kesombongan yang masih saja sering menghampiri, tidak mudah untuk setuju dan memahami apa yang diucapkannya ketika, sampai akhirnya saya mengerti. Saya mengerti bukan karena membaca buku tetapi, seperti biasa, dari membaca tanda jaman. Tanda jaman baru saja datang dan ternyata saya telah salah mengukur. Salah mengukur diri, dalam hal ini.
Sesuatu yang saya duga hebat melekat pada sang diri, ternyata lantak binasa dan jauh dari tegar hanya karena sapuan hujan. Sebaliknya, sesuatu yang semula saya hinakan dan saya ragukan keberadaannya, ternyata adalah penolong sejati di suatu ketika. Begitulah, saya yang adalah orang biasa kadang kala salah mengukur. Salah mengukur diri. Maafkan saya wahai sang diri, terima kasih atas pelajaran mengukur kedalaman hati hari ini.