Sariawan datang lagi. Seperti biasa, menghambur mendekat tanpa permisi, pun tanpa basa-basi. Kedatangannya jelas mengganggu. Tidak saja mengusik tapi seringkali malah menyakitkan.
Sariawan kuminta pergi dari sini. Dia, tentu saja seperti kemarin, malas beranjak dan kini semakin yakin dengan kedudukannya yang tanpa disadarinya memberatkanku. Tak cukup alasan untuk mengusirnya ketika masih tetap ada ladang basah untuknya bertumbuh di rumahku.
Kukatakan “pergi!” karena ingin kunikmati makanan pagi ini sendiri tanpa rintihan karena usikannya. Dia tak juga sirna. Kuteriakknya “enyah!” karena ingin kunikmati gairah malah yang dingin dan mengundang hanya dengan istriku, dia mencibir. Cibiran yang dibaluri nafsu seakan ingin serta dicumbu. Aku terhenyak menarik nafas dalam.
Sampai berhasil kulenyapkan ladang subur bagi Sariawan di rumahku, saat itulah di akan pergi. Kegelisahan adalah lahan yang tidak terbandingkan suburnya bagi mekarnya Sariawan. Kapan aku bisa berkelana melampai kegelisahan dan kekhawatiran, saat itulah aku bisa katakan selamat tinggal kepadanya.