Keresahan itu Bernama FATWA


Memandang langit-langit kamar yang yang muram oleh debu yang terperangkap di jaring laba-laba membuat pikiran semakin penat. Berkali kupaksa mata terpejam, tetapi tidak bisa. Pikiran sedang penuh sesak oleh banyak sekali hal yang tertunda.

Aku melesat menuju alam kedua, mencoba melayangkan pertanyaanku pada sekumpulan malaikat yang sedang serius bekerja. “Pikiranku terganggu”, kataku dengan memelas. “Kenapa?” Malaikat satu bertanya. “Aku tidak tahu dan tidak yakin, apakah harus mengikui anjuran para pemuka atau tidak. Mereka baru saja mengeluarkan Fatwa”. “Eh.. Fatwa, apa pula itu?” Malaikat lain menimpali. “Ah masak malaikat tidak tahu, Fatwa itu lo yang mengharamkan ini itu”. “Oh itu, kalau itu aku tahu… tentang guyon itu, ya kan bukan pertama kali dikeluarkan. Itu namanya mati ketawa ala pemuka”. Malaikat ketiga tergelak.

“Kamu tak usah bingung lah. Sudah makan siang kau?”. Satu lagi malaikat bertanya. “Belum malaikat, belum gajian.” jawabku resah. “Weleh-weleh… makan siang saja belum, wajar kalau kau bingung soal guyon begitu. Sekarang pergi sana, tagih gajimu, terus beli makan. Besok, kalau sudah kenyang kau datang lagi ke sini. Baru kita diskusi soal Fatwa.”

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?