Awas Copet


[sebuah modus operandi baru]

Cibinong, 31 Januari 2005 (11.25 pagi)

“Kalau mau ke Cempaka Putih naik apa ya Pak?” saya bertanya kepada seseorang (lelaki 1) di pinggir jalan di Pasar Cibinong. “Oh harus ke Tol dulu Mas, nanti dari sana banyak kok. Saya juga mau ke sana”, begitu jawabnya. Sesaat kemudian kami naik angkot yang sama. Lelaki 1 duduk di sebelah kanan saya.

Di tengah perjalanan beberapa orang naik, salah satunya adalah serang lelaki berbadan besar (lelaki 2) berpakaian rapi (kemeja biru, celana kain). Selang sekitar satu menit lelaki ini membagikan selebaran pijat refleksi. Belum sempat saya mengamati selebaran itu, lelaki ini sudah memijat kaki lelaki 1. Saya lihat agak aneh, memijat orang di angkot. Ketika saya melepaskan perhatian, tiba-tiba kaki saya yang dipijatnya. Saya mulai curiga dan merasa aneh. Jangan-jangan ada apa-apanya nih, sekarang kan marak kejahatan berbau hipnotis. Takut menjadi korban, saya tolak pijatan itu dan berkata. “Nggak usah Pak!”, “Nggak apa-apa kok Mas” dia menjawab sambil tetap memijat. Semakin yakin dengan kecurigaan semula, sayapun lebih tegas sambil mendorong tangannya dan terjadi otot-ototan selama 5-7 detik sebelum akhirnya dia melepaskan. Saya agak lega walaupun masih deg-degan. “Stop Bang!” lelaki 2 tiba-tiba menghentikan angkot sekitar setengah menit setelah memijat saya dan turun dengan tergesa.

“Hati-hati Mas,” seorang lelaki lain (lelaki 3) yang dari tadi duduk di samping pemijat angkat bicara. “bisa-bisa pijatan itu hipnotis lo, awas barangnya diambil”. Mata saya langsung tertuju ke hp Motorola A925 yang memang dari tadi nangkring di pinggang. “Hp saya hilang!” saya berteriak sehingga sopir menghentikan kendaraan. “Tu kan, pasti diambil orang tadi. Cepat aja kejar Mas, mumpung belum jauh”, lelaki 3 berkata semangat. Hal itu didukung oleh lelaki 1 dan seorang lelaki lain (lelaki 4) yang duduk di samping lelaki 1. Saya berpikir tidak ada gunanya mengejar, malah berbahaya, saya pikir. Namun begitu, ketiga lelaki di angkot dengan sungguh-sungguh meyakinkan saya untuk mengejar lelaki 2. Saya yang masih panik, menuruti nasihat mereka dan turun dari angkot. Saya melangkah ragu bersamaan dengan berlalunya angkot yang membawa ketiga lelaki tersebut dan beberapa penumpang lain.

Sesaat kemudian, saya seperti tahu apa yang terjadi! Tapi sudah terlambat.

Pertanyaan:

Siapa yang mengambil hp saya?

Apakah benar terjadi hipnotis dalam kejadian itu?

Pesan:

Jangan ‘nggaya’ naruh hp di pinggang. Itu tindakan bodoh di Jakarta.

Jangan mudah bertanya pada orang yang tidak dikenal.

Jangan tampak blo’on dan lugu di Jakarta J

Disclaimer

Cerita ini nyata, hubungi saya di madeandi@gmail.com jika menginginkan informasi lebih jauh.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

9 thoughts on “Awas Copet”

  1. Ndi,
    So sorry to hear that! But just can’t believe you still dare to petangtang-petengteng with HP in your pinggang while angkotting in JAKARTA!!
    You probably run out your luck, or you have just pushed it too much till the limit knowing you have lost (but your luck allowed you to have them back again) your HP twice in SYDNEY (Please note the spelling between JAKARTA and SYDNEY is completely different, mate! — then the awareness should be different too –)

    Atau sedeng nyobak’ang sabuk ne?:) Beraninya nolak pijatan cowok berbadan kekar.

    Sing kene-sing keto, ingetang melajah ngelawar!
    Blakas dan talenan menunggu di Sydney!

    Yen dadi ngidih bin sik, tolong beliang papan catur!
    Dini nak sedeng getol main catur. The cheapest the better!…papan catur spt ane liyu anggone di banjar-banjar. De bes cenik nah!

    Still summer in Sydney,
    -oDE-

  2. BTW,
    koq ada pesan “jangan tampak blo’on dan dungu di jkt”?
    Did you?:)

    Monto bagusne, masak Andi tampak bloon dan dungu..hehee

    -oDE-

  3. Uppss…sorry Ndi,
    It’s me again.

    Bukan “dungu”, tapi “lugu” hehee…
    Of course you’re a smart man…far away from dungu.
    But lugu?…rrrr..we’ll dicsus about it later….

    -oDE-

  4. Yah, mama baru comment nih…
    hp hilang bisa dicari lagi, yang penting ayah selamat dan bisa “pulang” ke sydney, anak istri masih menanti:)

    ILU-mama

  5. Hehehehehe……kayaknya yang lebih “menggigit” bukan ceritanya Andi deh…tapi coment dari Mama……
    BAca sekali lagi yach…….

    hp hilang bisa dicari lagi, yang penting ayah selamat dan bisa “pulang” ke sydney, anak istri masih menanti:)

    Pake ILU…Hmmm……… So Sweet…….
    hueuheuhehuehuehueu……..

    Sayang banget bisa reuni di Jakarta

  6. wah baca ini mengingatkan trias tentang kota tempat trias tinggal selama 4 tahun sebelum pergi ke perancis dan akan menjadi kota tempat trias tinggal setelah pulang dari perancis. memang benar mas, harus hati-hati di pasar cibinong. banyak copet apalagi angkot no 08 🙂 . lain kali kalau mau main2 ke bogor atau cibinong hubungin trias saja, biar ga kena copet hehehe

      1. bukan bosnya mas.. dulu pernah hampir dicopet juga hhehehe… trus karena sering menggunakan angkot no 08 jadi sering merhatiin tingkah laku sang copet hehehe

Leave a reply to Luna Cancel reply