Sepertinya sudah tidak setara lagi air mata duka dengan ribuan nyawa yang menjadi korban kemurkaan alam yang perpusat di negeri kita. Tak sebanding lagi ratap dan keluh kesah dengan luluh lantaknya dua pertiga Nangroe Aceh Darusalam. Alam murka tanpa seorangpun diberi kuasa untuk mengendalikannya. Semua terasa serba luar biasa dan bahkan jauh di luar jangkauan doa manusia. Diam atau teriak menjadi tidak berbeda, seperti halnya tangis dan tawapun tak memberi makna yang berarti. Semua terasa terlalu besar, terlalu hebat dan semua yang serba terlalu.
Menyesal dan memohon ampun pun serasa tidak lagi mampu mengetuk pintu-pintu maaf dan tidak akan mampu mengubah apapun. Telah terjadi ketidakselarasan yang terlalu jauh, telalu besar, terlalu dahsyat dan semua yang serba terlalu sehingga seakan tidak ada jalan untuk bertobat.

Sumber: http://staff.aist.go.jp/kenji.satake/animation.gif
Aku pasti adalah seekor katak kecil yang diselimuti rendah diri dan rasa pesimis yang terlalu. Jangankan untuk berenang menyelamatkan meraka yang menjadi korban, untuk melihat tangan sendiri yang meneteskan darahpun aku tak mampu. Aku mungkin terlalu lama diporak-porandakan oleh kekejaman yang datang silih berganti tiada henti. Jiwa ini mungkin telah dikerdilkan dengan berbagai kegagalan yang datang bertubi dan tidak pernah pergi. Aku sekarat, meratap, dan menangis dengan air mata yang tak lagi bisa mengalir karena sumur kesedihan telah lama kering oleh duka yang terlalu panjang.
Kedamaian, Keyakinan dan Cinta mungkin telah mati di negeri ini sehingga getarannya tidak lagi mampu menahan murka alam. Kepergian ketiganya mungkin telah menyisakan tumpukan jasad hidup yang tak lagi waras dan tak lagi menyimpan senyum. Namun setidaknya semoga Harapan masih tersisa di bagian kecil kehampaan ini. Semoga lilin Harapan masih cukup terang dan kuat untuk menyulut kembali lentera Kedamaian, Keyakinan dan Cinta yang telah lantak binasa.