[Cerita di balik layar]
Jika Anda hendak mencari informasi formal detail tentang kunjungan SBY ke Sydney beberapa waktu lalu, Anda salah tempat kalau membaca tulisan ini. Sebaiknya kunjungi saja kompas, detik, SMH atau sejenisnya, tentu lebih detail dan akurat. Tulisan ini, hanya memotret kejadian-kejadian kecil yang tidak secara utuh (apalagi) formal merefleksikan kunjungan SBY ke Sydney.
Anak-anak jumpa Presiden
Sekitar jam setengah 6 sore tanggal 4 April 2005, rombongan memasuki hotel Shangri-La di kawasan The Rock. Sekumpulan anak-anak sudah siap dengan pakaian daerah seluruh Indonesia untuk menyambut presiden. Tepat ketika SBY dan Ibu akan memasuki hotel, anak-anak mulai melantunkan lagu Dari Sabang sampai Merauke yang dibawakan dengan cukup meyakinkan. Melihat anak-anak dengan ceria menyanyikan lagu kebangsaan, SBY berhenti dan ikut bertepuk tangan, tepat di depan anak-anak. Kilatan flash kamera tidak berhenti, mencoba mengabadikan momen tersebut. SBY pun ikun bernyanyi, menimbulkan suasana yang hangat dan akrab.

SBY disambut anak-anak Indonesia di Sydney
“Terima Kasih ya anak-anak ya!” SBY menyampaikan penghargaannya kepada anak-anak. “Sekolahnya di mana?”, begitu dia bertanya kepada seorang anak yang dijawab dengan senyum tak berdosa, tanpa kata. Bukan, bukan karena anak-anak ini tidak sopan tapi most likely karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia! Separah itukah? Ya begitulah kelihatannya. Anak-anak Indonesia di Sydney umumnya mengerti bahasa Indonesia, tapi tidak fasih mengucapkannya. Masih untung tidak dijawab ”at Kensington Public School, Mr. President”.
Anyway, SBY nampaknya cukup puas dengan sambutan yang hangat tersebut dan akhirnya naik ke kamar setelah mendengarkan lagu kedua. Nampak para orang tua tersenyum agak lega ketika presiden sudah berlalu dari anak-anak, pasalnya, seperti yang diungkapkan seorang ayah, mereka takut kalau-kalau presiden bertanya lebih lanjut dan anak-anak tidak menjawab, sekali lagi karena alsan yang sama.
Sebenarnya melihat anak-anak bisa bernyanyi seperti itu adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi para orang tua di Sydney. Pasalnya, memang sangat sulit mengajari mereka bernyanyi lagu wajib. Bisa dibayangkan, anak-anak yang lahir besar di Sydney dan tidak bisa berbahasa Indonesia dengan aktif akan susah mendendangkan Halo-halo Bandung atau Nyanyian Pulau Kelapa. Ketika diberikan teks lagi Halo-halo Bandung, seorang anak bahkan tidak bisa membaca sesuai dengan lafal yang sesungguhnya. “Hello Hello Bendang” begitu mereka mengucapkan Halo-halo Bandung. Tentunya sangat lucu kalau sampai dinyanyikan di depan SBY.
Temu Masyarakat: Tenda Bocor
Sekitar jam 8 malam, dilakukan acara makan malam dan temu masyarakat di Wisma Indonesia, tempat kediaman Konsulat Jenderal Indonesia untuk Sydney. Secara umum, SBY tampil sangat mempesona, menjelaskan hampir semua persoalan dengan gamblang, menjawab semua pertanyaan dengan sabar dan mendengarkan saran dengan seksama. Seorang Sopir Konjen bahkan berkata “Memang pinter presiden kita ini menjelaskan kepada masyarakat”. Jika seorang sopir saja dengan mudah bisa memahami penjelasannya, tentunya SBY bisa dikatakan memiliki kemampuan komunikasi yang tidak mengecewakan.
Peristiwa cukup menegangkan terjadi pada saat tanya jawab ketika hujan turun dengan lebatnya. Tepat di atas SBY dan Kojen beserta Ibu, air menetes karena tenda bocor. Kejadian ini tentu saja sangat menegangkan bagi Konjen secara umum karena bisa berarti sebuah indikator kegagalan. Untunglah PASPAMPRES dengan sigap memindahkan kursi agak ke belakang sehingga SBY, Konjen dan para istri tidak kena tetesan air. SBY pun menyikapi dengan tenang dengan berkelakar ”Ini hujan barokah” katanya. Kontan lelucon segar ini disambut sorai peserta. Orang-orang Konjen pun nampaknya boleh sedikit berlega hati.
Presiden mau pipis 🙂
Menunggu kedatangan presiden malam itu untuk konperensi pers memang cukup lama. Ketika datang dan mendekati ruang konperensi, tiba-tiba rombongan lengkap dengan Secret Secvice dan PASPAMPRES berbelok ke toilet. Oh, rupanya SBY mau pipis dulu sebelum konperensi. Namanya juga presiden, ke mana-mana harus diukuti oleh Secret Service :). Seorang Protokoler Konjen mengatakan bahwa tidak boleh menutup toilet hotel untuk kepentingan orang lain selama presiden ada di dalam karena toilet itu memang untuk publik. Maka harus disiasati untuk memberi kesan toilet penuh sehingga tidak ada orang yang boleh masuk. Wah susah juga, jadi presiden 😦

Menunggu SBY masih pipis 🙂
“Masih nunggu Pak Ical ya?“
Ketika presiden dan beberapa menteri sudah ada di ruangan, konperensi belum juga dimulai. Suasana masih informal, SBY bercakap-cakap santai dengan beberapa menteri dan Dubes termasuk melontarkan celetukan-celetukan kepada wartawan yang seringkali disambut tawa. ”Kalau ada kunjungan begini, yang menikmati keindahan negeri orang justru bukan presiden, tapi wartawan” kata SBY di sela obrolan informalnya.
”Masih nunggu Pak Ical ya?” tiba-tiba SBY melontarkan pertanyaan setengah pernyataan yang membuat suasana agak diam. Memang malam itu Aburizal Bakrie selaku Menkoekuin adalah satu-satunya menteri yang belum datang. Kejadian ini memunculkan pertanyaan:
- Sedemikian baiknya kah SBY sehingga terbiasa mentoleransi bawahannya yang terlambat?
- Sehebat apa Ical sehingga berani telat di acara konperensi pers di negara orang?
- Tidakkah ini pertanda kelemahan SBY yang tidak tegas sehingga dilecehkan bawahannya?
Entahlah, ini yang jelas adalah manifestasi dari sebuah pemerintahan kompromi.
President’s Joke
Ketika menunggu pesiapan konperensi pers dengan wartawan Indonesia, SBY sempat melontarkan lelucon yang cukup baik. Sebenarnya lelucon itu sudah cukup populer di masyarakat terutama melalui dunia maya, namun ketika disampaikan kembali oleh seorang presiden menjadi lain kesannya.
Lelucon ini adalah tentang kisah guru, Pardede, di Manado yang mengajukan pertanyaan sejarah kepada serang muridnya, Ucok. Cerita yang disampaikan lengkap dengan logat Manado yang cukup fasih, membuat cerita menjadi hidup dan natural. SBY layaknya seorang pelawak kawakan membuat wartawan dan hadirin, termasuk menteri tergelak tak tertahankan. Bagi Anda yang belum pernah tahu ceritanya, berikut adalah ringkasannya:

PASPAMPRES gadungan
Pardede : Ucok, siapa penulis naskah proklamasi?
Ucok : Bukan saya Bu.
Pardede : Bukan begitu maksud aku, ini pertanyaan sejarah, tahu nggak kamu, siapa penulis naskah proklamasi? Kau harus bisa menjawab pertanyaan semacam ini.
Ucok : (terdiam sesaat) Sungguh Bu Guru, bukan saya! Sumpah!
Karena merasa sedikit kesal sekaligus prihatin dengan kemampuan Ucok dalam sejarah, Pardede merasa perlu untuk memanggil orang tua si Ucok, Simanjuntak.
Pardede : Begini Pak Simanjuntak, saya mencoba mengajukan pertanyaan sejarah kepada Ucok, tetapi dia tidak bisa menjawab dengan benar. Ketika saya tanya siapa penulis naskah proklamasi, masak dia bilang bukan dia yang menulis. Itu kan jawaban yang salah.
Simanjuntak : Oh begitu ya Bu. Baiklah nanti di rumah saya akan gembleng dia agar bisa memberi jawaban yang benar.
Sesampai di rumah, Simanjuntak langsung menemuai anaknya dan mengulang pertanyaan gurunya
Simanuntak : Ucok, tadi katanya ibu guru bertanya siapa penulis naskah proklamasi dan kau tidak bisa menjawab.
Ucok : (dengan sedikit teriak) bukan saya Amang!
Simanjuntak : Lha itu bukan jawaban yang benar Ucok. Jawablah dengan benar, siapa penulis naskah proklamasi?
Ucok : Sumpah Amang, bukan saya!
Simanjuntak : Ucok, jangan bikin malu amangmu ini, MENGAKU SAJALAH KAU!
Ucok : Sungguh Amang, bukan saya!
Simanjuntak rupanya hilang kesabaran dan akhirnya menempeleng habis anak kesayangannya. Namun Ucok tetap bersikeras bilang bahwa bukan dia yang membuat.
Simanjuntak : Wah, rupanya memang bukan kau yang bikin. Aku harus sampaikan kepada Ibu Guru Pardede ini.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Simanjuntak sudah ada di sekolah dan menghadap ibu Pardede
Simanjuntak : Bu Pardede, saya sudah tanyakan kepada Ucok bahkan saya tampar dia berkali-kali. Dia tetap tidak mau mengaku. Saya yakin bahwa memang bukan dia yang bikin itu proklamasi. Coba ibu tanya saja pada teman-temannya yang lain!
Pardede : $##Q$#O%_$#%)_##%#$#%(#%+@#%(
Andi Malaranggeng, artis!
Seperti bisa diduga, Andi Malaranggeng, juru bicara presiden adalah salah seorang delegasi yang digandrungi masyarakat. Senyumnya yang manis dan kumisnya yang ’menggoda’ membuat ibu-ibu (bahkan ada juga bapak-bapak) histeris dan ngebet berfoto dengan Andi.
Gaya komunikasinya yang santai dan ramah membuat dia dekat dengan siapa saja. Wartawan pun terlihat mendengarkan briefing dia dengan seksama dan menjalankan dengan baik. ”Gimana bos?” itulah kata-kata yang hampir selalu dia ucapkan kepada siapa saja yang dijumpai seraya bersalaman. ”Gimana bos?”

Andi Malaranggeng membriefing wartawan
Yusril yang kecut
Berbeda jauh dengan Andi Malaranggeng, Yusril nampak selalu muram dan cemberut sepanjang kunjungan. Kesan pertama ketika memasuki hotel sudah menunjukkan bahwa dia bukan orang yang ramah. Tidak jelas apa masalah yang dihadapinya, dia terlihat selalu tidak puas dan tidak bahagia. Seorang Protokol Konjen bahkan mengatakan ”Yusril memang cemberut kalau sedang senang, dan sebaiknya ceria kalau sedang kesal” disambut gelak tawa semua yang mendengarkan.

Yusril. Tampangnya begini terus sepanjang kunjungan
Sebenarnya masih banyak cerita yang off the record. Kalau ada waktu akan dibuat seri berikutnya! “Gimana Bos?“
Disclaimer
Foto-foto dalam tulisan ini adalah ilustrasi semata, hasil jepretan Pak Imam Dewanto dan tidak ada kaitannya dengan berita ini.



