Rapuhnya Batas Wilayah Negara Kepulauan Indonesia: Refleksi masyarakat kita untuk Ambalat

[Sebuah catatan kecil dari Seminar Nasional]

I Made Andi Arsana

Seminar yang diprakarsai oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi dan didukung sepenuhnya oleh Bakosurtanal ini dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik, Prof. Indarto pada pukul 9.00 pagi, 3 Mei 2005. Ada beberapa catatan penting yang perlu disimak dari seminar ini dan merupakan fenomena menarik sekaligus refleksi masyarakat Indonesia dalam menyikapi sebuat sebuah konflik antarnegara.

Sekali lagi, Ambalat bukan pulau.
Seperti kekeliruan yang umum terjadi di masyarakan, ternyata masih banyak yang menganggap bahwa Ambalat adalah sebuah pulau. Hal ini tercetus tidak saja dari peserta seminar bahkan juga dari Dekan Teknik selaku pembuka seminar, dan juga seorang pembicara bidang hukum. Ini adalah sebuah kesalahan serius, apalagi ketika diungkapkan oleh seorang akademisi yang tutur bahasanya selayaknya dipercaya. Memandang Ambalat sebagai sebuah pulau tentu saya memberi konsekuensi legal yang sangat berbeda. Dalam konsep kedaulatan, dikenal istilah kedaulatan penuh (sovereignty) dan hak untuk berdaulat (sovereign rights). Keduanya adalah hal yang benar-benar berbeda dan perlu diperhatikan sungguh-sungguh. Kedaulatan penuh berlaku terhadap wilayah darat (termasuk pulau) dan wilayah perairan pedalaman (atau perairan kepulauan, untuk kasus Indonesia) dan laut teritorial. Jika Ambalat dianggap pulau oleh sebagian orang, artinya mereka pun berpikir bahwa pada Ambalat berlaku kedaulatan penuh. Ini berarti bahwa jika sebagain orang menganggap Ambalat adalah milik Indonesia, Malaysia akan dianggap merebut kedaulatan penuh tersebut dan wajar jika ‘perang’ dan ‘ganyang’ adalah jawabannya.

Sekali lagi, Ambalat bukanlah pulau melainkan wilayah dasar laut yang diduga (dengan data) mengandung cadangan minyak dan gas bumi. Hal ini ditegaskan oleh Arif Havas Oegroseno dari Polkamwil Deplu. Dengan kata lain, berbicara tentang Ambalat, berarti berbicara tentang wilayah dasar laut/seabed. Melihat jaraknya dari pulau Kalimantan (Borneo), Ambalat berada pada Zona Ekonomi Eksklusif kedua negara atau bahkan Landas Kontinen, karena berkaitan dengan dasar laut.

Malaysia tidak berhak mengklaim Ambalat?
Ada sebuah pendapat yang dinyatakan oleh seorang petinggi negara kita bahwa Malaysia bukanlah negara kepulauan sehingga tidak berhak atas laut teritorial. Ini pernyataan yang sangat keliru.
Menurut Konvensi hukum laut, sebuah negara pantai (negara yang wilayah daratannya secara langsung bersentuhan dengan laut) berhak atas zona maritim laut teritorial, EEZ, dan landas kontinen sepanjang syarat-syarat (jarak dan geologis) memungkinkan. Dalam hal ini, tidak diragukan lagi bahwa Indonesia dan Malaysia yang sama-sama telah meratifikasi UNCLOS III memang berhak untuk mengklaim wilayah laut. Hanya saja, seperti dapat diduga, memang akan terjadi pertampalan atau tumpang-tindih klaim antar kedua negara. Ambalat, di satu sisi, berada pada klaim tumpang tindih ini. Dengan demikian, Malaysia secara hukum memang berhak atas klaim tersebut.

Sipadan Ligitan, bagaimana perannya?
Diberikannya kedaulatan atas Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia oleh ICJ pada tahun 2002 melahirkan potensi berubahnya konfigurasi garis pangkal Indonesia dan Malaysia. Garis pangkal Indonesia kini tidak lagi menggunakan kedua pulau tersebut sebagai titik pangkal sehingga zona laut yang bisa diklaim akan berubah dan cenderung menyempit. Sementara itu, Malaysia bisa saja menggunakan kedua pulau tersebut sebagai titik pangkal yang konsekuensinya adalah wilayah laut yang bisa diklaim akan melebar ke bagian selatan. Ini juga yang memperkuat dasar klaim Malaysia terhadap ambalat. Namun demikian, tetap ada kemungkinan Indonesia menolak memberikan peran penuh (full effect) kepada kedua pulau tersebut sehingga tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap klaim malaysia.

Dasar Klaim dan Klaim sepihak
Pendapat umum mengatakan bahwa klaim Indonesia lebih kuat dibandingkan klaim Malaysia karena klaim Indonesia berdasarkan UNCLOS III sedangkan klaim malaysia berdasarkan Peta 1979 yang dibuat secara sepihak. Hal ini benar adanya, namun tidak berarti bahwa Malaysia tidak mengacu kepada UNCLOS III mengingat Malaysia juga telah meratifikasinya. Di sisi lain, peta tahun 1979 memang dibuat sepihak dan Indonesia telah memprotesnya bahkan pada bulan Februari 1980. Perlu diingat lagi bahwa pada dasarnya Malaysia boleh saja mengajukan klaim sepihak, tugas Indonesia dan negara lainlah untuk menolak atau menyetujui klaim tersebut. Intinya adalah negosiasi dan kesepakatan bilateral. Bukankah Indonesia juga melakukan hal yang sama terhadap si kecil Palau yang mana klaim kita jauh melampuai garis tengah antara Indonesia dan Palau. Sepanjang Palau tidak/belum memprotes, toh tidak ada yang emosi karenanya. Rakyat Indonesiapun tidak begitu peduli dan tidak mau tahu dengan hal ini. Namun tentu saja dosa tidak boleh dibayar dosa. Kesalahan Malaysia yang mengklaim sepihak tidak bisa diampuni hanya gara-gara Indonesia juga mengklaim sepihak atas Palau.

Ajukan ke Mahkamah Internasional?
Clive Schofield, pembicara dari CMP, University of Wollongong, mengatakan bahwa negosiasi adalah jalan keluar terbaik menyelesaikan masalah ini. Dengan negosiasi, akan dimungkinkan mencapai apa yang diinginkan tanpa ada yang kalah dan menang. Tentu saja, menurutnya, dalam bernegosiasi kita tidak bisa berharap akan memperoleh seluruh keinginan kita. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa Malaysia memang juga berhak atas klaim wilayah laut.

Dengan menyerahkan kasus ini kepada Mahkamah Intenasional (ICJ) kedua pihak akan kehilangan kendali terhadap kasus ini. Sederhanaya, kita menyerahkan segala keputusan kepada pihak ketiga yang belum tentu bisa sepenuhnya memahami histori dan emosi hubungan kedua negara. Hal ini tentu akan diperburuk dengan kelemahan kita dalam menyediakan bukti-bukti hukum.

Indonesia dengan para ahlinya
Ada hal menarik dari seminar ini bahwa Indonesia ternyata telah melakukan cukup banyak hal berkaitan dengan penyelesaian perbatasan laut internasional dengan negara tetangga. Dari rangkuman Clive Schofield, terlihat setidaknya ada 8 perjanjian yang telah disepakati dengan negara tetangga. Sebuah prestasi yang luar biasa. Hal semacam ini nampaknya perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar lebih menghargai usaha pemerintah. Masih menurut Clive, Indonesia adalah Bapak dari Negara Kepulauan yang telah berkontribsi signifikan dalam pembentukan UNCLOS III. Konsep negara dan garis pangkal kepulauan adalah wujud kontribusi Indonesi dalam konvensi tersebut.
Mengingat Indonesia telah berpengalaman dalam penyelesaian perbatasan laut dengan negara tetangga, adalah wajar jika Indonesia seharusnya percaya diri dalam menyelesaikan masalah Ambalat dengan Malaysia. Pengalaman ini tentu saja akan menjadi nilai tambah dalam bernegosiasi dengan Malaysia nantinya. Dengan tegas, Clive Schofield bahkan menyatakan bahwa sesungguhnya Indonesia tidak perlu ahli asing dalam hal ini. ”I am cofused what I am doing here now”, begitu dia berkelakar.

Catatan Akhir
Seminar ini mengigatkan setidaknya tiga hal:

  1. Indonesia memiliki ahli dan pengalaman yang memadai, namun sayang tidak banyak ahli memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan persoalan seperti kasus Ambalat dengan bahasa yang populer dan dipahami masyarakat.
  2. Kasus Ambalat, seperti halnya kasus antar negara lainnya, bersifat rahasia karena masih belun dirundingkan. Hal ini menyebabkan pemerintah harus merahasiakan strateginya. Ini harus dipahami masyarakat bukan sebagai ketidakterbukaan pemerintah terhadap informasi namun sebagai upaya menyelamatkan rencana negosiasi. Masyaratakat harus memahami kapan saatnya transparan dan kapan pemerintah boleh merahasiakan sesuatu.
  3. Pemerintah, tokoh masyarakat, ahli dan media, dengan semangat kebangsaan harus saling mendukung. Pernyataan ekstrim di satu sisi memang sangat mendongkrak penjualan oplah, namun di satu sisi juga meresahkan masyarakat. Petinggi pemerintah juga harus sangat berhati-hati mengeluarkan pernyataan jangan sampai melemahkan posisi Indonesia di dunia internasional karena mengeluarkan pernyataan yang tidak benar secara legal dan ilmiah.

Censored!

[Belajar dari B*g Br*th*r]

Big Brother (BB) tentu saja bukan sebuah acara ideal bagi seorang mahasiswa yang sedang kuliah postgraduate di Sydney. Tidak juga (seharusnya) bagi siapa saja yang tidak tertarik menyaksikan tontonan tanpa skrip menyajikan sekumpulan anak muda membicarakan persoalan-persoalan yang gak mutu. Namun begitu, kenyataannya acara ini (yang di Indonesia ditiru dengan Penghuni Terakhir) tetap ada dan bertahan hingga kini di sebuah stasiun TV terkemuka Australia. Diam-diam, saya pun masih menyempatkan diri menontonnya di sela-sela browsing bahan penelitian. Sangat tidak ideal memang.

Ada satu hal menarik yang (semoga) tidak terlalu buruk dipelajadi dari BB yaitu cross culture understanding. Bagi seorang Indonesia dengan bahasa Inggris biasa-biasa saja dan pola bergaul yang tidak terlalu outgoing, tidak mudah untuk menyelami kehidupan orang Australia yang sesungguhnya. Hubungan dengan mahasiswa lokal umumnya sebatas urusan formal kuliah. Ini menyulitkan kita untuk memahami budaya mereka lebih dalam.

BB hadir, salah satunya, untuk menjadi sebuah media di mana kita bisa mengenal kehidupan orang Australia, terutama generasi mudanya, karena kebetulan BB cukup natural dalam menyajikan fenomena kehidupan anak-anak muda Australia. Singkatnya, BB bisa menjadi representasi yang cukup layak menggambarkan cara hidup dan pola hubungan pemuda Australia. Silahkan dilihat acara uplate atau uncut.. oops!

Satu lagi yang menarik, BB menunjukkan secara tidak langsung bagaimana cara media Australia menyensor informasi. Sangat mengejutkan bahwa mereka lebih berhati-hati dengan informasi verbal dibandingkan visual. Bagi anda yang pernah menyaksikan BB, akan menyadari bahwa sangat sulit mendengar para peserta mengucapkan kata-kata kasar/jork. Suara ”bip” akan terdengar sepanjang siaran karena saking banyaknya kata-kata yang harus mereka sensor. Sementara di lain sisi, dengan mudahnya pemirsa bisa melihat seorang cewek mempertontokan (maaf) susu dan pantatnya, termasuk cowok tanpa sehelai benangpun menghadap kamera. Tidak sulit untuk melihat cowok cewek telanjang atau berciuman ketika mandi bersama di sebuah kolam air panas, misalnya.

Saya pribadi belum mengerti apa alasan kebijaksanaan ini. Masih cukup aneh ketika dilihat dari kacamata Indonesia. Atau jangan-jangan, Australia memang menganut prinsip ”setajam-tajamnya pisau masih lebih tajam mulut manusia. Pisau tajam melukai kulit, mulut tajam melukai hati”. Jadi inget kata-kata Sangut di wayang Cenk Blonk yang mengatakan ”Tidak ada yang menjual onderdil hati”. Barangkali!

Jalan Masih Panjang

Iseng-iseng main ke indrani, ketemu link untuk membuat peta negara-negara yang telah dikunjungi. Menarik juga! Ternyata baru sedikit saja dari belahan dunia ini yang telah aku kunjungi.

Ulang Tahun

[27 tahun berjalan]

http://i.euniverse.com/funpages/cms_content/2529/4candles.swf
Made Kondang, sekedar ikut-ikutan tetangganya mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya malam ini. Tidak jelas apa motivasi lelaki kumuh ini mengundang teman-teman sesama pengembala sapi untuk berkumpul di rumahnya. Merayakan ulang tahun, begitu Kondang menjelaskan ketika Koplar, sahabat karibnya, bertanya. “Ulang tahun?, sejak kapan kamu berulang tahun segala?” Koplar terperangah tidak paham. Kondang hanya tersenyum kecil sambil meneruskan nada sumbang nyanyian selamat ulang tahun.

Kondang memang satu saja dari sekian banyak orang di desa ini yang mulai berulang tahun. Pesta itu kini dengan pasti telah menggeser otonan yang sebelumnya diperingati setiap 210 hari sekali. Otonan kini tak sepopuler birthday. Lagipula, Nyoman Sumi, si kembang desa lebih suka mengucapkan “selamat ulang tahun” daripada “rahajeng nyangra rahina otonan”. Itu juga lah yang membuat Kondang menyibukkan diri mengorganisasi sebuah pesta ulang tahun. Siapa tahu dengan acara gaul semacam ini, Nyoman Sumi, jatuh hati padanya.

Kondang tiba-tiba saja ingat seorang temannya beragama Islam bernama Abdullah. Ketika dulu dia bertanya kepada Abdullah kapan ulang tahunnya, Abdullah dengan mantap menjawab, ”Ulang tahun itu tradisi agama lain. Saya tidak akan menjalankan tradisi itu karena saya seorang muslim taat.” Jawaban yang cukup mencengangkan Kondang ketika itu, tapi keterbatasan isi kepalanya tidak membuat dia bertanya lebih jauh. Lagipula jawaban singkat dan tegas itu nampaknya memang tidak untuk diperdebatkan.

Sementara Kondang yang bukan muslim bukan nasrani merenung sendiri. Apakah ini tandanya tidak berkepribadian? Apakah ini tandanya tidak mempunyai pegangan hidup dengan menjalankan tradisi agama lain hanya karena trend semata? Kondang terdiam sejenak sambil menikmati senda gurau temannya yang dengan ceria bermain di pesta ulang tahunnya.

Ha.ha..ha.. tiba-tiba saja Kondang tertawa geli. Geli dengan kegundahannya sendiri. Untuk apa memikirkan hal-hal yang tidak esensial seperti ini. Mau ulang tahun kek, mau otonan kek, mau dibaptis kek, mau disunat kek, terserah saja. Kebenaran itu adalah universal adanya seperti halnya ilmu dasar semacam fisika dan matematika. Jika seorang Bali tulen seperti dirinya bebas mengutif terori relativitas yang dikembangkan oleh fisikawan Jerman: Einstein, atau dengan leluasa mengaplikasikan prinsip phytagoras yang ditemukan oleh Phytagoras yang entah berkebangsaan apa, maka tidak salah jika seorang pemuja Hyang Widhi seperti dirinya juga mencintai ajaran Yesus , Budha dan Muhammad yang diyakini pastilah sama agung dan wibawanya.

Biarlah mereka pusing dengan tradisi itu, aku baru saja meng-sms para pemilik ajaran dan mereka tidak keberatan tradisinya dipakai. Jadi, Selamat Ulang Tahun!

Karena Cinta yang berlimpah

Hari ini, untuk keseribu tujuh kali aku menyadari lagi, kebaikan istri yang tak kan pernah terbayar dengan apapun. Seperti saat keseribu enam kali, hari ini pun aku berkelana berbekal senyum dan pengertian seorang istri yang sabar tak tergantikan. Senyum dan kesederhanaan yang tak pernah berlebih, menjadi kekuatanku meniti waktu. Tentu saja ini bukan senyum biasa, tapi senyum yang mencirikan kesadaran. Kesadaran akan kelemahanku yang tidak bisa kutambal hingga hari ini.

Istriku perempuan pagi yang tersenyum tidak saja kepada burung yang hinggap di ujung daun cemara tapi juga kepada lalat kecil yang terbang bising melintasi sampah di belakang rumah. Istriku perempuan pagi yang mudah tersenyum. Senyum yang menjadi energi dan motivasi. Senyum yang selalu disandangnya meski ketika sakit datang di sela mual tak tertahan.

Istriku perempuan siang yang tidak mengeluh karena terik matahari. Tak juga meringis karena kulit yang tak sengaja bertambah gelap. Istriku perempuan siang yang bersama panas mentari, membakar semangat, memompakan gairah yang maha adanya. Istriku perempuan siang yang bahkan tidak merengekkan alas kaki yang kepanasan. Istriku perempuan siang yang tak sesat di persimpangan.

Istriku perempuan malam yang mendesah manja di sela temaram lilin penghias meja. Istriku perepuan malam yang hatinya tenang setenang semburat purnama. Istriku perempuan malam yang penuh kehangatan, mengubah dengan sempurna terik siang menjadi cinta di malam tiba. Istriku perempuan malam yang tidak berteriak dalam ketakutan.

Menjadi pagi ia, menjadi siang ia, menjadi malampun ia. Ia yang serba sabar karena cinta yang berlimpah.

Waktu | Keadilan

[24 jam sehari]

Waktu | Keadilan
Waktu adalah salah satu tanda keadilan. Mengapa? Karena waktu adalah salah satu yang diberikan dalam jumlah yang benar-benar sama pada setiap orang. 24 jam sehari, tidak lebih tidak kurang berlaku untuk siapa saja tanpa kecuali.

Sudahkan Anda memanfaatkan sebagian besar waktu yang 24 jam itu untuk sesuatu yang menyenangkan? Sayang sekali jika belum! Namun demikian, hal menyenangkan bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Ada yang senang karena berhasil menjelajah dunia maya hingga ke lorong-lorog terpencil yang tidak dikunjungi banyak orang. Ada yang senang karena berhasil tidur lebih dari 10 jam sehari tanpa ada seorangpun yang mengusik lelapnya. Ada pula yang senang karena setiap hari menjadi pahlawan menolong orang yang kesusahan, berhasil mencerahkan oran-orang yang berkutat di kegelapan dan mengangkat mereka yang terpuruk dalam lembah kenistaan tak bertepi.

Oh ya, bagaiaman dengan Anda? Apa yang membuat Anda senang?

Blog for a Beginner

[a simple guide]

Some friends asked me how to create a blog and how to post an article in a blog. Finally I decided to post this simple article about blogging, in particular using blogger. This is a basic one so some of you might find it too simple. However, many people will find it useful. Happy reading!

Creating a Blog

  1. Come to http://www.blogger.com
  2. Click “CREATE YOUR OWN BLOG NOW” (orange arrow above)
  3. Fill the form
  4. Click “CONTINUE”
  5. Fill Blog title address
  6. Click “CONTINUE”
  7. Choose a template (design) you like
  8. Done!

Posting

  1. Come to http://www.blogger.com
  2. Sign in with your new username and password
  3. Click “New Post”
  4. Fill the title and start writing. You can also copy and paste what you have already written in a word processor (ms word, notepad, etc)
  5. Enjoy!

For more advanced topic please read this

Biarkan Pak Google Menemukan Anda!

Punya website tapi begitu Anda coba search tidak ditemukan? Ya ini persoalan biasa dan mungkin dialami oleh hampir semua orang. Sekarang jamannya mudah membuat website (baca: blog) dan dalam sekejap kita akan melayang-layang didunia maya, mudah ditemui di dan dari mana saja. Tentu saja menggunakan mesin pencari semacam Pak Google. Teman Anda dengan mudah mengetahui keberadaan Anda atau apa yang biasa Anda tulis dengan bertanya pada Pak Google. However website kita tidak akan otomatis dikenal oleh google, apalagi website kita termasuk yang tidak populer dan jarang dikunjungi orang.

Untuk memeperkealkan website kita pada Pak Google, gampang! Silahkan kunjungi addURL-nya google di http://www.google.com/addurl/. Simply masukkan URL Anda dan submit!

Namun begitu, google tidak pernah berjanji akan memuat URL Anda. Tergantung beberapa pertimbangan dan itu murni keputusan internal google. So, jangan tuntut google karena website Anda tidak dimuat 🙂

Anda perlu menunggu beberapa hari sampai website Anda dikenali. Sementara menunggu, rajinkan mengunjungi google dan ketikkan website anda di google untuk menguji pencarian.

Selamat mencoba!

I am in the Jakarta Post!

The writing bellow is taken from http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20050412.F04

What do you say?

Kunjungan SBY ke Sydney

[Cerita di balik layar]

Jika Anda hendak mencari informasi formal detail tentang kunjungan SBY ke Sydney beberapa waktu lalu, Anda salah tempat kalau membaca tulisan ini. Sebaiknya kunjungi saja kompas, detik, SMH atau sejenisnya, tentu lebih detail dan akurat. Tulisan ini, hanya memotret kejadian-kejadian kecil yang tidak secara utuh (apalagi) formal merefleksikan kunjungan SBY ke Sydney.

Anak-anak jumpa Presiden
Sekitar jam setengah 6 sore tanggal 4 April 2005, rombongan memasuki hotel Shangri-La di kawasan The Rock. Sekumpulan anak-anak sudah siap dengan pakaian daerah seluruh Indonesia untuk menyambut presiden. Tepat ketika SBY dan Ibu akan memasuki hotel, anak-anak mulai melantunkan lagu Dari Sabang sampai Merauke yang dibawakan dengan cukup meyakinkan. Melihat anak-anak dengan ceria menyanyikan lagu kebangsaan, SBY berhenti dan ikut bertepuk tangan, tepat di depan anak-anak. Kilatan flash kamera tidak berhenti, mencoba mengabadikan momen tersebut. SBY pun ikun bernyanyi, menimbulkan suasana yang hangat dan akrab.


SBY disambut anak-anak Indonesia di Sydney

Terima Kasih ya anak-anak ya!” SBY menyampaikan penghargaannya kepada anak-anak. “Sekolahnya di mana?”, begitu dia bertanya kepada seorang anak yang dijawab dengan senyum tak berdosa, tanpa kata. Bukan, bukan karena anak-anak ini tidak sopan tapi most likely karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia! Separah itukah? Ya begitulah kelihatannya. Anak-anak Indonesia di Sydney umumnya mengerti bahasa Indonesia, tapi tidak fasih mengucapkannya. Masih untung tidak dijawab ”at Kensington Public School, Mr. President”.

Anyway, SBY nampaknya cukup puas dengan sambutan yang hangat tersebut dan akhirnya naik ke kamar setelah mendengarkan lagu kedua. Nampak para orang tua tersenyum agak lega ketika presiden sudah berlalu dari anak-anak, pasalnya, seperti yang diungkapkan seorang ayah, mereka takut kalau-kalau presiden bertanya lebih lanjut dan anak-anak tidak menjawab, sekali lagi karena alsan yang sama.

Sebenarnya melihat anak-anak bisa bernyanyi seperti itu adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi para orang tua di Sydney. Pasalnya, memang sangat sulit mengajari mereka bernyanyi lagu wajib. Bisa dibayangkan, anak-anak yang lahir besar di Sydney dan tidak bisa berbahasa Indonesia dengan aktif akan susah mendendangkan Halo-halo Bandung atau Nyanyian Pulau Kelapa. Ketika diberikan teks lagi Halo-halo Bandung, seorang anak bahkan tidak bisa membaca sesuai dengan lafal yang sesungguhnya. “Hello Hello Bendang” begitu mereka mengucapkan Halo-halo Bandung. Tentunya sangat lucu kalau sampai dinyanyikan di depan SBY.

Temu Masyarakat: Tenda Bocor
Sekitar jam 8 malam, dilakukan acara makan malam dan temu masyarakat di Wisma Indonesia, tempat kediaman Konsulat Jenderal Indonesia untuk Sydney. Secara umum, SBY tampil sangat mempesona, menjelaskan hampir semua persoalan dengan gamblang, menjawab semua pertanyaan dengan sabar dan mendengarkan saran dengan seksama. Seorang Sopir Konjen bahkan berkata “Memang pinter presiden kita ini menjelaskan kepada masyarakat”. Jika seorang sopir saja dengan mudah bisa memahami penjelasannya, tentunya SBY bisa dikatakan memiliki kemampuan komunikasi yang tidak mengecewakan.

Peristiwa cukup menegangkan terjadi pada saat tanya jawab ketika hujan turun dengan lebatnya. Tepat di atas SBY dan Kojen beserta Ibu, air menetes karena tenda bocor. Kejadian ini tentu saja sangat menegangkan bagi Konjen secara umum karena bisa berarti sebuah indikator kegagalan. Untunglah PASPAMPRES dengan sigap memindahkan kursi agak ke belakang sehingga SBY, Konjen dan para istri tidak kena tetesan air. SBY pun menyikapi dengan tenang dengan berkelakar ”Ini hujan barokah” katanya. Kontan lelucon segar ini disambut sorai peserta. Orang-orang Konjen pun nampaknya boleh sedikit berlega hati.

Presiden mau pipis 🙂
Menunggu kedatangan presiden malam itu untuk konperensi pers memang cukup lama. Ketika datang dan mendekati ruang konperensi, tiba-tiba rombongan lengkap dengan Secret Secvice dan PASPAMPRES berbelok ke toilet. Oh, rupanya SBY mau pipis dulu sebelum konperensi. Namanya juga presiden, ke mana-mana harus diukuti oleh Secret Service :). Seorang Protokoler Konjen mengatakan bahwa tidak boleh menutup toilet hotel untuk kepentingan orang lain selama presiden ada di dalam karena toilet itu memang untuk publik. Maka harus disiasati untuk memberi kesan toilet penuh sehingga tidak ada orang yang boleh masuk. Wah susah juga, jadi presiden 😦


Menunggu SBY masih pipis 🙂

Masih nunggu Pak Ical ya?
Ketika presiden dan beberapa menteri sudah ada di ruangan, konperensi belum juga dimulai. Suasana masih informal, SBY bercakap-cakap santai dengan beberapa menteri dan Dubes termasuk melontarkan celetukan-celetukan kepada wartawan yang seringkali disambut tawa. ”Kalau ada kunjungan begini, yang menikmati keindahan negeri orang justru bukan presiden, tapi wartawan” kata SBY di sela obrolan informalnya.

Masih nunggu Pak Ical ya?” tiba-tiba SBY melontarkan pertanyaan setengah pernyataan yang membuat suasana agak diam. Memang malam itu Aburizal Bakrie selaku Menkoekuin adalah satu-satunya menteri yang belum datang. Kejadian ini memunculkan pertanyaan:

  1. Sedemikian baiknya kah SBY sehingga terbiasa mentoleransi bawahannya yang terlambat?
  2. Sehebat apa Ical sehingga berani telat di acara konperensi pers di negara orang?
  3. Tidakkah ini pertanda kelemahan SBY yang tidak tegas sehingga dilecehkan bawahannya?

Entahlah, ini yang jelas adalah manifestasi dari sebuah pemerintahan kompromi.

President’s Joke
Ketika menunggu pesiapan konperensi pers dengan wartawan Indonesia, SBY sempat melontarkan lelucon yang cukup baik. Sebenarnya lelucon itu sudah cukup populer di masyarakat terutama melalui dunia maya, namun ketika disampaikan kembali oleh seorang presiden menjadi lain kesannya.

Lelucon ini adalah tentang kisah guru, Pardede, di Manado yang mengajukan pertanyaan sejarah kepada serang muridnya, Ucok. Cerita yang disampaikan lengkap dengan logat Manado yang cukup fasih, membuat cerita menjadi hidup dan natural. SBY layaknya seorang pelawak kawakan membuat wartawan dan hadirin, termasuk menteri tergelak tak tertahankan. Bagi Anda yang belum pernah tahu ceritanya, berikut adalah ringkasannya:


PASPAMPRES gadungan


Pardede : Ucok, siapa penulis naskah proklamasi?
Ucok : Bukan saya Bu.
Pardede : Bukan begitu maksud aku, ini pertanyaan sejarah, tahu nggak kamu, siapa penulis naskah proklamasi? Kau harus bisa menjawab pertanyaan semacam ini.
Ucok : (terdiam sesaat) Sungguh Bu Guru, bukan saya! Sumpah!

Karena merasa sedikit kesal sekaligus prihatin dengan kemampuan Ucok dalam sejarah, Pardede merasa perlu untuk memanggil orang tua si Ucok, Simanjuntak.

Pardede : Begini Pak Simanjuntak, saya mencoba mengajukan pertanyaan sejarah kepada Ucok, tetapi dia tidak bisa menjawab dengan benar. Ketika saya tanya siapa penulis naskah proklamasi, masak dia bilang bukan dia yang menulis. Itu kan jawaban yang salah.
Simanjuntak : Oh begitu ya Bu. Baiklah nanti di rumah saya akan gembleng dia agar bisa memberi jawaban yang benar.

Sesampai di rumah, Simanjuntak langsung menemuai anaknya dan mengulang pertanyaan gurunya

Simanuntak : Ucok, tadi katanya ibu guru bertanya siapa penulis naskah proklamasi dan kau tidak bisa menjawab.
Ucok : (dengan sedikit teriak) bukan saya Amang!
Simanjuntak : Lha itu bukan jawaban yang benar Ucok. Jawablah dengan benar, siapa penulis naskah proklamasi?
Ucok : Sumpah Amang, bukan saya!
Simanjuntak : Ucok, jangan bikin malu amangmu ini, MENGAKU SAJALAH KAU!
Ucok : Sungguh Amang, bukan saya!

Simanjuntak rupanya hilang kesabaran dan akhirnya menempeleng habis anak kesayangannya. Namun Ucok tetap bersikeras bilang bahwa bukan dia yang membuat.

Simanjuntak : Wah, rupanya memang bukan kau yang bikin. Aku harus sampaikan kepada Ibu Guru Pardede ini.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Simanjuntak sudah ada di sekolah dan menghadap ibu Pardede

Simanjuntak : Bu Pardede, saya sudah tanyakan kepada Ucok bahkan saya tampar dia berkali-kali. Dia tetap tidak mau mengaku. Saya yakin bahwa memang bukan dia yang bikin itu proklamasi. Coba ibu tanya saja pada teman-temannya yang lain!
Pardede : $##Q$#O%_$#%)_##%#$#%(#%+@#%(

Andi Malaranggeng, artis!
Seperti bisa diduga, Andi Malaranggeng, juru bicara presiden adalah salah seorang delegasi yang digandrungi masyarakat. Senyumnya yang manis dan kumisnya yang ’menggoda’ membuat ibu-ibu (bahkan ada juga bapak-bapak) histeris dan ngebet berfoto dengan Andi.
Gaya komunikasinya yang santai dan ramah membuat dia dekat dengan siapa saja. Wartawan pun terlihat mendengarkan briefing dia dengan seksama dan menjalankan dengan baik. ”Gimana bos?” itulah kata-kata yang hampir selalu dia ucapkan kepada siapa saja yang dijumpai seraya bersalaman. ”Gimana bos?


Andi Malaranggeng membriefing wartawan

Yusril yang kecut
Berbeda jauh dengan Andi Malaranggeng, Yusril nampak selalu muram dan cemberut sepanjang kunjungan. Kesan pertama ketika memasuki hotel sudah menunjukkan bahwa dia bukan orang yang ramah. Tidak jelas apa masalah yang dihadapinya, dia terlihat selalu tidak puas dan tidak bahagia. Seorang Protokol Konjen bahkan mengatakan ”Yusril memang cemberut kalau sedang senang, dan sebaiknya ceria kalau sedang kesal” disambut gelak tawa semua yang mendengarkan.


Yusril. Tampangnya begini terus sepanjang kunjungan

Sebenarnya masih banyak cerita yang off the record. Kalau ada waktu akan dibuat seri berikutnya! “Gimana Bos?

Disclaimer
Foto-foto dalam tulisan ini adalah ilustrasi semata, hasil jepretan Pak Imam Dewanto dan tidak ada kaitannya dengan berita ini.