Kunjungan SBY ke Sydney

[Cerita di balik layar]

Jika Anda hendak mencari informasi formal detail tentang kunjungan SBY ke Sydney beberapa waktu lalu, Anda salah tempat kalau membaca tulisan ini. Sebaiknya kunjungi saja kompas, detik, SMH atau sejenisnya, tentu lebih detail dan akurat. Tulisan ini, hanya memotret kejadian-kejadian kecil yang tidak secara utuh (apalagi) formal merefleksikan kunjungan SBY ke Sydney.

Anak-anak jumpa Presiden
Sekitar jam setengah 6 sore tanggal 4 April 2005, rombongan memasuki hotel Shangri-La di kawasan The Rock. Sekumpulan anak-anak sudah siap dengan pakaian daerah seluruh Indonesia untuk menyambut presiden. Tepat ketika SBY dan Ibu akan memasuki hotel, anak-anak mulai melantunkan lagu Dari Sabang sampai Merauke yang dibawakan dengan cukup meyakinkan. Melihat anak-anak dengan ceria menyanyikan lagu kebangsaan, SBY berhenti dan ikut bertepuk tangan, tepat di depan anak-anak. Kilatan flash kamera tidak berhenti, mencoba mengabadikan momen tersebut. SBY pun ikun bernyanyi, menimbulkan suasana yang hangat dan akrab.


SBY disambut anak-anak Indonesia di Sydney

Terima Kasih ya anak-anak ya!” SBY menyampaikan penghargaannya kepada anak-anak. “Sekolahnya di mana?”, begitu dia bertanya kepada seorang anak yang dijawab dengan senyum tak berdosa, tanpa kata. Bukan, bukan karena anak-anak ini tidak sopan tapi most likely karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia! Separah itukah? Ya begitulah kelihatannya. Anak-anak Indonesia di Sydney umumnya mengerti bahasa Indonesia, tapi tidak fasih mengucapkannya. Masih untung tidak dijawab ”at Kensington Public School, Mr. President”.

Anyway, SBY nampaknya cukup puas dengan sambutan yang hangat tersebut dan akhirnya naik ke kamar setelah mendengarkan lagu kedua. Nampak para orang tua tersenyum agak lega ketika presiden sudah berlalu dari anak-anak, pasalnya, seperti yang diungkapkan seorang ayah, mereka takut kalau-kalau presiden bertanya lebih lanjut dan anak-anak tidak menjawab, sekali lagi karena alsan yang sama.

Sebenarnya melihat anak-anak bisa bernyanyi seperti itu adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi para orang tua di Sydney. Pasalnya, memang sangat sulit mengajari mereka bernyanyi lagu wajib. Bisa dibayangkan, anak-anak yang lahir besar di Sydney dan tidak bisa berbahasa Indonesia dengan aktif akan susah mendendangkan Halo-halo Bandung atau Nyanyian Pulau Kelapa. Ketika diberikan teks lagi Halo-halo Bandung, seorang anak bahkan tidak bisa membaca sesuai dengan lafal yang sesungguhnya. “Hello Hello Bendang” begitu mereka mengucapkan Halo-halo Bandung. Tentunya sangat lucu kalau sampai dinyanyikan di depan SBY.

Temu Masyarakat: Tenda Bocor
Sekitar jam 8 malam, dilakukan acara makan malam dan temu masyarakat di Wisma Indonesia, tempat kediaman Konsulat Jenderal Indonesia untuk Sydney. Secara umum, SBY tampil sangat mempesona, menjelaskan hampir semua persoalan dengan gamblang, menjawab semua pertanyaan dengan sabar dan mendengarkan saran dengan seksama. Seorang Sopir Konjen bahkan berkata “Memang pinter presiden kita ini menjelaskan kepada masyarakat”. Jika seorang sopir saja dengan mudah bisa memahami penjelasannya, tentunya SBY bisa dikatakan memiliki kemampuan komunikasi yang tidak mengecewakan.

Peristiwa cukup menegangkan terjadi pada saat tanya jawab ketika hujan turun dengan lebatnya. Tepat di atas SBY dan Kojen beserta Ibu, air menetes karena tenda bocor. Kejadian ini tentu saja sangat menegangkan bagi Konjen secara umum karena bisa berarti sebuah indikator kegagalan. Untunglah PASPAMPRES dengan sigap memindahkan kursi agak ke belakang sehingga SBY, Konjen dan para istri tidak kena tetesan air. SBY pun menyikapi dengan tenang dengan berkelakar ”Ini hujan barokah” katanya. Kontan lelucon segar ini disambut sorai peserta. Orang-orang Konjen pun nampaknya boleh sedikit berlega hati.

Presiden mau pipis 🙂
Menunggu kedatangan presiden malam itu untuk konperensi pers memang cukup lama. Ketika datang dan mendekati ruang konperensi, tiba-tiba rombongan lengkap dengan Secret Secvice dan PASPAMPRES berbelok ke toilet. Oh, rupanya SBY mau pipis dulu sebelum konperensi. Namanya juga presiden, ke mana-mana harus diukuti oleh Secret Service :). Seorang Protokoler Konjen mengatakan bahwa tidak boleh menutup toilet hotel untuk kepentingan orang lain selama presiden ada di dalam karena toilet itu memang untuk publik. Maka harus disiasati untuk memberi kesan toilet penuh sehingga tidak ada orang yang boleh masuk. Wah susah juga, jadi presiden 😦


Menunggu SBY masih pipis 🙂

Masih nunggu Pak Ical ya?
Ketika presiden dan beberapa menteri sudah ada di ruangan, konperensi belum juga dimulai. Suasana masih informal, SBY bercakap-cakap santai dengan beberapa menteri dan Dubes termasuk melontarkan celetukan-celetukan kepada wartawan yang seringkali disambut tawa. ”Kalau ada kunjungan begini, yang menikmati keindahan negeri orang justru bukan presiden, tapi wartawan” kata SBY di sela obrolan informalnya.

Masih nunggu Pak Ical ya?” tiba-tiba SBY melontarkan pertanyaan setengah pernyataan yang membuat suasana agak diam. Memang malam itu Aburizal Bakrie selaku Menkoekuin adalah satu-satunya menteri yang belum datang. Kejadian ini memunculkan pertanyaan:

  1. Sedemikian baiknya kah SBY sehingga terbiasa mentoleransi bawahannya yang terlambat?
  2. Sehebat apa Ical sehingga berani telat di acara konperensi pers di negara orang?
  3. Tidakkah ini pertanda kelemahan SBY yang tidak tegas sehingga dilecehkan bawahannya?

Entahlah, ini yang jelas adalah manifestasi dari sebuah pemerintahan kompromi.

President’s Joke
Ketika menunggu pesiapan konperensi pers dengan wartawan Indonesia, SBY sempat melontarkan lelucon yang cukup baik. Sebenarnya lelucon itu sudah cukup populer di masyarakat terutama melalui dunia maya, namun ketika disampaikan kembali oleh seorang presiden menjadi lain kesannya.

Lelucon ini adalah tentang kisah guru, Pardede, di Manado yang mengajukan pertanyaan sejarah kepada serang muridnya, Ucok. Cerita yang disampaikan lengkap dengan logat Manado yang cukup fasih, membuat cerita menjadi hidup dan natural. SBY layaknya seorang pelawak kawakan membuat wartawan dan hadirin, termasuk menteri tergelak tak tertahankan. Bagi Anda yang belum pernah tahu ceritanya, berikut adalah ringkasannya:


PASPAMPRES gadungan


Pardede : Ucok, siapa penulis naskah proklamasi?
Ucok : Bukan saya Bu.
Pardede : Bukan begitu maksud aku, ini pertanyaan sejarah, tahu nggak kamu, siapa penulis naskah proklamasi? Kau harus bisa menjawab pertanyaan semacam ini.
Ucok : (terdiam sesaat) Sungguh Bu Guru, bukan saya! Sumpah!

Karena merasa sedikit kesal sekaligus prihatin dengan kemampuan Ucok dalam sejarah, Pardede merasa perlu untuk memanggil orang tua si Ucok, Simanjuntak.

Pardede : Begini Pak Simanjuntak, saya mencoba mengajukan pertanyaan sejarah kepada Ucok, tetapi dia tidak bisa menjawab dengan benar. Ketika saya tanya siapa penulis naskah proklamasi, masak dia bilang bukan dia yang menulis. Itu kan jawaban yang salah.
Simanjuntak : Oh begitu ya Bu. Baiklah nanti di rumah saya akan gembleng dia agar bisa memberi jawaban yang benar.

Sesampai di rumah, Simanjuntak langsung menemuai anaknya dan mengulang pertanyaan gurunya

Simanuntak : Ucok, tadi katanya ibu guru bertanya siapa penulis naskah proklamasi dan kau tidak bisa menjawab.
Ucok : (dengan sedikit teriak) bukan saya Amang!
Simanjuntak : Lha itu bukan jawaban yang benar Ucok. Jawablah dengan benar, siapa penulis naskah proklamasi?
Ucok : Sumpah Amang, bukan saya!
Simanjuntak : Ucok, jangan bikin malu amangmu ini, MENGAKU SAJALAH KAU!
Ucok : Sungguh Amang, bukan saya!

Simanjuntak rupanya hilang kesabaran dan akhirnya menempeleng habis anak kesayangannya. Namun Ucok tetap bersikeras bilang bahwa bukan dia yang membuat.

Simanjuntak : Wah, rupanya memang bukan kau yang bikin. Aku harus sampaikan kepada Ibu Guru Pardede ini.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Simanjuntak sudah ada di sekolah dan menghadap ibu Pardede

Simanjuntak : Bu Pardede, saya sudah tanyakan kepada Ucok bahkan saya tampar dia berkali-kali. Dia tetap tidak mau mengaku. Saya yakin bahwa memang bukan dia yang bikin itu proklamasi. Coba ibu tanya saja pada teman-temannya yang lain!
Pardede : $##Q$#O%_$#%)_##%#$#%(#%+@#%(

Andi Malaranggeng, artis!
Seperti bisa diduga, Andi Malaranggeng, juru bicara presiden adalah salah seorang delegasi yang digandrungi masyarakat. Senyumnya yang manis dan kumisnya yang ’menggoda’ membuat ibu-ibu (bahkan ada juga bapak-bapak) histeris dan ngebet berfoto dengan Andi.
Gaya komunikasinya yang santai dan ramah membuat dia dekat dengan siapa saja. Wartawan pun terlihat mendengarkan briefing dia dengan seksama dan menjalankan dengan baik. ”Gimana bos?” itulah kata-kata yang hampir selalu dia ucapkan kepada siapa saja yang dijumpai seraya bersalaman. ”Gimana bos?


Andi Malaranggeng membriefing wartawan

Yusril yang kecut
Berbeda jauh dengan Andi Malaranggeng, Yusril nampak selalu muram dan cemberut sepanjang kunjungan. Kesan pertama ketika memasuki hotel sudah menunjukkan bahwa dia bukan orang yang ramah. Tidak jelas apa masalah yang dihadapinya, dia terlihat selalu tidak puas dan tidak bahagia. Seorang Protokol Konjen bahkan mengatakan ”Yusril memang cemberut kalau sedang senang, dan sebaiknya ceria kalau sedang kesal” disambut gelak tawa semua yang mendengarkan.


Yusril. Tampangnya begini terus sepanjang kunjungan

Sebenarnya masih banyak cerita yang off the record. Kalau ada waktu akan dibuat seri berikutnya! “Gimana Bos?

Disclaimer
Foto-foto dalam tulisan ini adalah ilustrasi semata, hasil jepretan Pak Imam Dewanto dan tidak ada kaitannya dengan berita ini.

Gmail, Sang Fenomenal dari Google!

Lagi-lagi google!
Berita tentang google yang mengeluarkan gmail berkapasitas 1 GB pasti bukan berita baru lagi. Sudah sangat banyak orang yang menggunakan gmail saat ini. Di samping memang kapasitasnya yang luar biasa besar, gmail dilengkapi dengan fasilitas searching yang tentunya sudah tidak diragukan lagi kecepatan dan akurasinya. Siapa dulu, google!

Mulai minggu lalu, gmail memberi kejutan lagi. Di ulang tahunnya yang pertama, gmail memberi kuota sebesar 2 GB plus. Istilah “plus” digunakan karena sampai tulisan itu diturunkan, kapasitas gmail masih terus bertambah (seperti counter yang tidak berhenti:).

Oh ya, mungkin Anda juga sudah tahu bahwa tidak mungkin membuat account gmail sendiri dengan sign up seprti halnya free webmail lainnya. Anda hanya bisa membuat account gmail jika mendapat undangan dari pemakai sebelumnya. Sekarang ini, para pemakai gmail telah mendirikan suatu situs dimana para peminat gmail bisa mengundang dirinya sendiri. Silahkan kunjungi http://isnoop.net/gmail/ dan nikmati kecanggihan gmail. Selamat mencoba!

Kejutan apa lagi yang akan diberikan google di masa mendatang? Kita tunggu saja!

Selamat Jalan Sri Paus!

Salah satu umat manusia yang paling berpengaruh abad ini telah perpulang. Hidupnya yang dihabiskan untuk mengabdi pada kehidupan, telah dihentikan dari kewajiban. Kini Sri Paus menikmati ketenangan abadi, layaknya cinta yang ditebarkannya ke seluruh alam.
Selamat Jalan Sri Paus. Kepergian ini, kami yakini sebagai titik refleksi bagi segenap umat dan alam sejagat. Semoga sebagian besar darimu akan tetap hidup dan bersemi di sela kekalutan dan kegundahan negeri. Selamat jalan!


http://www.cbc.ca/news/background/pope/gfx/titlephoto.jpg

Surat untuk Kopral Jono

[saatnya bersahabat kembali]

Pak Kopral, hari ini seperti biasa saya menulis lagi. Kali ini saya menulis untukmu, Pak Kopral yang telah lama bahkan tidak pernah saya mimpikan, apalagi pedulikan.
Pak Kopral, sore kemaren saya melihatmu dari kejauhan mengangkat puing akibat bencana Nias. Lusuh berbaju loreng di bawah terik matahari mengais dan mencari-cari kepala, tangan, kaki dan jiwa yang barangkali bisa diselamatkan. Saya merasa harus berterima kasih.

Pak Kopral, saya sadar terlalu banyak meremehkan dan merendahkanmu selama ini. Terlebih bangsa ini yang secara sadar telah melucutimu di depan khalayak. Mungkin benar kiranya, ini buah dosamu di masa silam. Tapi saya seperti terpanggil untuk memaafkanmu. Di saat negeri ini panik tercerai-berai karena ancaman negara tetangga, tiba-tiba saya ingat kepadamu. Engkaulah barangkali yang kami andalkan menjaga pintu-pintu negeri ini agar tidak bobol oleh keserakahan negeri seberang, sekaligus tidak rapuh oleh air kencing kami yang sering kali tidak santun. Ketika perang di depan mata, kami ingin memintamu untuk menjadi tameng. Ketika ancaman sudah melingkupi seluruh negeri, tiada tempat mengadu yang tepat kecualimu.
Maafkan kami yang telah melucuti senjatamu, dan membuatmu terkebiri oleh jargon sipil yang mungkin terlalu. Sekali lagi, maaf. Aku sadar dan meyakini, ”maaf” ini tidak akan membuatmu tinggi hati dan merasa penting. ”Maaf” ini akan membuatmu menjadi sahabat seperti apa yang pernah kita cita-citakan dulu. Ketika musuh bersama sudah datang, adakah alasan untuk saling membenci?

turning messy into tidy!

Turning

into

can cost you Rp 365,000.00
Believe it or not!

Indonesia Masih Punya Kamu

[aku ingin sepertimu]

Ya, kamu yang masih menyempatkan membaca tulisan yang judulnya sedikit menyisakan nasionalisme, yang menurut seorang kawan, entah layak entah tidak untuk dibahas. Indonesia tidak harus terlalu bersedih karena masih ada kamu yang peduli dengan isu-isu membela Negara yang memang tidak lagi dilakukan dengan menghunus bambu runcing tapi menghunus pena dan berperang wacana. Indonesia tidak perlu bersedih.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang di sela-sela kesibukan sehari-hari masih sempat melirik seorang anak tak beruntung yang tidak bisa menikmati enaknya sesendok nasi hingga terik siang siang. Indonesia akan bangkit lagi karena masih ada kamu yang menyisihkan sebagian beasiswa yang pas-pasan untuk biaya sekolah anak-anak tak mujur di negeri ini.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang masih menyempatkan diri berbicara berapi-api tentang keterbelakangan negeri ini seraya mengajak satu-dua sahabat untuk berbuat sesuatu. Indonesia masih punya kamu yang masih sempat menangis terisak menyaksikan penderitaan TKW kita di Malaysia yang terhempas tak berharga seraya menulis sebuah surat pembaca di harian nasional.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang masih rajin mengirimkan email berantai mengajak reman-teman untuk menjadi orang tua asuh bagi satu-dua anak negeri yang tergeletak tak berdaya karena tertindas jaman. Indonesia masih punya kamu yang masih peduli walaupun tidak dengan bertumpuk uang dan segepok kekuasaan.

Indonesia masih punya kamu.
Ya, kamu yang dengan tulus menjaga anak dan membesarkannya dengan kasih sayang yang tidak memanjakan. Indonesia masih punya kamu yang mengajarkan pada generasi bangsa ini bahwa di negeri ini ada banyak agama dan kepercayaan yang sama baiknya sehingga mereka belajar menghargai sejak dini. Syukurlah Indonesia masih punya kamu.

Aku ingin sekali sepeti kamu.
Ya, kamu yang tidak sepertiku, hanya bisa menghujat pemerintah karena korupsi sekaligus tanpa kusadari akupun telah korupsi kecil-kecilan ketika me-mark-up biaya operasional saat menjadi koordinator acara manggang ikan. Aku sadar, mengeluh saja tidak cukup. Aku ingin seperti kamu.

Aku ingin seperti kamu.
Ya, kamu yang tidak seperti diriku, telah luntur binasa kecintaannya pada pertiwi hanya gara-gara kenikmatan duniawi di negeri orang yang sempat kurasakan sejenak. Aku ingin seperti kamu yang dengan bijak menikmati kelebihan negeri orang tanpa menjadi benci pada Indonesia.

Aku ingin meniru kamu.
Ya, kamu yang tidak sepertiku, berlari dari kenyataan dan malu mengakui Indonesia sebagai bangsa sendiri dan kabur ke Negara tetangga untuk menjual ilmu yang tanpa aku sadari, kuperoleh dengan kebaikan hati Indonesia. Jangankan untuk kembali ke pangkuan pertiwi, menolehpun aku tak sudi. Aku kini sadar, aku ingin sepertimu.

Selamat Galungan dan Kuningan

[memperjuangkan kemenangan dharma]

Merayakan Galungan dan Kuningan di negeri orang tentu saja jauh berbeda dengan Galungan di Bali. Galungan di sini tidak terasa, bisa dikatakan. Jangankan untuk pergi ke pura dan menikmati suasana hari raya dengan sepuasnya, libur saja tidak ada. Yang lebih parah lagi, tidak banyak orang yang tahu, apalagi peduli. Lucu memang. Tapi inilah kenyataannya. Galungan kali ini harus diperjuangkan dengan lebih keras agar terlewatkan dengan suasana hati yang tetap meriah. Kemenangan dharma atas adharma sebagai esensi dari Galungan benar-benar harus diusahakan dalam kesepian jauh dari keluarga besar.

Berbagai ujian datang, banyak godaan untuk memenangkan adharma berkunjung silih berganti. Kadang luput, sering juga kecolongan. Inilah kenyataan hidup yang tak pernah seindah cerita. Bisa memaknai dan menarik pelajaran barangkali adalah satu hal positif yang bisa dilakukan.

Oh ya, Galungan kali ini terasa istimewa karena tidak lagi dirayakan berdua melainkan [hampir] bertiga :-).


Satu pelajaran penting, kebenaran memang seharusnya menang, namun bukan kemenangan yang jatuh dari langit. Dalam dunia dimana kebenaran dan kejahatan bukan lagi dua kutub yang berjauhan, jangankan untuk memenangkannya, untuk membedakannya saja bukanlah pekerjaan mudah. Kemenangan sebuah kebenaran harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh!

Selamat Galungan dan Kuningan!

Ada Apa dengan Ambalat?

[sebuah pandangan]

I Made Andi Arsana 1

Pengantar
Keputusan Malaysia untuk memberikan konsesi penambangan dan pengelolaan miyak di kawasan Ambalat kepada Royal Dutch Shell dan perusahaan lain pada bulan Februari 2005 telah mengundang reaksi yang cukup keras dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Keputusan ini mengindikasikan bahwa Malaysia yakin Ambalat berada di dalam teritori mereka. Sementara itu, Indonesia sendiri yakin bahwa Ambalat adalah bagian dari Indonesia. Hal ini didukung oleh fakta historis bahwa Ambalat dulunya adalah bagian dari Kesultanan Bulungan yang akhirnya menjadi bagian Indonesia sejak kemerdekaan. Argumentasi semacam ini dikenal sebagai argument rantai kepemilikan atau chain of title.

Reaksi keras dari pemerintah dan masyarakat bisa dipahami karena belum lagi sembuh luka bangsa Indonesia dengan terlepasnya dua pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia, kini Malaysia mencoba ‘merebut’ wilayah lain yang diyakini sebagai wilayah Indonesia. Meskipun secara historis kedua pulau tersebut juga bagian dari Kesultanan Bulungan, toh akhirnya International Court of Justice (ICJ) memenangkan Malaysia. Keputusan ini, salah satunya, karena Pemerintah Indonesia terbukti gagal memberi perhatian kepada pengelolaan lingkungan kedua pulau tersebut (www.media-indonesia.com, 4 Maret 2005). Akankah si kaya minyak Ambalat bernasib sama dengan kedua kakaknya, Sipadan dan Ligitan? Nampaknya Pemerintah Indonesia perlu berjuang ekstra keras dan luar biasa hati-hati dalam menghadapi persoalan ini.

Perbatasan Indonesia-Malaysia dan Konvensi 1891
Untuk menyelesaikan persoalan klaim yang tumpang tindih ini, harus dilihat kembali rangkaian proses negosiasi antara kedua negara berkaitan dengan penyelesaian perbatasan di Pulau Kalimantan yang sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 1974 (menurut Departeman Luar Negeri). Diketahui secara luas bahwa Perbatasan Indonesia-Malaysia di Laut Sulawesi, di mana Ambalat berada, memang belum terselesaikan secara tuntas. Ketidaktuntasan ini sesungguhnya sudah berbuah kekalahan ketika Sipadan dan Ligitan dipersoalkan dan akhirnya dimenangkan oleh Malaysia.
Jika memang belum pernah dicapai kesepakatan yang secara eksplisit berkaitan dengan Ambalat maka perlu dirujuk kembali Konvensi Batas Negara tahun 1891 yang ditandatangani oleh Belanda dan Inggris sebagai penguasa di daerah tersebut di masa kolinialisasi. Konvensi ini tentu saja menjadi salah satu acuan utama dalam penentuan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan. Perlu diteliti apakah Konvensi tersebut secara eksplisit memuat/mengatur kepemilikan Ambalat. Hal ini sama halnya dengan penggunaan Traktat 1904 dalam penegasan perbatasan RI dengan Timor Leste.

Pengakuan Peta Laut
Di berbagai media diberitakan bahwa Malaysia mengklaim Ambalat menggunakan peta (laut) yang diproduksi tahun 1979. Menutur Prescott (2004), peta tersebut memuat Batas Continental Shelf di mana klaim tersebut secara kesuluruhan melewati median line. Deviasi maksimum pada dua sekor sekitar 5 mil laut. Nampaknya dalam membuat klaim dasar laut ini Malaysia telah mengabaikan beberapa titik garis pangkal Indonesia yang sudah sah.

Di luar pandangan tersebut di atas, perlu ditinjau secara detail bagaimana sesungguhnya sebuat peta laut bisa diakui dan sah untuk dijadikan dasar dalam mengklaim suatu wilayah. Tentang hal ini, Clive Schofield, mantan direktur International Boundary Research Unit (IBRU) berpendapat bahwa “peta laut tertentu harus dilaporkan dan diserahkan ke PBB, misalnya peta laut yang memuat jenis garis pangkal dan batas laut. Namun begitu suatu Negara yang megeluarkan peta laut tentu saja tidak bisa memaksa Negara lain kecuali memang disetujui.”
Intinya, penggunaan peta laut tahun 1979 oleh Malaysia harus didasarkan pada kaidah ilmiah dan hukum yang bisa diterima. Jika peta laut ini hanya memenuhi kepentingan dan keyakijan sepihak saja tanpa memperhatikan kedaulatan Negara tetangga, jelas hal ini tidak bisa dibenarkan.

Penyelesaian Konflik
Sayang sekali, sebagai salah satu sumber hukum yang bisa diacu, Konvensi 1891, nampaknya tidak akan membantu banyak dalam penyelesaian kasus ini. Seperti halnya Sipadan dan Ligitan, Konvensi ini kemungkinan besar tidak akan mengatur secara tegas kepemilikan Ambalat. Hal ini terjadi karena Konvensi 1891 hanya menyebutkan bahwa Inggris dan Belanda sepakat mengakui garis batas yang berlokasi di garis lintang 4° 10’ ke arah timur memotong Pulau Sebatik tanpa lebih rinci menyebutkan kelanjutannya. Tentu saja ini meragukan karena Ambalat, seperti juga Sipadan dan Ligitan berada di sebelah timur titik akhir garis yang dimaksud. Jika garis tersebut, sederhananya, diperpanjang lurus ke timur, memang Ambalat, termasuk juga Sipadan dan Ligitan akan berada di pihak Indonesia. Namun demikian, menarik garis batas dengan cara ini, tanpa dasar hukum, tentu saja tidak bisa diterima begitu saja.

Melihat kondisi di atas, diplomasi bilateral memang nampaknya jalan yang paling mungkin. Meskipun mengajukan kasus ini ke badan internasional seperti ICJ, adalah juga alternatif yang baik, langkah ini tidak dikomendasikan. Mengacu pada gagasan Prescott, ada tiga hal yang melandasi pandangan ini. Pertama, kasus-kasus semacam ini biasanya berlangsung lama (bisa 4-5 tahun). Artinya, ini akan menyita biaya yang sangat besar, sementara negosiasi antarnegara mungkin akan lebih produktif. Hasan Wirajuda mengakui, total biaya yang dihabiskan untuk menyelesaikan Sipadan dan Ligitan mencapai Rp 16 Milyar (Tempo, 23 Desember 2002). Kedua, pengadilan kadang-kadang memberikan hasil yang mengejutkan. Keputusan the Gulf of Fonseca adalah contoh yang nyata. Pertama, pengadilan memutuskan bahwa historical bays bisa dibagi oleh dua atau lebih negara. Kedua, pengadilan mengijinkan, Honduras, yang jelas-jelas terisolasi dalam Gulf oleh El Salvador dan Nicaragua, untuk mengklaim laut dan dasar laut di samudera Pasifik. Ketiga, kadang-kadang argumen pengadialan dalam membuat keputusan terkesan kabur sehingga sulit dimengerti.

Langkah Selanjutnya
Ada beberapa pelajaran penting yang semestinya diambil oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi persoalan ini. Kejadian ini nampaknya semakin mempertegas pentingnya penetapan batas Negara, dalam hal ini batas laut, tidak saja dengan Malaysia tetapi dengan seluruh Negara tetangga. Saat ini tercatat bahwa Indonesia memiliki batas laut yang belum tuntas dengan Malaysia, Filipina, Palau, India, Thailand, Timor Timur, Sigapura, Papua New Guinea, Australia, dan Vietnam. Bisa dipahami bahwa Indonesia saat ini menghadapi banyak persoalan berat, termasuk bencana alam yang menyita perhatian besar. Saat inilah kemampuan pemerintah benar-benar diuji untuk dapat tetap memberi perhatian kepada persoalan penting seperti ini di tengah goncangan bencana.

Hal penting lain yang mendesak adalah melakukan inventarisasi pulau-pulau kecil di seluruh wilayah Indonesia termasuk melakukan pemberian nama (tiponim). Sesungguhnya hal ini sudah menjadi program pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan sejak cukup lama, namun kiranya perlu diberikan energi yang lebih besar sehingga bisa dituntaskan secepatnya. Jika ini tidak dilakukan, Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau akan kehilangan satu per satu pulaunya karena diklaim oleh bangsa lain tanpa bisa berbuat banyak.

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa dasar sejarah saja tidak bisa dijadikan pegangan dalam menelusuri kepemilikan sebuah wilayah. Lepasnya Sipadan dan Ligitan adalah salah satu bukti nyata untuk hal ini. Diperlukan adanya bukti hukum yang menunjukkan bahwa Indonesia telah melakukan upaya sistematis untuk memelihara secara administrai daerah yang dipersoalkan. Hal ini, salah satunya, dilakukan dengan menarik pajak bagi penduduk setempat, dan mengeluarkan peraturan-peraturan lokal yang berkaitan dengan wilayah sengketa. Didirikannya resor-resor wisata oleh Malaysia di Sipadan dan Ligitan adalah salah satu kekuatan yang akhirnya mengantarkan Malaysia pada suatu kemenangan, disamping isu pengelolaan lingkungan.

Penutup
Apapun cara yang ditempuh, kedua belah pihak wajib saling menghormati dengan menempuh cara-cara damai dalam menyelesaikan konflik. Pemahaman yang baik dari segi ilmiah, teknis dan hukum yang baik oleh kedua pihak diharapkan akan mengurangi langkah-langkah provokatif yang tidak perlu. Pemahan seperti ini tentu saja tidak cukup bagi pemerintah saja, melainkan juga masyarakat luas untuk bisa memahami dan mendukung terwujudkannya penyelesaian yang adil dan terhormat.

Footnotes
1Peneliti di Pusat Penelitian Batas Wilayah UGM-Bakosurtanal, sedang menyelesaikan studi di UNSW, Sydney, Australia

Garis Hidup Menurut Gede Prama

[antara percaya dan tidak]

Entah tulisan lama atau baru, belakangan ini muncul di beberapa milis tulisan Gede Prama tentang sesuatu yang, seperti biasa, menarik: Garis hidup berdasarkan angka. Yang lebih menarik lagi sebenarnya adalah cara Gede Prama memaparkan gagasan yang sedikit mistis ini tanpa merujuk pada salah satu sumberpun. Berbeda dengan tulisan lain, Gede Prama kali ini tidak menyebut satupun tulisan atau gagasan yang menjadi sumber tulisannya. Naluri saya mengatakan, gagasan seperti ini tidaklah secara murni diciptakan Gede Prama mengingat beliau bukanlah seorang astrolog atau dukun atau ahli Feng Sui. Saya hampir yakin, tulisan ini adalah sebuah tulisan yang ‘diturunkan’ dari sebuah pandangan lain yang kebetulan juga disetujui oleh Gede Prama.

Di luar semua itu, saya secara pribadi merasa tulisan ini mengandung kebenaran yang sangat tinggi. Berikut saya kutipkan penggalan tulisan Gede Prama yang kebetulan sangan mirip dengan seorang kawan yang memiliki Garis Hidup 6.


Garis Hidup 6
Sangat berbeda dengan nomer 5, karakter garis hidup 6 yang paling
menonjol adalah rasa tanggung jawab yang besar. Anda idealis, dan bahagia jika
berguna bagi orang lain. Sumbangan terbesar yang Anda berikan dalam
kehidupan ini adalah memberikan advis, pelayanan dan dukungan.

Garis hidup ini temanya adalah kepemimpinan karena kemampuannya dalam
memberi teladan dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Hal ini
menjadikan Anda selalu bersedia menanggung beban kelompok dan siap untuk menolong.

Anda seringkali terdorong untuk bertindak dengan kekuatan dan belas
kasihan. Anda simpatik, dan senang berbagi dengan orang lain, baik membantu
dalam hal mental maupun materi. Kebijaksanaan, keseimbangan, dan pengertian
adalah beberapa karakter Anda. Kemampuan Anda memahami masalah orang lain, dan
ini sudah menjadi karakter Anda sejak kecil, sehingga tidak ada masalah
dalam berhubungan dengan orang tua maupun muda. Anda bersedia untuk
mengeluarkan tenaga lebih dari yang diminta, dan selalu bisa diandalkan oleh
keluarga.

Realistis memandang hidup, bagi Anda yang terpenting dalam hidup adalah
rumah, keluarga dan teman-teman. Tentu ada sisi negatif pada tiap orang,
bagi garis hidup 6 ini, Anda harus menghindari kecenderungan terlalu
banyak menerima tanggung jawab dan diperbudak oleh orang lain. Selain itu,
hindari terlalu banyak mengkritik diri sendiri maupun kepada orang lain). Jika
karakter buruknya terpupuk, maka ada kecenderungan untuk berlebih-lebihan,
dan merasa paling benar sendiri, walaupun tidak selalu berkembang
seperti ini. Juga harus dihindari, memaksakan pendapat sendiri dan mengurusi
masalah orang lain.

Karena selalu merasa harus bertanggung jawab, maka beban yang dibawanya
akan terasa sangat berat, walaupun begitu, jika sekali-sekali Anda terpaksa
tidak merasa bertanggung jawab, Anda akan sangat merasa bersalah dan akan
memberi dampak yang merusak bagi hubungan dengan orang lain.

You’re Under Arrest!

[pelecehan maya]

Satu lagi bukti kehandalan security UNSW.
Beberapa hari yang lalu ada seseorang berkunjung ke website saya (http://madeandi.staff.ugm.ac.id) dan menulis pesan di “shout box” yang menurut saya kurang sopan. Ketidaksopanan pesan itu saya identifikasi dengan beberapa hal:

1. Tidak menyebutkan identitas asli
2. Mengganti identitas dengan sesuatu yang tidak sopan/layak
3. Menggunakan kata sapaan yang tidak semestinya

Sesungguhnya isi pesan itu benar adanya dan saya sangat hargai kritik dan koreksi yang disampaikan. Hanya saja, menurut saya pesan sebaik itu semestinya bisa disampaikan dengan cara yang lebih santun, etis dan intelek. Mengingat website itu adalah situs resmi (UGM), ketidaksopanan itu saya anggap sangat serius. Saya merasa berhak untuk mengusut siapa yang telah menulis pesan tidak sopan tersebut.
Dengan bantuan Pak Google saya berhasil melacak IP# si penulis dan ternyata pesan itu ditulis dari sebuah komputer dalam jaringan UNSW. Saya pun tidak tanggung-tanggung melaporkan itu kepada abuse@unsw.edu.au karena saya meyakini UNSW pasti memiliki log yang sangat detail untuk setiap aktivitas di jaringannya. Setelah melakukan komunikasi untuk verifikasi beberapa hal, dipastikanlah bahwa pesan itu berasal dari sebuah komputer di Fakultas X di UNSW. Saya pun tidak berhenti sampai di sana, dengan referensi orang IT UNSW, saya menghubungi orang IT fakultas X dan meminta agar investigasi dilanjutkan. Beberapa saat kemudian saya mendapat hasil resmi bahwa komputer yang sedang diselidiki adalah inventaris dari sebuah school Y dalam fakultas X.

Investasi melibatkan orang IT dihentikan sejenak dan saya melakukan investigasi sendiri. Data dan asumsi yang saya gunakan adalah:

  1. Meskipun bisa saja orang menemukan website saya melalui search engine, saya berasumsi belum ada orang yang ‘iseng’ mencari saya di dunia maya. Saya berasumsi orang yang menulis pesan tersebut mengetahui alamat website saya dari signature email yang saya kirim. Artinya orang ini pernah menerima/membaca email saya.
  2. Dengan mempercayai hasil investigasi orang IT UNSW, saya berkesimpulan bahwa si penulis adalah orang Indonesia yang merupakan mahasiswa postgraduate di school Y, fakultas X.
  3. Ada dua kemungkinan, AusAID atau bukan AusAID.
  4. Kembali ke poin 1, saya menduga bahwa orang ini adalah salah satu AusAIDers mengingat pernah menerima/membaca email saya. Saya meyakini email yang dimaksud adalah email di milis ausaid-indo-unsw@yahoogroups.com mengingat saya tidak pernah (setidaknya selama dua bulan terakhir) mengirim email ke mahasiswa UNSW Indonesia non-AusAID.
  5. Poin 4 diperkuat dengan melihat waktu posting pesan yang terjadi beberapa saat setelah saya mengirimkan sebuah email ke milis tersebut di atas. Asumsinya, orang tersebut membaca email saya dan selanjutnya mengujungi website dengan mengklik alamat situs yang ada di signature.
  6. Dengan data dan asumsi di atas, saya akhirnya mencurigai (sekali lagi, mencurigi, bukan menuduh) seseorang. Di tangan saya kini sudah ada identitas orang yang saya maksud. Kesimpulan ini didukung oleh kenyataan (setahu saya) bahwa hanya ada 1 (satu ) mahasiswa AusAID Indonesia di school Y, Fakultas X, UNSW.
  7. Data dan asumsi di atas bisa saja salah karena itu saya tidak pernah gegabah dengan menuduh seseorang.

Dengan berbekal dugaan tersebut di atas saya kembali menghubungi orang IT school Y, dikonfirmasi bahwa sangat mungkin bagi mereka untuk mendapatkan identitas orang yang saya cari. Sebelum melakukan investigasi lanjut dia menyarankan, jika saya menganggap kejadian ini benar-benar suatu pelecehan dan menimbulkan ketidaknyamanan, saya bisa melaporkan kepada Federal Police karena dengan itu akan mudah dilakukan ekstraksi data dan orang yang saya cari ‘tertangkap’ dengan meyakinkan.
Pertanyaannya sekarang, haruskah saya melaporkan kejadian “kecil” ini kepada Federal Police dan selanjutnya akan terjadi kehebohan yang melibatkan anak bangsa saya sendiri? Bagaimana menurut Anda?