Eurolish

If I ask you to read these words and then tell me what they mean, I believe most of you won’t be able to explain what they are.

Zer, vil, mor, evrivun, ezi, ech, oza, Ze, drem, urop, tru, kum

However, shortly after reading this short story bellow, I am confident you will be mastering a new language 🙂

The European Commission has just announced an agreement whereby English will be the official language of the European Union rather than German, which was the other possibility.

As part of the negotiations, the British Government conceded that English spelling had some room for improvement and has accepted a 5-year phase-in plan that would become known as “Euro-English”.

In the first year, “s” will replace the soft “c”. Sertainly, this will make the sivil servants jump with joy.The hard “c” will be dropped in favour of “k”. This should klear up konfusion, and keyboards kan have one less letter.

There will be growing publik enthusiasm in the sekond year when the troublesome “ph” will be replaced with “f”. This will make words like fotograf 20% shorter.

In the 3rd year, publik akseptanse of the new spelling kan be expekted to reach the stage where more komplikated changes are possible. Governments will enkourage the removal of double letters which have always ben a deterent to akurate speling.

Also, al wil agre that the horibl mes of the silent “e” in the languag is disgrasful and it should go away. By the 4th yer people wil be reseptiv to steps such as replasing “th” with “z” and “w” with “v”.

During ze fifz yer, ze unesesary “o” kan be dropd from vords kontaining “ou” and after ziz fifz yer, ve wil hav a reil sensibl riten styl.

Zer vil be no mor trubl or difikultis and evrivun vil find it ezi tu understand ech oza. Ze drem of a united urop vil finali kum tru.

Und efter ze fifz yer, ve vil al be speking German like zey vunted in ze forst plas.

Selamat Hari Raya Kuningan


Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Kuningan, 15 Oktober 2005. Semoga Hyang Widhi melimpahkan kesentosan dan Kedirgayusan

Doa untuk Bangsa

Belakangan ini Bangsa Indonesia tidak henti-hentinya didera persoalan. Tidak saja penyelenggaraan kehidupan bernegara yang carut marut, alampun seakan tidak bersahabat. Di akhir tahun 2004, tsunami melanda dan menewaskan ratusan ribu korban di Aceh dan SUMUT. Menyusul gempa dan rangkaian bencana alam lainnya yang datang seakan berlomba, semuanya sedemikian rupa melantakkan Indonesia.
Minggu lalu, setelah 3 tahun berusaha bangkit dari keterpurukan, Bali kembali dikejutkan oleh bom yang menewaskan lebih dari 20 orang. Semua itu menjadikan penderitaan Indonesia seakan sempurna.

Masyarakat Indonesia di Sydney, atas prakarsa Konsulat Jendral yang dinakhodai Pak Wardana, kemarin sore melakukan doa bersama. Semua komponen agama diundang dan diminta memanjatkan doa untuk keselamatan dan kebagkitan Bangsa Indonesia. Meskipun menurut saya, dan bebrapa rekan lain [yang mungkin tidak mau disebut namanya – gimana De, mau disebut namanya nggak?] terdengar seperti doa politis [setidaknya ada doa yang bernada begitu], tapi ya dijalani saja. Toh doa akan dinilai oleh Tuhan, bukan manusia, apalagi oleh Konjen, nggak sama sekali. Namun demikian, usaha dari Pak Wardana dan rekan patut dihargai dan diacungi jempol.

Anyway, di sela kekhusukan, suasana juga meriah karena sekaligus sebagai ajang temu kangen masyarakat Indonesia di Sydney. Dan yang lebih penting lagi, acaranya di-pas-kan dengan buka puasa. Wah boleh juga nih, tidak ikut puasa tapi ikut buka he…he…

Di tengah kemeriahan suasana, sempat juga dilakukan foto-foto. Ima salah satu sponsornya 🙂 Kayaknya sih karena ada beberapa cowok cakep pakaian Bali, sehingga pada tertarik hi hi hi

Mau liat fotonya?


Cukup banyak yang datang, walaupun kebanyakan untuk buka puasa, bukan berdoa :). Kaya’nya cuma Ima deh yang pandangannya pas lihat kamera :)) [sekarang tahu kan, yang mana Ima! ]


Yang ini lumayan, banyak yang natap kamera 🙂 [sekarang tahu kan, mana idola, mana penggemarnya?]

PS. hak cipta foto ada pada pemilik kamera dan upload sudah melalui ijin resmi 🙂

Cara Baru hemat BBM


File ini dikirim Anto di milis TRISMA

Bingung Tentang Berhala!!!

Bukan, ini bukan berhala dalam pengertian yang berkaitan dengan keagaamaan 🙂 ini berhala yang lain, yaitu sebuah Pulau yang kini naik daun karena dibicarakan media masa.

Pasalnya, ANTARA News dan beberapa media lain memberitakan bahwa Malaysia telah mempromosikan Pulau tersebut sebagai daerah tujuan wisata handal mereka, sementara di satu sisi, FPPP DPRD Sumatra Utara meyakini, Pulau tersebut adalah milik Sumatera Utara.


Ilustrasi Lokasi ketiga Pulau Berhala yang berbeda (www.multimap.com)
Ada beberap hal yang perlu dikaji secara jernih tentang kasus ini.

  1. Menurut penelusuran di media masa dan penjelajahan peta yang diterbitkan oleh berbagai instansi melalui internet, bagi Indonesia sendiri ada dua Pulau Berhala yang berbeda.
  2. Pulau Berhala yang pertama (selanjutnya disebut Berhala 1), berada sekitar 48 mil laut dari Pelabuhan Belawan yang masuk dalam Propinsi Sumatera Utara. Pulau ini tidak berpenghuni dan telah dipasangi mercusuar sejak 1984. Hal ini bisa dilihat dari pemberitaan Kompas 26 Februari 2004.
  3. Pulau Berhala kedua (selanjutnya disebut Berhala 1), berada di Selat Berhala yang perihal kepemilikannya menjadi sengketa antara Provinsi Riau dengan Provinsi Jambi. Pulau ini, berbeda dengan Pulau Berhala pertama, ada penduduknya dan bahkan pada tahun 2003 telah dibanguni gedung sekolah dasar. Hal ini bisa dilihat dari banyak pemberitaan, salah satunya dari Kompas 19 April 2003.
  4. Berdasarkan pemberitaan oleh ANTARA, Pulau Berhala yang dimaksud adalah Berhala 1, sebuah pulau yang tidak berpenghuni dan masuk ke dalam daftar 12 pulau yang rawan terhadap sengketa perbatasan (dengan Malaysia). Hal ini diperkuat oleh pemberitaan Kompas tanggal 12 Maret 2005.
  5. Sementara itu, Malaysia sendiri jelas-jelas memiliki satu Pulau Berhala lain (selanjutnya disebut Berhala 3) yang berada di Teluk Sandakan, Pulau Borneo atas. Tanpa perdebatan, Pulau Berhala 3 ini dapat dipastikan merupakan wilayah Malaysia.
  6. Sayang sekali, berita ANTARA tidak secara jelas menyebutkan situs internet yang diacu oleh FPPP DPRD Sumut dalam melontarkan isu ini, sehingga tidak cukup jelas, Pulau Berhala mana yang sesungguhnya dimaksud oleh Malaysia.
  7. Secara umum, data dan informasi di media massa mengindikasikan bahwa yang dipromosikan oleh Malaysia adalah Berhala 3, bukan Berhala 1 atau 2. Hal ini bisa dilihat setidaknya dari salah satu situs resmi tentang Sabah, dan virtual malaysia.
  8. Dalam pemberitaan ANTARA, ada kejanggalan misalnya Malaysia yang dikatakan memasukkan Pulau Berhala ke wilayah Johor. Jika ini benar, maka secara geografis yang lebih mungkin adalah Berhala 2 karena lokasinya yang lebih dekat Johor dibandingkan Berhala 1. Akan tetapi, Berhala 2 ini perpenduduk, sehingga tidak konsisten dengan informasi lainnya.
  9. Jika poin no 7 di atas benar, maka sudah jelas bahwa isu ini terjadi hanya karena kekurangcermatan [baca: ketergesa-gesaan] FPPP DPRD Sumut dalam memahami persoalan yang sesungguhnya.
  10. Jika poin 7 tidak benar, atau dengan kata lain bahwa yang dipersoalkan memang Berhala 1, maka ada pendekatan lain yang harus dilakukan. dalam skenario penyelesaian konflik.
  11. Perlu diketahui bahwa perbatasan laut antara Indonesia dan Malaysia di Selat Malaka (di mana Berhala 1 berada) sudah disepakati tanggal 27 October 1969 dan diratifikasi tanggal 7 November 1969.
  12. Poin 11 berarti berarti bahwa sudah ada kejelasan pembagian teritori antara Indonesia dan Malaysia di Selat Malaka yang merupakan garis batas Landas Benua. Perjanjian ini juga dengan tegas menyebutkan bahwa Pulau Berhala adalah milik Indonesia (lihat tabel karakteristik titik batas pada perjanjian ini)
  13. Berbeda dengan kasus Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, yang memang dari awal tidak jelas kepemilikannya, posisi Pulau Berhala jelas dengan adanya garis batas laut antara Indonesia dan Malaysia. Dengan mengacu ini, maka seharusnya tidak ada hak Malaysia untuk merebut Pulau Berhala karena ini bisa dianggap expansi terhadap terirori sah negara lain.
  14. Sebagai tambahan, posisi hukum Indinesia cukup kuat dalam kasus ini karena Indonesia telah terbukti melakukan perawatan terhadap Pulau Berhala sebagai tindakan hukum sejak 1984 berupa pendirian mercusuar dan menjaganya secara berkesinambungan.
  15. Hasil analisa di atas adalah berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan dalam waktu satu malam. Perubahan pandangan (revisi) sangat mungkin terjadi seiring perkembangan dan keakuratan informasi yang diperoleh selanjutnya.

Sepasang Payudara

Apa istimewanya membicarakan bukit kembar di forum ini? Tidak ada. Seperti halnya tulisan lain, tidak ada yang lebih istimewa dari yang lain. Ini adalah sepucuk surat cinta untuk seorang ibu yang sedang merenung menahan kantuk karena menyusui putri kecilnya semalam suntuk.

Sepasang bukiit kembar itu dulu menawarkan gairah yang bahkan menembus hingga ke ubun-ubun. Aku bahkan pernah berusaha menghindar dengan susah payah dari godaannya, sering kali aku gagal. Tak pernah kubayangkan kemuliaannya sampai akhirnya pagi tadi kusaksikan mukjijat. Bukit itu adalah sumber kehidupan generasiku yang sekian lama dinanti.

Terpaku menyaksikan kenyataan, bukit itu kini jauh lebih mulia dari sekedar membangkitkan hasratku. Mereka menjalani peran hidup untuk menghidupi. Belum pernah terbayangkan rasanya menyentuh mereka hanya dengan cinta. Dan kini cinta itu tidak kepada mereka tetapi kepada generasi kecil yang didup oleh tetesan amerta dari mereka. Sangat mengagumkan.

Menatap mereka bekerjasama dengan sangat baik adalah kesempurnaan hidupku. Sinar pagi yang menembus jendela, memberi rona cerah yang menimpa wajah kecil putriku. Semangatnya memberi ispirasi, saat dikuasainya sepasang bukit kembar bundanya yang diserahkan dengan kepasrahan cinta.

Kelahiran

Satu persatu perempuan bersenyum lembut berdatangan dan kemudian pergi. Satu dua lelaki berkemeja rapi pun menghampiri. Mereka bercengkrama dan menawarkan senyum dan ketenangan, layaknya seorang pujangga yang adalah ahli puisi. Seorang dari mereka menyapa dan menanyakan keperkasaanmu pagi ini, apakah perjalanan jauh melewati jalan kelahiran akan melelahkanmu di senja nanti? Begitulah, mereka yang bersiaga menjagamu dan memastikan segala yang terbaik akan tersedia menemanimu menjalani lorong kelahiran yang entah seberapa panjangnya.

Satu pria rupawan lainya menghampiri. Dia banyak tersenyum dan sekali lagi menawarkan ketenangan kepadamu. Dia nampaknya tahu betul, jalanmu akan panjang dan berliku. Dia hanya memastikan, semuanya baik-baik saja.

Tepat senja, saat matahari mulai meliuk ke barat, tangan-tangan mereka meraih tubuhmu dan membaringkannya layaknya kamu kesukaan mereka. Dinding tenang yang sesekali dihiasi geritan roda tandumu menjadi irama. Engkau menuju sesuatu yang serius namun dinanti. Engkau akan menjalani peluruhan rasa sehingga semua terjadi dalam sekejap mata, tanpa perlu engkau derita.

Tepat ketika putaran ketigapuluh usai, mimpi mulai berdatangan dan kini engkau melambung menembus langit ketujuh. Inilah awal dari perjalan panjang melintasi lorong kelahiran itu. Ringisan yang sesekali menyembul dari bibirmu, bagi mereka adalah keniscayaan yang telah dinikmati turun temurun. Rintihan itu kini adalah lagu pengantar suka cita mereka karena dengan begitu mereka dihargai.

Aku memeluk tangan dinginmu dan membandingkannya dengan galau hatiku. Keduanya sama gelisah dengan janji kebaikan yang sesungguhnya juga tidak pernah pasti adanya. Aku bertahan memelukmu dengan satu janji alam di pagi hari “engkau akan menikmati kegelisahannya, walau kelak di saat senja” Aku terlanjur memahami dan menyetujuinya.

Empat belas putaran berlalu ketika tangis itu menyeruak dan kelahiran, ternyata telah terlewati dengan nyaris sempurna. Aku yang terpaku, tidak sadar akan kecepatan dan kesungguhan acara ini, hanya bisa mengumbar senyum yang tergantung dengan tanggung. Dunia telah menyambut dan kini kujadikan buah ragamu sebagai anakku.

Puja Malam

[doa untuk anak istri]

//www.sendflowerstomumbai.com/images/diwali_gift_1.jpgAku menghampirimu yang terlelap bersama mimpi yang mungkin tak bertepi. Sayup kudengar nafas yang menebarkan ketenangan tak berdosa tanpa prasangka. Ini adalah malam keseribu aku melakukannya lagi, mendekati dan mendaratkan kecupanku di keningmu. Saatnya Puja Malam seperti malam-malam lainnya ketika kita semestinya khusuk berdoa.

Aku mendekatkan wajah pada tubuhmu yang tetap tidak bergerak dan membiarkanku menjelajahi setiap lekuk ragamu. Seperti biasa, aku menyempatkan diri mengamati satu-persatu tarikan nafasmu dan getaran tanda-tanda kepulasan yang dalam. Aku semakin mencintaimu. Cinta yang kini tidak saja untuk satu tetapi dua, semenjak kau kabulkan nafsuku menebar benih generasiku di rahimmu. Di Puja malam kali ini, aku tidak mendoakan tetapi mengajakmu dan generasi kita berdoa bersama.

Puja malam ini, seperti juga puja hari kemarin, tidak untuk memohonkan keterhindaran dari marabahaya tetapi untuk kekuatan menghadapinya. Tidak juga Puja ini untuk menghindarkan kita dari keterpurukan tetapi untuk kebijaksanaan menyambutnya. Puja ini tentu saja tidak untuk dicintai tetapi demi kekuatan untuk mencintai. Bukan permohonan untuk dikasihi tetapi untuk ketulusan mengasihi. Begitulah puja ini seperti yang diajarkan Tagore kepada generasi manusia.

Aku membenamkan kepala dalam-dalam seakan ingin menerobos ke dalam perutmu. Ingin kulambaikan tanganku sendiri kepada generasi penerusku, mengajaknya melakukan puja malam ini. Ingin kubisikkan sendiri Mantram Gayatri ini di telinganya, seraya melantunkan lagu-lagu indah semua agama yang dipenuhi dengan cinta. Ingin kuajarkan sedari pagi manisnya perbedaan, sebelum aku menyerahkan diri, pasrah kepada kekuasaan sang malam.

Aku gagal!

[waktunya menasihati diri sendiri]

Terlalu sering rasanya mendengar bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Runyamnya lagi, kata-kata itu sering terlontar bahkan dari mulut sendiri ketika dengan dagu terangkat menasihati kawan yang sedang kesusahan. Sekarang, kata-kata itu tiba-tiba menjadi bumerang yang tajam, ganas menghujam hulu hati.

Ya, aku telah merasakan kegagalan itu. Dan kali ini, datang bertubi menderu seakan tak berniat memberi ampun. Menerima kegagalan, tanpa ditanya lagi, sangat menyakitkan. Kesal, dongkol, dan semua perasaan negatif lainya tumbuh dengan suburnya. Tabiat malas menjadi sangat mudah muncul, sifat iri seperti meluap dan mau tumpah tak terkendali. Dengki pun menjadi sahabat kesaharian. Keindahan serentak menjelma menjadi kekacauan, senyum tiba-tiba menjadi cibir dan belas kasihan beralih menjadi hinaan. Ketika kegagalan datang, cinta pun seakan tidak kuasa dan berubah rupa menjadi benci tak tertahankan.

Sebegitu dahsyatkah kegagalan yang memporak-porandakan kebenaran umum yang selama ini nyaris sempurna berlaku tanpa cacat cela? Ya setidaknya itu yang terjadi bagi sang aku yang tidak akrab dengan kegagalan. Jika ada orang yang terpuruk paling lama karena kegagalan kecil, orang semacam inilah yang menempati urutan pertama. Keberhasilan yang memanjakan telah membuatnya lupa belajar dan lupa menyiapkan diri menjadi hina dan terdesak.

Apa yang bisa dilakukan sekarang?
Setelah merenung cukup lama, membiarkan badan dan pikiran terbuai oleh hari yang bergerak malas, akhirnya hanya ada satu jalan yang paling tepat, bangkit! Ya benar, istilah klasik itulah yang dengan terpaksa ditemukan kembali. Jika memang benar ada nasihat paling ampuh untuk membalik kegagalan menjadi keberhasilan yang sempat tertunda, barangkali inilah saat yang tepat menasihati diri sendiri.

Tidak ada yang jatuh dari langit, semua harus diperjuangkan. Benar kata pepetah lama, tidak ada cara yang paling ampuh untuk betah di rumah selain mencoba lebih lama tinggal di dalamnya.

Keresahan itu Bernama FATWA

Memandang langit-langit kamar yang yang muram oleh debu yang terperangkap di jaring laba-laba membuat pikiran semakin penat. Berkali kupaksa mata terpejam, tetapi tidak bisa. Pikiran sedang penuh sesak oleh banyak sekali hal yang tertunda.

Aku melesat menuju alam kedua, mencoba melayangkan pertanyaanku pada sekumpulan malaikat yang sedang serius bekerja. “Pikiranku terganggu”, kataku dengan memelas. “Kenapa?” Malaikat satu bertanya. “Aku tidak tahu dan tidak yakin, apakah harus mengikui anjuran para pemuka atau tidak. Mereka baru saja mengeluarkan Fatwa”. “Eh.. Fatwa, apa pula itu?” Malaikat lain menimpali. “Ah masak malaikat tidak tahu, Fatwa itu lo yang mengharamkan ini itu”. “Oh itu, kalau itu aku tahu… tentang guyon itu, ya kan bukan pertama kali dikeluarkan. Itu namanya mati ketawa ala pemuka”. Malaikat ketiga tergelak.

“Kamu tak usah bingung lah. Sudah makan siang kau?”. Satu lagi malaikat bertanya. “Belum malaikat, belum gajian.” jawabku resah. “Weleh-weleh… makan siang saja belum, wajar kalau kau bingung soal guyon begitu. Sekarang pergi sana, tagih gajimu, terus beli makan. Besok, kalau sudah kenyang kau datang lagi ke sini. Baru kita diskusi soal Fatwa.”