Seorang mertua bercerita tentang kehidupan masa lalu di mana eyang putri menitipkan pusaka pada generasinya. Pusaka yang katanya akan menjaga kami. Menjaga dari gigitan nyamuk yang mematikan, menjaga dari sengatan lalat yang melumpuhkan. Pusaka ini adalah ketahanan hati.
Kelak, kata eyang putri, ketika orang di kerajaan manusia tinggal setengah, bumi tenggelam, laut melahap daratan dan gunung-gunung marah menumpahkan ludah api, saat itulah yang mati akan bangkit kembali. Mereka yang mati dan belum menyelesaikan bhaktinya, akan hidup melalui tubuh-tubuh tanpa pikiran. Mereka datang meresahkan, membalikkan keyakinan orang-orang yang mapan di jamannya. Ini pasti, kata eyang putri, karena ritual leluhur telah terhinakan.