Ayah dan Anak


Ketika aku melihatmu menangis tiada henti tanpa sebab seraya memejamkan mata seakan tidak peduli dan tidak mau mendengarkan, aku ingin menghukummu. Tetapi ketika kupikir lagi, bahwa ketika kecil seumurmu, aku barangkali adalah anak yang jauh lebih menyusahkan ibuku, aku mengurungkannya. Aku membatalkan hukumanku seperti ibuku yang dulu juga tidak pernah menyesali kenakalanku.

Ketika aku menahan gelisah, kantuk, dan geram karena melihatmu yang tidak lekas tertidur di hari yang kian larut, aku ingin memberi sanksi. Ingin aku memaksamu menuruti disiplin yang aku tetapkan atas nama keangkuhan pengetahuan yang aku gamit dari ceceran ilmu di padang ilalang pendidikan. Tetapi ketika kupikir lagi, bahwa ketika aku seusiamu, aku pastilah seorang yang tidak penurut, jauh dari patuh dan menghiasi hari-hari ibuku dengan pemberontakan-pemberontakan, aku mengurungkan niatku. Aku membatalkan sanksiku, seperti ibuku dulu yang juga pasti sedih tetapi tidak pernah melampiskan kekecewaannya dengan kekerasan. Cintanya membuat aku menjadi lebih baik.

Maka seperti pendahuluku yang tidak mendidikku dengan ilmu mumpuni, pun tidak dengan ijasah sarjana, aku juga ingin mendidikmu dengan naluri dan cintaku. Cinta yang tidak seperti pengetahun akan kehilangan arah ketika tidak ada kitab pegangan. Cinta yang akan selalu mendatangkan jalan keluar di tengah kekalutan apapun. Itu karena aku ingin menjadi bagian dari hidupmu yang deritanya akan sama ketika engkau menderita dan bahagianya akan setara ketika engkau bahagia. Aku ingin menjadi bagianmu tanpa harus mendiktemu untuk menjadi ini atau itu.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?