[doa untuk anak istri]
Aku menghampirimu yang terlelap bersama mimpi yang mungkin tak bertepi. Sayup kudengar nafas yang menebarkan ketenangan tak berdosa tanpa prasangka. Ini adalah malam keseribu aku melakukannya lagi, mendekati dan mendaratkan kecupanku di keningmu. Saatnya Puja Malam seperti malam-malam lainnya ketika kita semestinya khusuk berdoa.
Aku mendekatkan wajah pada tubuhmu yang tetap tidak bergerak dan membiarkanku menjelajahi setiap lekuk ragamu. Seperti biasa, aku menyempatkan diri mengamati satu-persatu tarikan nafasmu dan getaran tanda-tanda kepulasan yang dalam. Aku semakin mencintaimu. Cinta yang kini tidak saja untuk satu tetapi dua, semenjak kau kabulkan nafsuku menebar benih generasiku di rahimmu. Di Puja malam kali ini, aku tidak mendoakan tetapi mengajakmu dan generasi kita berdoa bersama.
Puja malam ini, seperti juga puja hari kemarin, tidak untuk memohonkan keterhindaran dari marabahaya tetapi untuk kekuatan menghadapinya. Tidak juga Puja ini untuk menghindarkan kita dari keterpurukan tetapi untuk kebijaksanaan menyambutnya. Puja ini tentu saja tidak untuk dicintai tetapi demi kekuatan untuk mencintai. Bukan permohonan untuk dikasihi tetapi untuk ketulusan mengasihi. Begitulah puja ini seperti yang diajarkan Tagore kepada generasi manusia.
Aku membenamkan kepala dalam-dalam seakan ingin menerobos ke dalam perutmu. Ingin kulambaikan tanganku sendiri kepada generasi penerusku, mengajaknya melakukan puja malam ini. Ingin kubisikkan sendiri Mantram Gayatri ini di telinganya, seraya melantunkan lagu-lagu indah semua agama yang dipenuhi dengan cinta. Ingin kuajarkan sedari pagi manisnya perbedaan, sebelum aku menyerahkan diri, pasrah kepada kekuasaan sang malam.