Puja Malam

[doa untuk anak istri]

//www.sendflowerstomumbai.com/images/diwali_gift_1.jpgAku menghampirimu yang terlelap bersama mimpi yang mungkin tak bertepi. Sayup kudengar nafas yang menebarkan ketenangan tak berdosa tanpa prasangka. Ini adalah malam keseribu aku melakukannya lagi, mendekati dan mendaratkan kecupanku di keningmu. Saatnya Puja Malam seperti malam-malam lainnya ketika kita semestinya khusuk berdoa.

Aku mendekatkan wajah pada tubuhmu yang tetap tidak bergerak dan membiarkanku menjelajahi setiap lekuk ragamu. Seperti biasa, aku menyempatkan diri mengamati satu-persatu tarikan nafasmu dan getaran tanda-tanda kepulasan yang dalam. Aku semakin mencintaimu. Cinta yang kini tidak saja untuk satu tetapi dua, semenjak kau kabulkan nafsuku menebar benih generasiku di rahimmu. Di Puja malam kali ini, aku tidak mendoakan tetapi mengajakmu dan generasi kita berdoa bersama.

Puja malam ini, seperti juga puja hari kemarin, tidak untuk memohonkan keterhindaran dari marabahaya tetapi untuk kekuatan menghadapinya. Tidak juga Puja ini untuk menghindarkan kita dari keterpurukan tetapi untuk kebijaksanaan menyambutnya. Puja ini tentu saja tidak untuk dicintai tetapi demi kekuatan untuk mencintai. Bukan permohonan untuk dikasihi tetapi untuk ketulusan mengasihi. Begitulah puja ini seperti yang diajarkan Tagore kepada generasi manusia.

Aku membenamkan kepala dalam-dalam seakan ingin menerobos ke dalam perutmu. Ingin kulambaikan tanganku sendiri kepada generasi penerusku, mengajaknya melakukan puja malam ini. Ingin kubisikkan sendiri Mantram Gayatri ini di telinganya, seraya melantunkan lagu-lagu indah semua agama yang dipenuhi dengan cinta. Ingin kuajarkan sedari pagi manisnya perbedaan, sebelum aku menyerahkan diri, pasrah kepada kekuasaan sang malam.

Aku gagal!

[waktunya menasihati diri sendiri]

Terlalu sering rasanya mendengar bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Runyamnya lagi, kata-kata itu sering terlontar bahkan dari mulut sendiri ketika dengan dagu terangkat menasihati kawan yang sedang kesusahan. Sekarang, kata-kata itu tiba-tiba menjadi bumerang yang tajam, ganas menghujam hulu hati.

Ya, aku telah merasakan kegagalan itu. Dan kali ini, datang bertubi menderu seakan tak berniat memberi ampun. Menerima kegagalan, tanpa ditanya lagi, sangat menyakitkan. Kesal, dongkol, dan semua perasaan negatif lainya tumbuh dengan suburnya. Tabiat malas menjadi sangat mudah muncul, sifat iri seperti meluap dan mau tumpah tak terkendali. Dengki pun menjadi sahabat kesaharian. Keindahan serentak menjelma menjadi kekacauan, senyum tiba-tiba menjadi cibir dan belas kasihan beralih menjadi hinaan. Ketika kegagalan datang, cinta pun seakan tidak kuasa dan berubah rupa menjadi benci tak tertahankan.

Sebegitu dahsyatkah kegagalan yang memporak-porandakan kebenaran umum yang selama ini nyaris sempurna berlaku tanpa cacat cela? Ya setidaknya itu yang terjadi bagi sang aku yang tidak akrab dengan kegagalan. Jika ada orang yang terpuruk paling lama karena kegagalan kecil, orang semacam inilah yang menempati urutan pertama. Keberhasilan yang memanjakan telah membuatnya lupa belajar dan lupa menyiapkan diri menjadi hina dan terdesak.

Apa yang bisa dilakukan sekarang?
Setelah merenung cukup lama, membiarkan badan dan pikiran terbuai oleh hari yang bergerak malas, akhirnya hanya ada satu jalan yang paling tepat, bangkit! Ya benar, istilah klasik itulah yang dengan terpaksa ditemukan kembali. Jika memang benar ada nasihat paling ampuh untuk membalik kegagalan menjadi keberhasilan yang sempat tertunda, barangkali inilah saat yang tepat menasihati diri sendiri.

Tidak ada yang jatuh dari langit, semua harus diperjuangkan. Benar kata pepetah lama, tidak ada cara yang paling ampuh untuk betah di rumah selain mencoba lebih lama tinggal di dalamnya.

Keresahan itu Bernama FATWA

Memandang langit-langit kamar yang yang muram oleh debu yang terperangkap di jaring laba-laba membuat pikiran semakin penat. Berkali kupaksa mata terpejam, tetapi tidak bisa. Pikiran sedang penuh sesak oleh banyak sekali hal yang tertunda.

Aku melesat menuju alam kedua, mencoba melayangkan pertanyaanku pada sekumpulan malaikat yang sedang serius bekerja. “Pikiranku terganggu”, kataku dengan memelas. “Kenapa?” Malaikat satu bertanya. “Aku tidak tahu dan tidak yakin, apakah harus mengikui anjuran para pemuka atau tidak. Mereka baru saja mengeluarkan Fatwa”. “Eh.. Fatwa, apa pula itu?” Malaikat lain menimpali. “Ah masak malaikat tidak tahu, Fatwa itu lo yang mengharamkan ini itu”. “Oh itu, kalau itu aku tahu… tentang guyon itu, ya kan bukan pertama kali dikeluarkan. Itu namanya mati ketawa ala pemuka”. Malaikat ketiga tergelak.

“Kamu tak usah bingung lah. Sudah makan siang kau?”. Satu lagi malaikat bertanya. “Belum malaikat, belum gajian.” jawabku resah. “Weleh-weleh… makan siang saja belum, wajar kalau kau bingung soal guyon begitu. Sekarang pergi sana, tagih gajimu, terus beli makan. Besok, kalau sudah kenyang kau datang lagi ke sini. Baru kita diskusi soal Fatwa.”