Pejantan itu Tersungkur


Pejantan itu tersungkur tak berkutik. Terjerembab di bawah tumpukan puing kesombongan yang diusungnya sekian lama. Bukit keangkuhan itu baru saja tumbang lantak mengenaskan dan runtuh menimpa dinding hatinya yang ternyata rapuh.
Pejantan itu tergeletak tak berdaya, lemah tak mampu bangkit karena beban yang dibuatnya sendiri membebani kepala dan hatinya. Jadilah dia seorang makhluk pucat yang rapuh oleh hembusan angin senja.
Terlalu lama Sang Pejantan terbuai di singgasana yang membuatnya lupa belajar. Terlalu lama dihabiskannya waktu dengan menuai kesejahteraan tanpa banyak berikhtiar. Dia telah dimanjakan oleh waktu yang menjadikannya kehilangan kepekaan. Tangis, ratap dan penyesalan tiba-tiba tidak terdengar dan semuanya justru mempekeruh suasana. Akhirnya dia memilih untuk diam, mengamati setiap tarikan nafas dan aliran darah dalam pembuluhnya. Semua itu mengingatkan dia tentang semangat yang semestinya tidak pernah berhenti. Biarlah tubuh ini menikmati kesunyian seraya mengumpulkan sisa kesombongan untuk sesuatu yang tidak saja lebih besar tetapi juga lebih tangguh dan lebih bijaksana di saat kelak.

Unknown's avatar

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Pejantan itu Tersungkur”

  1. Ehm……..sedikit menambah semangat….yap,kita memang harus belajar dari pengalaman yang lalu….never make our mind and soul are again trapped in same bad&black condition………

Bagaimana menurut Anda? What do you think?